Legenda Sepak Bola Kritik Performa Declan Rice di Piala Dunia 2026

Smallest Font
Largest Font

Gelandang Arsenal Declan Rice menuai kritik tajam dari mantan legenda Liverpool Graeme Souness dan Mark Lawrenson setelah Timnas Inggris tersingkir oleh Argentina di babak semifinal Piala Dunia 2026.

Dilansir dari Kompas.com, Goal.com, dan Akurat Banten, Rice dinilai memiliki visi mengoper bola yang terbatas dan dianggap lebih cocok beroperasi di posisi bek tengah daripada menjadi jangkar lapangan tengah.

Kekalahan dramatis 1-2 dari Argentina membuat langkah The Three Lions terhenti, di mana Rice ditarik keluar oleh pelatih Thomas Tuchel pada menit-menit akhir babak kedua setelah berjuang melawan sejumlah cedera otot sepanjang turnamen.

Dalam program Sports Uncensored bersama Piers Morgan, Souness secara terbuka mengungkapkan ketidakterkesanannya terhadap sosok Rice maupun gelandang muda Elliot Anderson.

"Salah satunya masih sangat muda, 22 tahun, jadi punya peluang untuk berkembang," kata Graeme Souness.

Souness berpendapat bahwa pemain berusia 27 tahun tersebut telah mencapai batas kemampuan terbaiknya di usia sekarang.

"Declan tidak akan berkembang lebih jauh, dia sudah mencapai batas kemampuannya di usia 27 tahun." kata Graeme Souness.

Ia juga menambahkan bahwa kedua gelandang tersebut kurang memiliki variasi teknis yang dapat mengancam pertahanan lawan di lapangan.

"Saya tidak melihat cukup banyak permainan sepak bola dalam diri mereka, saya melihat mereka sebagai pemain yang hanya mengoper bola. Saya tidak melihat mereka mampu melukai lawan." kata Graeme Souness.

Souness kemudian membandingkan gaya permainan Rice secara kontras dengan jenderal lapangan tengah Timnas Spanyol, Rodri, yang dinilai sukses mengendalikan permainan saat menumbangkan Perancis.

"Jika Anda menginginkan kebalikannya, malam sebelumnya ketika Spanyol mengalahkan Perancis kita melihat pemain terbaik di dunia, Rodri," tegas Graeme Souness.

Ia menilai Rodri sebagai perwujudan gelandang tengah sejati yang mampu mendikte permainan lewat pilihan operannya yang efektif tanpa membawa bola berlebihan.

"Mereka unggul satu gol dan dia masih mampu mengendalikan permainan. Dia adalah pemain lini tengah sejati." kata Graeme Souness.

Mantan kapten Skotlandia itu menyimpulkan bahwa Rice memiliki keterbatasan taktis yang membuatnya lebih ideal dipasang di lini pertahanan belakang.

"Bagi saya, Rice memiliki keterbatasan. Anda mendengar orang-orang berbicara tentang Rice sebagai pemain sepak bola kelas dunia. Saya pikir dia mungkin lebih cocok sebagai bek tengah." kata Graeme Souness.

Kendati demikian, Souness tetap memberikan apresiasi tinggi terhadap komitmen fisik dan etos kerja keras yang ditunjukkan sang bintang Arsenal sepanjang pertandingan.

"Tidak ada yang perlu dikritik dari sikapnya terhadap permainan dan kemampuan atletiknya," ungkap Graeme Souness.

Namun, ia menegaskan kembali bahwa kebiasaan Rice membawa bola merupakan tanda dari kurangnya kecepatan dalam membaca situasi di lapangan.

"Tidak ada yang perlu dikritik dari komitmennya dari menit pertama hingga menit terakhir. Kritik saya adalah: dia tidak memiliki cukup kemampuan sepak bola. Anda berbicara tentang 'lihat bagaimana dia berlari dengan bola.' Sebagai pemain gelandang tengah, itu bukanlah hal yang seharusnya dilakukan." kata Graeme Souness.

Ia mengkritik kecenderungan Rice yang sering kali menghentikan serangan dan memilih mengoper bola ke samping setelah membawa bola cukup jauh.

"Alasan orang berlari dengan bola adalah karena mereka tidak melihat situasi dengan cukup cepat. Pendapat saya tentang menjadi gelandang tengah adalah: jika Anda seorang striker atau pemain sayap, mereka ingin saya melakukan sentuhan bola seminimal mungkin." ujar Graeme Souness.

Kritik Souness ini dipertegas melalui tulisannya di The Telegraph yang menyoroti ketidakmampuan lini tengah Inggris dalam menjaga ketenangan di momen krusial.

"Saya memiliki gambaran di kepala saya tentang orang-orang yang mengatakan 'dia membawa bola dengan baik' tetapi Anda tidak ingin membawa bola." kata Graeme Souness.

Souness menutup pandangannya dengan menilai bahwa media dan para ahli harus lebih selektif dalam menyematkan status kelas dunia pada para pemain Inggris saat ini.

"I imagine Rice running with the ball 20 yards, he gets shut down, the handbrake is applied, and he passes it sideways." kata Graeme Souness.

Melalui artikel di The Telegraph, Souness kembali menekankan standar tinggi yang harus dipenuhi oleh seorang pemain sebelum disebut sebagai bagian dari jajaran terbaik dunia.

"I know what a world-class player looks like. What I’ve seen from England in this tournament has not been at that standard," tulis Graeme Souness.

Ia juga mengkritik hilangnya kepercayaan diri timnas Inggris setelah Anthony Gordon mencetak gol pembuka melawan Argentina.

"I’ve never seen a team lose confidence when they go 1-0 up. The problem was on the pitch before Tuchel made any changes," komentar Graeme Souness.

Souness mempertanyakan apakah Rice pernah menunjukkan kemampuan mengatur tempo permainan setara dengan yang dilakukan oleh Rodri.

"Have you ever seen Rice control the tempo of a game the way Rodri does? The answer is no," tulis Graeme Souness.

Di sisi lain, Anderson dinilai masih membutuhkan waktu lebih untuk membuktikan kualitas profesionalnya di level tertinggi.

"Elliot Anderson is young and has a great attitude, but he still has limitations," komentar Graeme Souness.

Senada dengan Souness, mantan bek Liverpool Mark Lawrenson melalui Akurat Banten juga menyarankan agar Rice dikembalikan ke posisi asalnya sebagai bek tengah demi mengoptimalkan atribut bertahannya.

"Kalau saya jujur, saya rasa posisi terbaik Declan Rice adalah bek tengah," ujar Mark Lawrenson.

Di sisi lain, Declan Rice tetap mendapatkan pembelaan terkait kehidupan pribadinya di luar lapangan, termasuk dari sang kekasih Lauren Fryer yang turut hadir di Amerika Serikat untuk memberikan dukungan emosional langsung.

"My missus is quite worried. I'm genuinely being serious. She's quite worried," tutur Declan Rice kepada The Sun pada 2019 silam terkait kedekatan hubungannya dengan rekan setimnya, Mason Mount.

Hubungan masa kecil Rice dan Fryer yang telah dikaruniai seorang putra bernama Jude ini turut mendapat respons positif dari sesama pasangan pesepak bola Inggris.

"She is a really good mom who keeps to herself. She's Dec's childhood sweetheart, and you can see how much he adores her." kata Dani Dyer.

Setelah menyelesaikan turnamen dengan menghadapi Prancis dalam pertandingan perebutan tempat ketiga, Rice kini dijadwalkan kembali ke London Utara untuk mempersiapkan musim baru Liga Inggris bersama Arsenal.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed