Kepsek SMP Bogor Kecewa Siswi Ditampar Alumni, Selesaikan Secara Kekeluargaan

Smallest Font
Largest Font

Tiga siswi SMP Negeri 3 Kota Bogor menjadi korban perundungan hingga ditampar oleh alumni di sekitar wilayah Malabar, Kecamatan Bogor Tengah, pada Selasa (11/8/2026).

Kejadian ini memicu kekhawatiran pihak sekolah dan keluarga korban, yang kemudian menyelesaikan masalah tersebut secara kekeluargaan tanpa melibatkan jalur hukum, menurut laporan dari Kepolisian Polsek Bogor Tengah.

Kanit Reskrim Polsek Bogor Tengah Ipda Budi Setiawan menjelaskan bahwa pelaku berjumlah tiga orang, terdiri dari dua perempuan dan satu laki-laki yang masih di bawah umur. Kasus ini bermula dari gosip yang menyebar mengenai korban.

"Jadi peristiwa tersebut berawal dari korban ini ada yang menyampaikan berita bahwa dia tersebut sering ada yang membicarakan, bahwa di tempat kosnya sering begadang malam atau suka ada teman-teman cowok yang main," ujar Budi.

Polisi dan pihak sekolah langsung melakukan mediasi antara keluarga korban dan pelaku. Kedua belah pihak sepakat menyelesaikan persoalan tanpa membawa ke ranah hukum dan berakhir damai.

"Betul, untuk masalah hukumnya adalah disepakati oleh pihak keluarga korban, karena menimbang bahwa usia anak yang juga masih di bawah umur, sehingga berkesimpulan bahwa permasalahan tersebut diselesaikan secara kekeluargaan, tidak sampai dibawa ke ranah hukum," kata Budi.

Kepala Sekolah SMP Negeri 3, Reni Supriyati, menyampaikan kekecewaan atas kejadian ini dan menegaskan bahwa pihak sekolah menginginkan agar siswanya merasa aman dan nyaman bersekolah.

"Saya mewakili dari SMP merasa juga kecewa dengan adanya kejadian ini, kami tidak menyangka adanya kejadian ini. Jadi tiga siswa SMP Negeri itu menjadi korban pembullyan," kata Reni.

Reni menambahkan bahwa pihak sekolah mengambil langkah mengumpulkan semua pihak terkait, termasuk keluarga korban dan pelaku, untuk membahas pertanggungjawaban dan keamanan agar kejadian serupa tidak terulang.

"Kenapa kami berinisiatif mengumpulkan anak-anak dan juga mengundang pihak sekolah dari siswa yang membully anak-anak kami, bukan untuk mencari kesalahan," ujar Reni.

"Tetapi untuk pertanggungjawaban dan keamanan dan ke depan seperti apa untuk melindungi anak-anak kami, seperti apa supaya anak-anak kami tidak takut untuk bersekolah, khawatir apabila tidak dipertemukan akan terulang lagi," lanjutnya.

Setelah kejadian viral di media sosial, pihak sekolah menyediakan pendampingan intensif bagi tiga korban, yang masih duduk di kelas 8, melalui guru Bimbingan Konseling (BK) dan bagian kesiswaan.

"Dari kemarin setelah kami tahu ada kejadian ini, mereka itu terus didampingi oleh BK," kata perwakilan sekolah.

Polisi memastikan kasus ini terjadi pada Selasa (11/8/2026) sekitar pukul 15.00 WIB di sebuah gang dekat sekolah. Semua pelaku dan korban masih di bawah umur. Polisi terus mendalami kronologi dan motif peristiwa tersebut.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed