Kenaikan Harga Pertamax Picu Migrasi Pengendara ke Pertalite
Lonjakan harga bahan bakar minyak nonsubsidi jenis Pertamax memicu masyarakat pemilik kendaraan bermotor mempertimbangkan migrasi konsumsi ke Pertalite. Langkah penurunan kelas konsumsi bensin ini diambil demi menekan pengeluaran harian di tengah tekanan kenaikan biaya hidup yang kian membengkak pada tahun 2026. Penyesuaian harga komoditas tersebut tercatat sangat signifikan karena meroket dari angka semula Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter.
Selisih harga yang menembus angka Rp6.000 per liter ini dinilai menjadi beban finansial berat bagi masyarakat, terutama bagi pengendara yang memiliki tingkat mobilitas tinggi setiap hari. Berdasarkan simulasi hitungan, pemilik mobil yang membutuhkan pengisian bensin sebanyak 40 liter dalam satu minggu dapat menghemat anggaran hingga ratusan ribu rupiah per bulan jika beralih ke Pertalite. Efisiensi di sektor transportasi ini dipandang oleh sebagian besar konsumen sebagai solusi instan paling logis untuk menjaga stabilitas finansial rumah tangga.
Kendati menawarkan penghematan langsung secara ekonomi, keputusan bermigrasi ke Pertalite memiliki risiko teknis yang cukup besar pada mesin kendaraan modern. Pertamax diproduksi dengan standar angka oktan atau Research Octane Number (RON) 92 yang diformulasikan khusus untuk mesin berkompresi tinggi, sedangkan Pertalite hanya memiliki standar RON 90.
Penggunaan bahan bakar beroktan lebih rendah pada mesin berkompresi tinggi dapat memicu meledaknya campuran udara dan bensin sebelum waktunya akibat tekanan piston. Fenomena teknis yang dikenal sebagai gejala ngelitik atau knocking ini berpotensi merusak komponen piston, mengikis dinding silinder, serta menurunkan performa mesin secara drastis dalam jangka panjang. Kondisi pembakaran tidak sempurna dari bahan bakar RON 90 juga dipastikan menyisakan tumpukan kerak karbon di dalam ruang mesin. Dampaknya, tingkat konsumsi bensin justru menjadi lebih boros karena mesin harus bekerja lebih keras untuk menghasilkan daya yang sama.
Akibat penumpukan kerak karbon tersebut, pemilik kendaraan harus melakukan jadwal servis dan pembersihan ruang bakar secara lebih sering ke bengkel. Potensi penghematan dana dari selisih harga beli bensin di awal pun berisiko habis untuk membayar biaya perbaikan dan perawatan mesin tambahan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow