Kolaborasi Jam Saku Swatch dan Audemars Piguet Memicu Perdebatan

Smallest Font
Largest Font

Kolaborasi tidak terduga antara produsen jam tangan Swatch dan merek mewah Audemars Piguet dalam meluncurkan koleksi jam saku "Royal Pop" pada Sabtu, 16 Mei 2026, memicu perdebatan sengit di kalangan komunitas dan pakar industri horologi global.

Langkah merilis jam saku dinilai mengejutkan karena banyak pengamat memperkirakan kolaborasi ini akan menghasilkan jam tangan konvensional. Koleksi bermaterial komposit bioskeramik tersebut akan dipasarkan secara global di toko resmi Swatch dengan kisaran harga 400 hingga 420 dolar AS atau sekitar 385 sampai 400 euro.

Pihak manajemen Swatch menyatakan bahwa produk modular ini menawarkan cara baru dalam memakai penunjuk waktu. Melalui situs resmi perusahaan, konsep ini dinilai membawa semangat kedinamisan yang tinggi bagi para penggunanya.

"A completely new way to wear time" merupakan slogan peluncuran resmi dari kolaborasi ini.

Pernyataan tersebut kemudian dipertegas oleh pimpinan eksekutif Swatch yang melihat adanya nilai keberanian di dalam produk baru ini.

"embodies audacity and a zest for life." kata Ilaria Resta, CEO Swatch.

Meskipun demikian, strategi ini memicu kekhawatiran terkait potensi penurunan reputasi eksklusif Audemars Piguet yang selama ini membatasi produksi tahunannya hanya sekitar 50.000 unit demi menjaga kelangkaan. Mantan petinggi Audemars Piguet, François-Henry Bennahmias, yang sebelumnya menggagas kolaborasi dengan Marvel, diketahui menyukai strategi inovatif Swatch dalam mendekati generasi muda.

Bennahmias sempat membela kolaborasi serupa antara Swatch dan Omega pada tahun 2022 saat berbicara kepada media Swiss, Luxury Tribune.

"we need to change the way the industry promotes itself, and stop criticizing certain innovative strategies," ujar François-Henry Bennahmias, Mantan CEO Audemars Piguet.

Menurutnya, kemitraan tersebut tidak merusak integritas merek mewah, melainkan berfungsi sebagai sarana edukasi horologi.

"their collaboration is a great idea, which does not affect the integrity of Omega at all, contrary to what you may have heard. Why is that? Because it educates the younger generation about the icons of watchmaking." ucap François-Henry Bennahmias, Mantan CEO Audemars Piguet.

Di sisi lain, tidak semua pihak sepakat dengan pandangan tersebut, mengingat Audemars Piguet berada di kategori harga yang jauh lebih tinggi dibanding mitra Swatch terdahulu seperti Omega dan Blancpain. Perbedaan kelas yang mendasar ini memunculkan rasa kecewa di antara sejumlah kolektor setia.

Seorang pelaku industri jam tangan mewah menyatakan bahwa langkah ini berisiko bagi hubungan emosional konsumen loyal merek tersebut.

"this partnership is certainly surprising and might not please valued customers of Audemars Piguet," kata seorang sumber anonim yang bekerja di haute horlogerie.

Bagi Swatch, kolaborasi ini membawa keuntungan besar dalam meningkatkan impresi media sosial dan publisitas global. Pihak Swatch mempromosikan produk ini melalui akun Instagram resmi mereka sebagai sebuah gebrakan seni horologi.

"a disruptive collaboration that fuses joyful boldness and positive provocation with the art of haute horlogerie." tulis pihak Swatch dalam unggahan Instagram.

Dampak jangka panjang bagi Audemars Piguet masih harus dilihat dalam beberapa tahun ke depan, terutama apakah konsumen muda saat ini akan bertransformasi menjadi kolektor jam tangan mewah di masa depan. Saat ini, tantangan langsung yang dihadapi adalah potensi munculnya koleksi Royal Pop di platform penjualan kembali dan pengelolaan rasa frustrasi para kolektor tradisional.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed