Dokter Paru Ingatkan Bahaya Sebaran Abu Vulkanik Anak Krakatau

Smallest Font
Largest Font

Peningkatan partikel halus akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mengancam kesehatan pernapasan warga Banten, Jawa Barat, Lampung, hingga Bengkulu sejak erupsi meluas pada Jumat (11/9/2026), sebagaimana dilansir dari Detik Health.

Pemantauan BMKG menunjukkan pergerakan abu vulkanik pada ketinggian hingga 15.000 kaki bergerak ke arah barat daya dan barat laut. Kualitas udara yang memburuk meningkatkan risiko masuknya mikropartikel ke saluran napas mendalam.

Dokter Spesialis Paru Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Sondang Ruth Angelia Sirait, M.Ked.(Paru), Sp.P, menyoroti ancaman partikel particulate matter berupa PM10 dan PM2.5 yang berisiko memicu peradangan alveolus, iritasi, hingga sesak napas berat.

"Secara umum, semakin kecil ukuran partikel, semakin jauh partikel dapat masuk ke saluran pernapasan, bahkan sebagian partikel yang sangat halus dapat mencapai saluran napas kecil yang disebut alveolus yang akan menyebabkan peradangan dan stres oksidatif. Karena itu, saat terjadi paparan abu vulkanik, prinsip utama yang perlu dilakukan adalah mengurangi paparan sebaik mungkin," jelas dr. Sondang dalam keterangannya, Jumat (11/9/2026).

Ancaman gangguan pernapasan ini dinilai makin tinggi pada kelompok rentan seperti penderita asma, PPOK, anak-anak, lansia, serta pasien penderita penyakit kardiovaskular. Dokter mengimbau warga menggunakan masker respirator standar N95 atau KN95 saat beraktivitas di luar rumah.

"Sebagian keluhan akibat paparan abu dapat bersifat sementara dan membaik setelah paparan dihentikan. Namun, apabila keluhan menetap, semakin berat, atau terjadi pada seseorang yang memiliki penyakit paru sebelumnya, pemeriksaan diperlukan untuk menentukan apakah terdapat gangguan saluran napas atau fungsi paru yang membutuhkan penanganan lebih lanjut," jelas dr. Sondang.

Penanganan medis darurat harus segera dilakukan apabila pasien mengalami gejala sesak berat, nyeri dada, hingga penurunan kesadaran. Pihak rumah sakit juga terus memfasilitasi evaluasi medis pendukung seperti spirometri dan rontgen dada.

Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Margareth Aryani Santoso, MARS, menambahkan bahwa kesiapan fasilitas kesehatan dan layanan paru terintegrasi sangat penting untuk merespons dampak lingkungan seperti bencana erupsi ini.

"Paparan abu vulkanik mengingatkan kita bahwa kondisi lingkungan dapat berdampak langsung terhadap kesehatan paru. Bethsaida Hospital Gading Serpong berkomitmen menghadirkan layanan paru terintegrasi, mulai dari konsultasi dan pemeriksaan diagnostik hingga penanganan sesuai kondisi pasien. Masyarakat diharapkan tidak mengabaikan keluhan pernapasan yang menetap atau memburuk dan segera melakukan pemeriksaan bila diperlukan," papar dr. Margareth.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed