Pedro Acosta Ungkap Alasan Tinggalkan KTM demi Ducati di MotoGP 2027
Pembalap MotoGP Pedro Acosta memutuskan hengkang dari KTM setelah lima tahun bersama untuk bergabung dengan tim pabrikan Ducati, menyusul ambisinya yang belum terwujud dalam meraih gelar juara dunia. Keputusan tersebut diambil usai pembalap asal Spanyol itu belum berhasil mengamankan kemenangan podium pertama hingga musim ketiganya di kelas utama, dengan pencapaian terbaik sebagai runner-up. Acosta menegaskan target utamanya di MotoGP adalah mendapatkan fasilitas terbaik untuk memperebutkan gelar juara dunia, sesuatu yang dinilainya ada pada pabrikan Ducati saat ini.
"Memang begitulah adanya," kata Acosta dikutip dari Motorsport.
Ia menepis kekhawatiran terkait kepindahannya dan menegaskan fokus utamanya sejak awal menandatangani kontrak pabrikan. "Saya sudah mengatakan saat menandatangani kontrak pabrik, bahwa satu-satunya yang saya inginkan adalah motor untuk memenangkan kejuaraan," jelasnya.
Di usianya yang menginjak 22 tahun, pembalap muda itu memilih untuk tidak menunda kesempatannya bersaing di papan atas dan siap bertandem dengan juara dunia Marc Marquez. "Saya tidak punya waktu lagi untuk disia-siakan," ucap Acosta.
Ia juga memandang masa depannya bersama Ducati sebagai tantangan baru yang dibutuhkan untuk perkembangan kariernya. "Saya punya banyak pengalaman di KTM, tetapi saya juga merasa bahwa (Ducati) adalah tantangan yang saya buduhkan untuk karier saya," tambahnya. Kepergian Acosta diakui bos KTM, Pit Beirer, sempat memberikan kekecewaan besar karena tim telah membangun proyek jangka panjang bersama sang pembalap sejak jenjang awal kariernya.
"Kami harus menerima kenyataan bahwa Pedro ingin meninggalkan kami karena dia sudah begitu lama bersama kami: Rookies Cup, juara dunia Moto3, juara dunia Moto2, patah kaki, kembali lagi; begitu banyak hal yang telah kami lalui bersama," kata Beirer kepada MotoGP.com.
Beirer menjelaskan dinamika yang dialami timnya saat harus merestrukturisasi formasi pembalap untuk musim mendatang. "Kami hanya membangun proyek ini bersama dengannya sebagai seorang pembalap," paparnya. Ia mengakui kekosongan yang ditinggalkan Acosta sempat menciptakan situasi rumit dalam perencanaan tim.
"Tetapi seperti biasa, hidup terus berjalan. Ada satu momen yang jujur sangat membuat frustrasi karena kami tidak pernah merencanakan pengganti. Kami menaruh semua harapan padanya," ungkap Beirer.
Meski begitu, pihak KTM optimistis dengan kedatangan Alex Marquez dan Fabio Di Giannantonio untuk mengisi lini pembalap mereka selanjutnya. "Namun seperti biasa, jika satu pintu tertutup, pintu lain akan terbuka, dan kemudian kita bisa melihat bahwa kedua pembalap ini (Alex Marquez dan Fabio di Giannantonio) berkembang sangat pesat," paparnya.
Acosta turut memberikan pandangannya terkait susunan pembalap baru yang akan memperkuat mantan timnya tersebut. "Mereka membawa juara dunia (Moto2), Alex, dan seorang pembalap yang saat ini menjadi orang nomor dua di Ducati (Di Giannantonio)," ucap Acosta.
Ia meyakini potensi komposition baru KTM tetap kompetitif dalam persaingan balap musim depan. "Mereka memiliki kartu bagus untuk dimainkan tahun depan," pungkasnya. Di sisi lain, kepindahan Acosta ke tim utama Ducati memengaruhi peta transfer pembalap lainnya, termasuk Fermin Aldeguer yang dialokasikan ke tim VR46 untuk musim 2027.
Aldeguer mengaku merasa sedikit terintimidasi harus bekerja di bawah naungan legenda balap Valentino Rossi di VR46.
"Awalnya, agak mengintimidasi," katanya tentang prospek Rossi menjadi bosnya tahun depan dalam wawancara dengan Onda Regional de Murcia. Ia menyadari kesempatan belajar dari Rossi merupakan momentum berharga untuk karier balapnya. "Dia tidak akan hadir di setiap balapan, tetapi saya telah diberi tahu bahwa saya dapat menghubunginya dan mengandalkannya untuk segala hal yang berkaitan dengan balapan," ujarnya.
Pembalap Spanyol itu berkomitmen untuk menyerap seluruh arahan yang diberikan oleh pemilik timnya tersebut.
"Hanya sedikit orang yang lebih baik darinya untuk dijadikan panutan, dan saya harus memanfaatkannya," tuturnya. Aldeguer meyakini petunjuk dari legenda Italia itu akan memberikan dampak signifikan pada performanya di lintasan.
"Sarannya akan membantu saya meningkatkan kemampuan dan menjadi pembalap yang lebih baik," jelasnya. Mengenai keputusan Ducati yang lebih memilih Acosta untuk tim pabrikan, Aldeguer menganggap hal tersebut sebagai langkah rasional dari manajemen pabrikan Italia itu.
"Saya masih punya banyak waktu untuk masuk ke tim resmi Ducati," tambahnya. Ia menilai strategi Ducati sudah tepat dengan memadukan kekuatan pembalap muda berbakat dan pembalap berpengalaman. "Saya mengerti mengapa mereka memilih Pedro: mereka menginginkan pembalap terbaik. Mereka sudah memiliki saya, serta Marc Marquez, yang masih sangat kuat tetapi tidak ada yang tahu berapa lama dia akan terus berkarier," kata Aldeguer.
Ia juga melihat pembagian peran di Ducati sebagai perencanaan jangka panjang yang terstruktur bagi seluruh pembalap yang terikat kontrak.
"Dengan Acosta di satu sisi dan Marc, yang mungkin suatu hari nanti akan pensiun, mereka juga memiliki Fermin Aldeguer yang bisa mencapai level itu," jelasnya. Aldeguer mengonfirmasi dirinya tetap mendapatkan dukungan penuh dalam hal pasokan teknis motor dari pabrikan. "Dengan motor pabrikan, saya merasakan dukungan mereka, dan saya merasa jauh lebih tenang," tegasnya.
Ia tetap meyakini peluangnya membela tim utama Ducati akan terbuka di masa depan.
"Saya percaya itu akan terjadi suatu hari nanti. Tujuan saya adalah masuk ke tim pabrikan Ducati, dan Pedro masih memiliki banyak tahun di depannya," pungkas Aldeguer.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow