Kim Yo Jong Olok-olok Korsel setelah Trump Kurangi Latihan Militer

Smallest Font
Largest Font

Kim Yo Jong, adik pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, mengolok-olok Korea Selatan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memerintahkan pengurangan latihan militer gabungan antara AS dan Korea Selatan. Kim Yo Jong menilai penghentian latihan secara tiba-tiba tanpa diskusi adalah kekacauan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan menyebut Korea Selatan sebagai "militer boneka" yang tidak berani mengeluarkan protes. "Seoul ditempatkan dalam posisi yang menyedihkan di mana mereka harus meninggalkan 'latihan perang' favorit mereka karena satu pernyataan dari Trump," kata Kim Yo Jong, dilansir dari Korea JoongAng Daily.

Dia juga menyindir Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung, yang menyebut pengurangan latihan sebagai fase baru hubungan antar-Korea, dengan mengatakan, "Penguasa Seoul mencoba mengalihkan perhatian dengan menyebut sebagai kesempatan untuk beralih ke fase baru atau titik awal baru yang bisa membawa perubahan dalam hubungan, siapapun bisa melihat ini adalah alasan yang lemah."

Pernyataan ini muncul setelah Trump mengumumkan pengurangan latihan militer gabungan dengan alasan hubungan baik dengan Kim Jong Un dan menilai latihan tersebut dapat menimbulkan permusuhan. Di sisi lain, Korea Selatan mendeteksi setidaknya 10 rudal balistik jarak pendek diluncurkan oleh Korea Utara ke arah laut di sebelah timur Semenanjung Korea, yang dikutuk oleh pemerintah Korsel sebagai pelanggaran serius terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB.

"Peluncuran rudal balistik ini merupakan tindakan serius yang melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB," ujar kantor kepresidenan Korea Selatan. Presiden AS Donald Trump menyatakan keinginannya untuk kembali bertemu dengan Kim Jong Un pada akhir tahun ini, tetapi Pyongyang memberikan syarat berat untuk pertemuan tersebut, termasuk perubahan besar kebijakan AS terhadap Korea Utara.

"Amerika Serikat tetap terbuka terhadap dialog dengan Korea Utara tanpa prasyarat. Presiden dan Kim Jong Un akan bertemu lagi pada waktu yang tepat," kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS. Namun, Kim Yo Jong membantah adanya kontak terbaru antara Trump dan kakaknya serta menilai pengurangan latihan militer tetap agresif dan kebijakan AS masih bermusuhan. "Jika pihak AS mencoba mempromosikan langkah-langkah yang telah mereka ambil kali ini sebagai semacam 'sikap niat baik', mereka tidak akan mendapatkan jawaban yang mereka inginkan," tegas Kim Yo Jong.

Para analis menilai bahwa meskipun hubungan pribadi Trump dan Kim Jong Un baik, hal tersebut tidak akan mengorbankan kepentingan keamanan nasional Korea Utara.

Profesor Lim Eul-chul menyatakan, "Hubungan pribadi tidak akan pernah dibiarkan mengorbankan kepentingan keamanan nasional atau upaya untuk memperkuat kemampuan militer." Peneliti Jenny Town menambahkan bahwa Korea Utara kini memiliki posisi tawar yang lebih kuat karena hubungan dagang yang meningkat dengan China dan Rusia, sehingga sedikit insentif bagi Kim Jong Un untuk kembali ke meja perundingan dengan tuntutan menyerahkan senjata nuklir. Menurut peneliti Hong Min, pernyataan Kim Yo Jong sebenarnya bertujuan membuka peluang diplomasi dan mendorong sikap AS yang lebih akomodatif tanpa mengiritasi Trump.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed