Konflik Timur Tengah Ganggu Penerbangan Global dan Picu Tiket Mahal
Konflik bersenjata yang terus berlanjut di Timur Tengah memicu gangguan masif pada arus lalu lintas udara global akibat pembatalan rute oleh sejumlah maskapai internasional sekaligus memicu lonjakan harga tiket pesawat sepanjang tahun 2026. Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) dalam pertemuan tahunan di Rio de Janeiro, Brasil, awal Juni 2026 memproyeksikan tarif penerbangan sulit turun karena harga bahan bakar jet atau avtur melambung tinggi. Senior Vice President Sustainability sekaligus Chief Economist IATA, Marie Owens Thomsen menyatakan bahwa banyak pihak masih akan menghadapi situasi pelik ini dalam waktu yang lama.
"Banyak pihak masih akan menghadapi situasi ini dalam waktu yang lama dan saya memperkirakan tarif (tiket pesawat) akan tetap tinggi," kata Marie Owens Thomsen, Senior Vice President Sustainability sekaligus Chief Economist IATA.
Thomsen menambahkan bahwa pemulihan harga minyak dunia ke level normal membutuhkan waktu yang cukup panjang dari kondisi saat ini. "Butuh waktu lama sebelum harga minyak Brent kembali ke level 60 dollar AS (sekitar Rp 1,09 juta) per barel seperti yang terjadi pada Januari lalu," ujar Marie Owens Thomsen, Senior Vice President Sustainability sekaligus Chief Economist IATA.
Berdasarkan data IATA yang dilansir dari The Daily Star dan The Straits Times, harga avtur diperkirakan menembus 152 dollar AS per barel pada 2026, naik tajam dari tahun 2025 yang berada di bawah 100 dollar AS per barel. Lonjakan harga dipicu oleh terganggunya ekspor minyak akibat penutupan Selat Hormuz serta keterbatasan kapasitas kilang di Eropa yang bergantung pada pasokan negara-negara Teluk.
Tekanan pasokan diperkirakan meningkat selama musim panas yang bertepatan dengan penyelenggaraan Piala Dunia FIFA 2026 dari 11 Juni hingga 19 Jui 2026. Direktur Riset Global Fuels and Refining dari S&P Global, Eleanor Budds menjelaskan bahwa peningkatan mobilitas darat selama periode tersebut membuat kilang memprioritaskan produksi bensin ketimbang avtur. Meskipun situasi pasar energi nantinya membaik pasca-liburan, pemulihan logistik dan infrastruktur rantai pasok minyak tetap memerlukan waktu sedikitnya empat hingga lima bulan.
Di sisi lain, laporan Reuters pada Sabtu, 13 Juni 2026, mencatat operasional penerbangan keluar dan menuju Timur Tengah berubah total karena faktor keselamatan.
Maskapai besar seperti Aegean Airlines membatalkan penerbangan ke Tel Aviv hingga 26 Juni, ke Dubai hingga 31 Agustus, serta ke Erbil dan Baghdad hingga 30 September. Kebijakan serupa diambil oleh airBaltic, Air Canada, Air Europa, Air France, KLM, British Airways, hingga operator asal Asia seperti maskapai Hong Kong dan Japan Airlines yang menunda rute ke destinasi utama Timur Tengah. Grup Lufthansa, yang mencakup SWISS, Austrian Airlines, dan Brussels Airlines, juga memperpanjang penangguhan penerbangan ke kota-kota seperti Abu Dhabi, Amman, Beirut, Dammam, Riyadh, Erbil, Muscat, dan Teheran hingga 24 Oktober 2026.
Untuk mengantisipasi situasi ini, maskapai nasional Australia memilih menambah frekuensi rute alternatif ke Eropa melalui Roma dan Paris guna memenuhi lonjakan permintaan penumpang.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow