Khatib Bahas Hikmah Kurban dan Hari Tasyrik dalam Khutbah Jumat

Smallest Font
Largest Font

Para khatib memanfaatkan momentum Jumat terakhir pada 29 Mei 2026 yang bertepatan dengan hari kedua Tasyrik atau 12 Dzulhijjah untuk menyampaikan khutbah Jumat mengenai esensi dan edukasi ibadah kurban. Berbagai lembaga keagamaan menyediakan materi khutbah yang berfokus pada keikhlasan, ketakwaan, serta dimensi sosial setelah Hari Raya Iduladha.

Hari Tasyrik merujuk pada tiga hari setelah Idul Adha, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah, di mana umat Islam dilarang berpuasa dan dianjurkan mengoptimalkan amalan sunnah termasuk menyembelih hewan kurban. Dilansir dari berita detik.com dan mediakompeten.co.id, penyembelihan hewan kurban masih diperbolehkan hingga hari Tasyrik berakhir sesuai petunjuk Nabi SAW.

Materi khutbah dari Muhammadiyah menegaskan kurban memiliki landasan historis dan naqli yang kokoh sebagai wujud ketakwaan. Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail menjadi contoh utama ketaatan yang luar biasa dalam menyerahkan segalanya untuk Allah SWT.

"Tatkala anak itu cukup umur, Ibrahim berkata: Anakku, aku bermimpi menyembelihmu. Apa pendapatmu? Ismail menjawab: Ayah, laksanakan perintah itu. Insya Allah, aku sabar..." kata Allah SWT dalam Al-Qur'an Surah ash-Shaffat ayat 102.

Kejadian tersebut disusul dengan penegasan dari Rasulullah SAW mengenai keutamaan pahala bagi umat yang melaksanakannya. Hadis ini mengonfirmasi keabsahan dalil sejarah dari syariat umat terdahulu.

"Mereka bertanya: Wahai Rasulullah, apa itu kurban? Beliau jawab: Sunnah ayahmu Ibrahim. Mereka tanya: What pahalanya? Beliau jawab: Tiap bulu mendatangkan kebaikan." ujar Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Imam Ahmad dan Ibnu Majah dari Zaid bin Arqam.

Perintah berkurban juga termaktub secara jelas dalam beberapa surah al-Qur'an lainnya sebagai bentuk rasa syukur hamba kepada Pencipta. Kewajiban atau penekanan ibadah ini ditujukan kepada umat Islam yang memiliki kelapangan harta.

"Salatlah untuk Tuhanmu dan berkurbanlah." firman Allah SWT dalam Surah al-Kautsar ayat 2.

Bagi umat Islam yang telah memiliki kemampuan finansial namun enggan berkurban, Nabi Muhammad SAW memberikan sebuah peringatan keras mengenai sikap tersebut.

"Siapa mampu berkurban tapi tidak melakukannya, jangan dekati tempat shalat kami." tegas Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Imam Ahmad dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah.

Batas waktu pelaksanaan penyembelihan hewan kurban sendiri mencakup seluruh rangkaian hari-hari Tasyrik setelah hari raya. Hal ini memberikan kelonggaran waktu bagi masyarakat untuk mendistribusikan daging kurban.

"Semua hari Tasyriq adalah hari menyembelih." sabda Rasulullah SAW dalam riwayat Imam Ahmad dari Jubair ibn Muth'im.

Setiap bulu dari hewan yang dikurbankan dijanjikan mendatangkan kebaikan yang berlipat ganda di sisi Allah SWT. Ibadah ini sekaligus menjadi simbol pengabdian dan kerelaan berbagi.

"Setiap bulu kurban mendatangkan kebaikan." ucap Rasulullah SAW.

Ibadah kurban juga mendidik umat untuk memiliki kepedulian sosial dan mengikis ego pribadi demi membantu kaum fakir miskin. Allah SWT menjadikannya sebagai bagian dari syiar Islam yang agung.

"Kami jadikan unta-unta itu syiar Allah. Ada kebaikan besar di dalamnya..." firman Allah SWT dalam Surah al-Hajj ayat 36.

Berdasarkan materi khutbah dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Digital yang dikutip mediakompeten.co.id, mengagungkan syiar Allah merupakan tanda ketakwaan hati seseorang. Pengorbanan harta berfungsi sebagai penawar terhadap penyakit hati seperti keserakahan.

"Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati." firman Allah SWT dalam Surah Al-Hajj ayat 32.

Tujuan utama ibadah ini dibahas pula oleh para ulama terdahulu untuk menjelaskan kemaslahatan di tengah masyarakat. Imam an-Nawawi menjelaskan urgensi memberi kelapangan bagi kaum dhuafa melalui ibadah ini.

"Tujuan ibadah qurban adalah mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala, menghidupkan sunnah Nabi Ibrahim 'Alaihissalam, dan memberi kelapangan kepada keluarga serta orang-orang fakir." jelas Imam an-Nawawi dalam kitab Al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab.

Sementara itu, khutbah dari NU Banten menerangkan tujuh hikmah kurban termasuk aktualisasi rasa syukur dan belajar ikhlas. Nilai ketakwaan dari individu menjadi hal yang paling utama untuk menggapai keridaan Allah SWT.

"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya." firman Allah SWT dalam Surah Al-Hajj ayat 37.

Khutbah NU Lampung menambahkan bahwa rangkaian ibadah di bulan Dzulhijjah ini menghapus stratifikasi sosial dan rasisme di masyarakat. Manusia memiliki derajat yang sama di hadapan Allah SWT kecuali tingkat ketakwaannya.

"Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti." firman Allah SWT dalam Surah Al-Hujurat ayat 13.

Melansir kaltim.inews.id, khutbah Jumat edisi 29 Mei 2026 juga menerangkan sejarah awal kurban yang sudah dilakukan sejak generasi pertama umat manusia oleh anak Nabi Adam AS yakni Habil dan Qabil.

"Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua anak Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya. Ketika keduanya mempersembahkan qurban, maka diterima (qurban itu oleh Allah) dari salah seorang dari keduanya (qurban milik Habil) dan tidak diterima (qurban) dari yang lain (milik Qabil). Ia (Qabil berkata: Aku pasti akan membunuhmu. Berkatalah (Habil): Sesungguhnya Allah (hanya) menerima (qurban) dari orang-orang yang bertaqwa." firman Allah SWT dalam Surah Al-Mâ'idah ayat 27.

Syariat kurban ini dilestarikan dalam syariat Nabi Ibrahim AS saat diperintahkan menyembelih putranya, Nabi Ismail AS, sebelum akhirnya diganti seekor domba dari surga. Percakapan dialogis antara ayah dan anak tersebut menggambarkan kematangan spiritual yang tinggi.

"Maka tatkala anak itu (Ismail) telah sampai (pada usia sanggup) berusaha bersama-sama (Ibrahim), (Ibrahim) berkata: Wahai puteraku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu?. (Ismail) menjawab: Wahai ayahku, laksanakanlah apa yang diperintahkan (oleh Allah) kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang bersabar." firman Allah SWT dalam Surah as-Shâffât ayat 102.

Allah SWT tidak menyia-nyiakan kesabaran dan pengorbanan hamba-Nya dengan memberikan ganjaran berupa pujian baik serta keselamatan. Predikat mulia disematkan langsung kepada Nabi Ibrahim AS.

"Dan kami tebus anak itu (Ismail) dengan seekor sembelihan yan besar. Kami abadikan untuk Ibrahim pujian yang baik di kalangan kaum-kaum sesudahnya. Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim. Demikianlah Kami membalas orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman." firman Allah SWT dalam Surah as-Shâffât ayat 107-111.

Perintah qurban kemudian dipertegas oleh Rasulullah SAW bagi yang mampu, sehingga melahirkan perbedaan pandangan hukum di antara para ulama mazhab. Imam Abu Hanifah, Imam Maliki, dan Imam Ahmad berpendapat hukumnya wajib, sedangkan mazhab As-Syafi’i menyatakan sunnah mu’akkadah.

"Barang siapa yang mampu namun tidak berqurban, maka jangan sekali-kali ia mendekati tempat shalat (Iedul Adha) kami (HR. Ibnu Majah dan Ahmad)." sabda Rasulullah SAW dari riwayat Abi Hurayrah RA.

Berdasarkan ulasan dari kumparan.com yang mengutip situs jombang.nu.or.id, momentum setelah Idul Adha ini turut dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan kemanusiaan, cinta tanah air, menjaga ukhuwah, serta merawat persatuan bangsa demi menciptakan lingkungan yang damai.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    1
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    1
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed