Pakar FKUI Peringatkan Bahaya Silikosis Akibat Abu Anak Krakatau
Masyarakat diminta mewaspadai paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang berpotensi memicu gangguan pernapasan hingga risiko penyakit silikosis pada paru-paru, sebagaimana dilansir dari Detik Health pada Senin (7/9/2026).
Internis sekaligus Guru Besar Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM Prof Ari Fahrial Syam menerangkan bahwa ancaman kerusakan paru-paru tersebut berasal dari kandungan senyawa silika di dalam material erupsi.
"Paparan silika respirabel yang signifikan dan berlangsung lama dapat menyebabkan silikosis, yaitu penyakit paru akibat penumpukan partikel silika yang menyebabkan peradangan dan jaringan parut pada paru," ungkap Prof Ari pada detikcom, Senin (7/9/2026).
Pengujian laboratorium terhadap sampel abu yang sedang turun masih diperlukan untuk memastikan kadar silika kristalin pada erupsi saat ini, meski riset material sebelumnya telah mengonfirmasi keberadaan senyawa tersebut.
"Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat mengakibatkan penurunan fungsi paru. Namun, risiko ini tentu bergantung pada komposisi abu, ukuran partikel, konsentrasi yang terhirup, serta intensitas dan lamanya paparan," sambungnya.
Partikel abu yang terhirup ke dalam sistem pernapasan dapat memicu iritasi serta peradangan yang gejalanya sering kali baru dirasakan beberapa waktu kemudian.
Kemunculan gangguan pada saluran pernapasan bawah tersebut berpotensi timbul dalam rentang satu hingga dua minggu setelah seseorang terpapar abu vulkanik.
"Di satu sisi sampai saat ini erupsi masih terjadi. Apabila setelah terpapar abu seseorang mengalami batuk yang semakin berat, demam, sesak napas, nyeri dada, atau kondisi fisiknya memburuk, pemeriksaan medis harus segera dilakukan. Karena bisa saja sudah terjadi infeksi paru," tandasnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow