Laba Adaro Andalan Indonesia Melonjak 10 Persen Jadi Rp8,46 Triliun
PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) mencatatkan lonjakan laba bersih sebesar 10,52 persen secara tahunan menjadi US$473,77 juta atau sekitar Rp8,46 triliun pada semester I-2026. Pertumbuhan kinerja keuangan ini ditopang oleh kenaikan harga jual rata-rata batu bara serta lonjakan penjualan di pasar domestik.
Berdasarkan laporan keuangan perseroan, akumulasi pendapatan AADI pada paruh pertama tahun ini tumbuh 6,13 persen menjadi US$2,55 miliar dari periode yang sama tahun lalu sebesar US$2,40 miliar. Penguatan laba perseroan juga didorong oleh kinerja kuartal II-2026, di mana laba bersih melesat 131 persen secara kuartalan mencapai US$330 juta.
Mandiri Sekuritas mencatat pencapaian laba bersih tersebut melampaui proyeksi lembaga analisis dan konsensus pasar, masing-masing sebesar 53 persen dan 63 persen. Kenaikan harga jual rata-rata (ASP) batu bara sebesar 21 persen secara tahunan pada tiga bulan kedua 2026 menjadi pendorong utama lonjakan pendapatan perseroan.
"Pendapatan AADI kuartal II-2026 US$ 1,5 miliar, naik 22%, sehingga akumulasinya mencapai US$2,5 miliar, tumbuh 6%, setara 51% dan 47% proyeksi Mansek dan konsensus untuk setahun penuh," tulis Mandiri Sekuritas.
Secara operasional, total volume penjualan batu bara AADI sepanjang semester I-2026 mencapai 33,5 juta ton, atau mengalami penurunan tipis sebesar 1 persen. Walau demikian, ASP secara keseluruhan tetap naik 10 persen menjadi US$71,1 per ton, dengan perkiraan biaya kas (cash cost) di luar royalti sebesar US$38,9 per ton.
Dari sisi segmen pasar, pendapatan penjualan batu bara domestik melonjak 34,20 persen menjadi US$721 juta. Sebaliknya, pendapatan dari pasar ekspor utama seperti India turun 2,46 persen menjadi US$453,29 juta, dan penjualan ke China terkoreksi 8,63 persen menjadi US$199,65 juta. Meski demikian, ekspor ke Malaysia dan Korea Selatan tetap mencatatkan pertumbuhan positif.
Selain bisnis inti batu bara yang menyumbang US$2,22 miliar, pendapatan AADI disokong oleh lini bisnis logistik sebesar US$109,19 juta. Perseroan juga mulai meraup pendapatan baru dari penyewaan aset ketenagalistrikan dan jasa penunjangnya sebesar US$44,21 juta.
Hingga akhir Juni 2026, total aset AADI tercatat naik 10,88 persen menjadi US$6,32 miliar dibandingkan posisi akhir 2025. Seiring peningkatan kinerja ini, Mandiri Sekuritas menyematkan rekomendasi beli untuk saham AADI dengan target harga Rp13.500 per saham.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow