Pemerintah Intervensi Pasar Obligasi Saat Rupiah Tembus Level Terendah

Smallest Font
Largest Font

Pemerintah Indonesia mengambil langkah tegas dengan mengintervensi pasar obligasi secara signifikan menyusul jatuhnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat hingga menembus rekor terlemah sepanjang masa di level Rp17.676 pada Senin, 18 Mei 2026 pagi.

Langkah ini diambil guna mengendalikan pasar surat utang negara dan menahan keluarnya modal asing akibat kecemasan pasar terhadap gejolak geopolitik global serta sentimen penyesuaian indeks saham internasional.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa pemerintah berkomitmen membantu pergerakan nilai tukar rupiah melalui penguatan stabilitas pasar domestik.

"Kita juga akan masuk ke bond market mulai hari ini, Minggu lalu udah masuk, tapi hanya sedikit. Mulai hari ini akan kita masuk dengan lebih signifikan lagi, sehingga pasar obligasinya terkendali," beber Purbaya di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (18/5/2026).

Kebijakan tersebut diharapkan mampu memberikan kepastian kepada investor global agar tidak melakukan aksi jual massal yang didorong oleh ketakutan akan kerugian modal.

"Jadi, asing yang pegang obligasi nggak keluar karena takut misalnya ada capital loss gara-gara harga obligasi turun. Itu kita akan bisa membantu pergerakan rupiah sedikit," ujar Purbaya.

Pemerintah sendiri telah merancang strategi bantuan ini sejak pekan sebelumnya guna menyokong langkah stabilitas dari Bank Indonesia melalui pemanfaatan dana cadangan kas negara.

"Kita bisa akan mulai membantu besok (Rabu) mungkin," bebernya ditemui di kantor pusat Kemenkeu, Selasa (12/5/2026) yang lalu.

Kondisi kas negara saat ini diklaim berada dalam posisi yang sangat kuat untuk meredam gejolak di pasar modal dan menjaga tingkat imbal hasil obligasi pemerintah tetap kompetitif.

"Kita akan coba membantu nilai tukar, kita membantu BI lah sedikit-sedikit kalau bisa. Kita masih banyak uang nganggur, kita intervention bond market supaya yield-nya nggak naik terlalu tinggi," ucap Purbaya.

Purbaya menekankan pentingnya menjaga tingkat imbal hasil tersebut agar persepsi risiko investasi di dalam negeri tetap terjaga dengan baik di mata pemegang dana internasional.

"Kalau yield-nya naik terlalu tinggi artinya apa? Asing yang pegang bond di sini kan ada capital loss, dia akan keluar. Jadi kita kendalikan itu supaya asing nggak keluar, atau masuk malah kalau yield-nya membaik sehingga rupiah akan menguat. Kita akan masuk mulai besok," tambahnya.

Di sisi lain, ekonom DBS Radhika Rao menjelaskan bahwa tekanan terhadap mata uang Indonesia turut dipicu oleh dinamika penataan ulang bobot portofolio saham global dalam indeks MSCI.

"Porsi Indonesia yang lebih rendah ini akan mendorong investor untuk menyesuaikan kembali portofolio mereka, sehingga berpotensi memicu tambahan arus keluar asing dalam skala moderat," tulis Radhika Rao dalam riset Indonesia markets: MSCI rebalances index, slippery rupiah.

Meskipun data makroekonomi domestik menunjukkan performa yang cukup solid, struktur pendorong pertumbuhan dinilai belum sepenuhnya memuaskan ekspektasi pelaku pasar.

"Laporan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 yang kuat juga gagal menggairahkan rupiah, karena dorongan pertumbuhan berasal dari belanja pemerintah dan konsumsi yang lebih tinggi, bukan dari investasi atau perdagangan," tulis Radhika.

Kombinasi antara dinamika internal dan sentimen internasional tersebut menempatkan performa mata uang Garuda di posisi yang kurang menguntungkan di tingkat regional.

"Kekhawatiran atas review MSCI, geopolitik, dan perkembangan domestik terus menekan rupiah, ketika mata uang ini melemah melewati Rp17.500/US$ dan menjadi salah satu mata uang kawasan dengan kinerja terlemah secara year to date," tulis Radhika.

Sementara itu, dari sudut pandang kebijakan anggaran, pengamat ekonomi Ezaridho Ibnutama menyoroti bahwa pergerakan kurs mencerminkan kredibilitas pengelolaan keuangan jangka panjang.

"Nilai tukar, dalam jangka panjang, adalah vonis atas perilaku fiskal pemerintah," tulis Ezaridho.

Depresiasi mata uang berisiko memperberat anggaran negara melalui peningkatan nilai konversi terhadap kewajiban pinjaman luar negeri yang jatuh tempo.

"Setiap penurunan nilai rupiah menggelembungkan biaya riil cicilan utang," tulis Ezaridho.

Dari faktor eksternal, analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong mengungkapkan bahwa sentimen penghindaran risiko global meningkat tajam akibat minimnya kepastian dari diplomasi tingkat tinggi.

“Rupiah berpotensi kembali melemah merespons sentimen risk off global pada hari Jumat (15/5), dolar AS menguat cukup besar di tengah sell off semua aset, termasuk obligasi, saham, crypto, dan mata uang oleh kekecewaan investor pada hasil pertemuan Xi dan Trump yang tidak banyak membahas atau memberikan solusi terhadap perang AS-Iran,” ungkapnya kepada ANTARA di Jakarta, Senin.

Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah juga memicu kekhawatiran meluas terhadap keberlanjutan pasokan energi dunia dan kestabilan jalur niaga laut internasional.

“Kedua negara dan dunia menginginkan perang berakhir, namun sepertinya sulit bagi Iran melepas ambisi nuklir mereka, sehingga dalam pertemuan Xi dan Trump lebih banyak membahas hubungan kedua negara,” kata Lukman.

Menanggapi situasi geopolitik tersebut, analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyampaikan dalam laporan Kompas.com bahwa volatilitas kawasan maritim vital menjadi perhatian penuh bagi pelaku pasar keuangan.

“Masalah Selat Hormuz masih menjadi perhatian. Apalagi pada saat KTT di Tiongkok kemarin, Iran menyita kapal Tiongkok. Artinya ini membuat ketegangan tersendiri,” kata dia.

Ibrahim menambahkan bahwa lonjakan harga komoditas energi akan berdampak langsung pada postur perdagangan nasional akibat ketergantungan pada pasokan impor minyak mentah.

“Harga minyak mentah pun juga akan terus mengalami kenaikan, sehingga berdampak terhadap ekonomi di dalam negeri, terutama adalah tentang masalah impor, selalu saya katakan adalah impor minyak yang begitu besar 1,5 juta per barrel,” paparnya.

Tekanan jual yang masif di pasar spot pada hari yang sama turut memicu penurunan tajam Indeks Harga Saham Gabungan sebesar 4,22 persen ke level 6.439,761 pada perdagangan sesi pagi.

Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menyatakan kepada ANTARA bahwa penurunan bursa saham domestik berjalan beriringan dengan koreksi massal yang melanda mayoritas pasar ekuitas di Asia.

“Dapat kita cermati juga dari pergerakan bursa global dan mayoritas bursa Asia yang terkoreksi, ditambah dengan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang masih tertekan dan saat ini berada di level Rp 17.676 per dolar AS turut membebani pergerakan IHSG,” ujar Didit saat dihubungi oleh Antara di Jakarta, Senin.

Sentimen negatif pasar modal diperparah oleh kebijakan institusi penyedia indeks global yang membekukan serta mengeluarkan sejumlah emiten besar domestik dari daftar konstituen utama mereka.

“Dimana hal ini akan menimbulkan outflow (arus dana keluar) yang cukup besar di akhir Mei (2026) nanti,” ujar Didit.

Pengamat Pasar Modal Reydi Octa menambahkan bahwa kepanikan psikologis pasar dipicu oleh kombinasi penataan ulang indeks MSCI serta peringatan keras dari FTSE Russell terkait kriteria kepemilikan saham tertentu.

“Pasar masih dibayangi risk-off akibat eskalasi geopolitik Timur Tengah, pelemahan rupiah, serta aksi jual asing yang kembali agresif di saham big caps. Efek lanjutan rebalancing MSCI juga membayangi pasar IHSG hari ini,” ujar Reydi.

Hingga penutupan perdagangan sesi pertama, aksi beli bersih oleh otoritas moneter dan intervensi kementerian keuangan terus berjalan di pasar sekunder untuk menahan depresiasi rupiah lebih lanjut.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed