Konflik Timur Tengah Picu Pembatalan Penerbangan dan Tiket Pesawat Mahal

Smallest Font
Largest Font

Sejumlah maskapai penerbangan internasional membatalkan dan merombak jadwal rute Timur Tengah pada Sabtu, 13 Juni 2026, akibat konflik bersenjata yang terus berlanjut. Situasi geopolitik tersebut memicu lonjakan harga avtur dunia yang diprediksi mempertahankan mahalnya harga tiket pesawat sepanjang tahun 2026.

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) dalam pertemuan tahunan di Rio de Janeiro melaporkan bahwa harga bahan bakar jet diperkirakan menembus 152 dollar AS per barel pada 2026. Angka ini melonjak tajam dari tahun sebelumnya yang masih berada di bawah 100 dollar AS per barel akibat penutupan Selat Hormuz. Pihak IATA menjelaskan bahwa maskapai biasanya menyerap sebagian kenaikan biaya operasional, namun sebagian besar lainnya akan dibebankan langsung kepada penumpang melalui tarif tiket yang lebih tinggi.

Pandangan mengenai kelanjutan beban biaya ini disampaikan oleh Senior Vice President Sustainability sekaligus Chief Economist IATA, Marie Owens Thomsen yang dilansir dari The Daily Star dan The Straits Times.

"Banyak pihak masih akan menghadapi situasi ini dalam waktu yang lama dan saya memperkirakan tarif (tiket pesawat) akan tetap tinggi," kata Marie Owens Thomsen.

Thomsen menambahkan bahwa kapasitas kilang global yang tidak merata, terutama ketergantungan Eropa pada impor bahan bakar negara Teluk, memperlambat normalisasi harga minyak dunia.

"Butuh waktu lama sebelum harga minyak Brent kembali ke level 60 dollar AS (sekitar Rp 1,09 juta) per barel seperti yang terjadi pada Januari lalu," ujar Marie Owens Thomsen.

Kondisi pasar avtur saat ini kian tertekan oleh gelaran Piala Dunia FIFA 2026 dari 11 Juni hingga 19 Juli 2026 yang mengalihkan kapasitas kilang untuk memproduksi bensin kendaraan darat. Dampak dari pengalihan kapasitas produksi tersebut dijelaskan oleh perwakilan dari S&P Global.

"Meningkatnya aktivitas perjalanan selama musim panas dapat membuat kilang minyak mengalokasikan kapasitas lebih besar untuk memproduksi bensin dibandingkan avtur," kata Eleanor Budds, Direktur Riset Global Fuels and Refining dari S&P Global.

Budds mengingatkan bahwa rantai pasok logistik minyak membutuhkan waktu sedikitnya empat hingga lima bulan untuk pulih sepenuhnya meskipun jalur pelayaran internasional kembali normal.

"Sekali pun Selat Hormuz kembali beroperasi normal dalam waktu dekat, rantai pasok minyak dan bahan bakar membutuhkan waktu untuk pulih sepenuhnya," tutur Eleanor Budds.

Di tengah tekanan biaya ini, penyesuaian operasional masif terjadi secara global menurut laporan Reuters. Maskapai Yunani membatalkan rute Thessaloniki-Tel Aviv hingga 26 Juni dan Dubai hingga 31 Agustus, sementara airBaltic menangguhkan penerbangan Tel Aviv hingga 28 Juni. Air Canada menunda penerbangan ke Tel Aviv dan Dubai hingga 24 Oktober, sejalan dengan Air Europa, maskapai Prancis, KLM, serta maskapai asal Hong Kong dan Amerika Serikat yang menggeser jadwal rute Timur Tengah mereka hingga akhir tahun. British Airways menunda penerbangan Doha hingga 1 Agustus, sedangkan Lufthansa dan ITA Airways berencana memulihkan penerbangan Tel Aviv paling cepat 1 Juli meski tetap menangguhkan rute Abu Dhabi, Amman, dan Beirut hingga 24 Oktober 2026.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed