Pemerintah Aceh Selidiki Kelangkaan dan Lonjakan Harga Semen serta BBM
Pemerintah Provinsi Aceh membentuk tim khusus dan melakukan inspeksi mendadak untuk menelusuri penyebab kelangkaan Bahan Bakar Minyak serta lonjakan harga semen yang menembus Rp105.000 per sak pada Kamis (30/7/2026).
Langkah tegas ini diambil guna merespons keresahan masyarakat dan gangguan pada aktivitas pembangunan gampong serta proyek rekonstruksi fasilitas publik di berbagai wilayah Aceh.
Kenaikan harga material bangunan terpantau melonjak hingga 25 persen di Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, dan Aceh Utara, di mana Semen Andalas dijual Rp75.000 hingga Rp105.000, Semen Merah Putih Rp80.000, dan Semen Padang Rp95.000 per sak.
Juru Bicara Pemerintah Aceh, Nurlis Effendi, menyatakan keberadaan indikasi pelanggaran dalam distribusi dua komoditas strategis tersebut akan diserahkan kepada pihak kepolisian.
"Apapun bentuk perbuatannya yang merugikan masyarakat, pasti diambil tindakan," kata Nurlis Effendi, Juru Bicara Pemerintah Aceh.
Untuk mengurai persoalan ini, Gubernur Aceh Muzakir Manaf menginstruksikan Sekda Aceh M Nasir Syamaun membentuk tim pengawasan di bawah koordinasi Asisten II Setda Aceh Teuku Robby Izra, bersama Kadisperindag Teuku Adi Darma, Kadis ESDM Asnawi, dan Kabaro Perekonomian Zaini.
"Pemerintah Aceh memahami keresahan masyarakat apabila terjadi gangguan pasokan BBM maupun semen, mengingat kedua komoditas tersebut merupakan kebutuhan strategis yang sangat berpengaruh terhadap aktivitas ekonomi, pembangunan, dan kehidupan masyarakat," ujar Nurlis Effendi, Juru Bicara Pemerintah Aceh.
Tim Gabungan bersama Polda Aceh juga telah menggelar sidak ke SPBU Lingke dan SPBU Lambhuk di Banda Aceh, di mana ditemukan ketidaksesuaian Barcode Subsidi Tepat Guna serta barisan kendaraan yang mendadak bubar saat petugas tiba.
"Di SPBU Lambhuk ditemukan keanehan, ketika petugas sampai ke SPBU malah banyak kendaraan kocar-kacir keluar dari antrean. Ini menunjukan ada sesuatu yang tidak beres dalam administrasi antrian pengisian konsumen," kata Nurlis Effendi, Juru Bicara Pemerintah Aceh.
Meskipun terjadi kejanggalan antrean, koordinasi dengan PT Solusi Bangun Andalas menunjukkan produksi semen berjalan normal meski permintaan meningkat, sementara PT Pertamina Patra Niaga mengklaim stok BBM bersubsidi dan LPG 3 kg tetap berada dalam kondisi aman.
"Tentu saja jika ditemukan perbuatan yang menyebabkan keresahan di tengah masyarakat akan diambil tindakan, dan melibatkan aparat penegak hukum dari kepolisian di Aceh," kata Nurlis Effendi, Juru Bicara Pemerintah Aceh.
Pemerintah Provinsi Aceh berkomitmen melanjutkan pemantauan ketat hingga tingkat pengecer guna memastikan distribusi barang tidak dimainkan oleh spekulan.
"Pertamina berjanji terus melakukan langkah-langkah percepatan agar penyaluran kepada Masyarakat berlangsung optimal. Ketersediaan BBM bersubsidi dijamin aman, dan memiliki stok yang cukup. Begitu juga dengan LPG tabung 3 Kg, disebutkan masih aman," tutur Nurlis Effendi, Juru Bicara Pemerintah Aceh.
Guna mempercepat penanganan di lapangan, pemerintah daerah membuka ruang bagi publik untuk melaporkan potensi kecurangan distribusi yang ditemui.
"Memperkuat pengawasan, pemantauan, dan koordinasi lintas sektor agar setiap potensi gangguan pasokan dapat diantisipasi sedini mungkin," tegas Nurlis Effendi, Juru Bicara Pemerintah Aceh.
Pengawasan komprehensif ini dinilai sangat mendesak mengingat dampak kelangkaan telah menghambat efektivitas kerja Tenaga Pendamping Profesional serta menunda pengerjaan infrastruktur desa.
"Setiap laporan akan menjadi bahan verifikasi dan tindak lanjut bersama instansi terkait," kata Nurlis Effendi, Juru Bicara Pemerintah Aceh.
Dampak kelangkaan BBM dan semen juga dikeluhkan oleh para pelaku pembangunan desa yang mengalami lonjakan biaya transportasi dan hambatan operasional sehari-hari.
"Kelangkaan BBM mengakibatkan masyarakat harus menghabiskan waktu berjam-jam mengantri di SPBU. Kondisi ini menghambat aktivitas mencari nafkah dan mengurangi efektivitas pelayanan serta pendampingan kepada masyarakat di gampong," ujar Helmi Dharmawan, Koordinator Pendamping Desa Gandapura.
Kondisi ini membuat proses penyaluran bahan bangunan terganggu sehingga target penyelesaian pembangunan fasilitas desa terancam mundur dari jadwal.
"Kami berharap Pemerintah Aceh bersama Pertamina dan seluruh pihak terkait segera melakukan langkah cepat dan terukur untuk menjamin ketersediaan BBM serta menstabilkan distribusi dan harga semen di Aceh. Masyarakat membutuhkan solusi nyata agar aktivitas ekonomi, pelayanan publik, dan pembangunan desa dapat kembali berjalan normal," tegas Helmi Dharmawan, Koordinator Pendamping Desa Gandapura.
Di sisi lain, lembaga advokasi hukum menyoroti keterlambatan rehabilitasi rumah korban bencana dan sekolah akibat lonjakan harga material yang tidak wajar.
"Akibatnya sejumlah proyek rehabilitasi rumah korban bencana, revitalisasi sekolah, dan pembangunan infrastruktur pemerintah mulai mengalami perlambatan karena sulit memperoleh semen dengan harga yang wajar," kata Muhammad Dahlan, Kepala Perwakilan Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Aceh Tengah dan Bener Meriah.
Dahlan mendesak aparat penegak hukum bertindak tegas terhadap spekulan yang memanfaatkan situasi demi keuntungan pribadi di tengah krisis pasokan lokal.
"Ironis Aceh memiliki pabrik semen, tetapi masyarakat justru menghadapi kelangkaan. Ibarat tikus mati di lumbung padi. Pemerintah Aceh harus hadir dengan tindakan nyata," jelas Muhammad Dahlan, Kepala Perwakilan Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Aceh Tengah dan Bener Meriah.
Ia mengingatkan bahwa keterlambatan penanganan dapat berakibat fatal bagi keberlangsungan berbagai proyek strategis daerah dan kesejahteraan warga.
"Jangan sampai masyarakat kembali menjadi korban akibat kelangkaan semen yang terus berlarut. Jika tidak segera diatasi, pembangunan, rehabilitasi rumah warga, dan proyek-proyek pemerintah terancam gagal, sementara rakyat menjadi pihak yang paling menanggung kerugian," jelas Muhammad Dahlan, Kepala Perwakilan Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Aceh Tengah dan Bener Meriah.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow