Pemerintah Tegaskan Kunjungan Luar Negeri Presiden Prabowo Bukti Sikap Proaktif RI

Smallest Font
Largest Font

Pemerintah menegaskan rangkaian kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto menjadi bukti nyata sikap proaktif Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia di tengah gejolak geopolitik global yang tidak menentu pada hari Jumat, 5 Juni 2026. Langkah diplomasi aktif ini dinilai krusial guna mengamankan kepentingan nasional di sektor ekonomi, energi, dan pangan.

Menteri Luar Negeri Sugiono menyatakan bahwa dinamika global yang terjadi saat ini tidak dapat dihadapi dengan cara-cara konvensional biasa. Menurut penjelasan Sugiono, situasi yang tidak biasa ini justru mengundang keterlibatan aktif Indonesia dalam upaya ketertiban dunia.

"Terkait dengan perkembangan dan dinamika yang terjadi saat ini, kita tidak bisa mengikuti jalur-jalur konvensional karena situasinya juga tidak biasa. Dan ini amat mengundang Indonesia ingin terlibat dalam upaya perdamaian dan ketertiban dunia secara proaktif,"

ujar Menteri Luar Negeri Sugiono.

Sugiono menambahkan bahwa konsekuensi dari sikap proaktif ini mengharuskan Indonesia untuk hadir di banyak tempat dan merangkul semua pihak. Pemerintah memandang bahwa strategi ini penting agar substansi dan prioritas nasional yang telah ditentukan oleh Presiden dapat dibahas langsung dengan para pemimpin dunia.

Perkuat Diplomasi Kunjungan Presiden Prabowo di Tengah Geopolitik Global | METRO TV

Capaian Nyata Diplomasi Indonesia dalam 1,5 Tahun

Kritik yang menyebut kunjungan luar negeri kepala negara hanya bersifat seremonial langsung dibantah keras oleh pihak Istana. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyatakan pandangan tersebut salah besar karena publik harus melihat hasil nyata yang dicapai dalam waktu 1,5 tahun terakhir.

"Jadi salah besar, kalau dibilang hanya gagah-gagahan, seremonial. Jadi kita harus lihat apa yang sudah dicapai dalam 1,5 tahun terakhir ini,"

tegas Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.

Manfaat Strategis Gabung BRICS dan Perjanjian IEU-CEPA

Salah satu capaian diplomasi yang paling disorot adalah keberhasilan Indonesia bergabung dengan kelompok ekonomi BRICS pada Januari 2025. Menurut keterangan Teddy Indra Wijaya, keputusan ini memberikan dampak langsung terhadap ketahanan domestik dari imbas konflik dunia, terutama kenyamanan pemenuhan energi dan pangan masyarakat.

"Indonesia masuk BRICS. Manfaatnya apa? Ya sekarang ini, di tengah konflik krisis dunia, situasi negara terjamin. Stok BBM aman, harga BBM subsidi tidak naik. Stok pangan aman,"

kata Teddy Indra Wijaya.

Selain BRICS, pemerintah juga merampungkan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa (IEU-CEPA) yang ditandatangani pada tahun 2025 setelah melewati proses negosiasi panjang selama 10 tahun. Perjanjian dagang ini secara signifikan memangkas hambatan perdagangan antarkawasan.

Implementasi kerja sama internasional tersebut meliputi beberapa poin strategis berikut:

  • Penerapan tarif impor 0 persen untuk hampir semua komoditas barang antara Indonesia dengan 25 negara anggota Uni Eropa.
  • Penguatan posisi tawar komoditas ekspor unggulan Indonesia di pasar Eropa.
  • Peningkatan pengiriman bantuan kemanusiaan ke Palestina yang sukses dilakukan secara langsung melalui jalur udara.
  • Kelancaran pelaksanaan program ibadah haji bagi jemaah Indonesia pada tahun 2025 dan 2026.

Realisasi Investasi dan Dampak Ekonomi Nasional

Kehadiran intensif Presiden Prabowo Subianto dalam kunjungan kenegaraan ke berbagai negara selama 1,5 tahun terakhir turut membawa dampak instan pada arus modal yang masuk ke dalam negeri. Hubungan bilateral yang erat memicu lonjakan komitmen investasi dari negara-negara mitra strategis.

Berdasarkan data resmi dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), total investasi yang berhasil diserap oleh Indonesia dari berbagai kemitraan internasional menyentuh angka ribuan triliun rupiah.

Berikut adalah rincian capaian investasi asing yang tercatat oleh BKPM dalam periode kepemimpinan 1,5 tahun terakhir:

Daftar Capaian Investasi Negara Kunjungan Presiden
Sumber Investasi / KunjunganNilai Realisasi Investasi
Total Investasi Masuk (Data BKPM)Rp 2.430 triliun
Kunjungan ke Jepang dan Korea SelatanRp 575 triliun
Mitra Internasional Lainnya

Sektor investasi dari kunjungan ke Jepang dan Korea Selatan yang terlaksana beberapa bulan lalu difokuskan pada penguatan infrastruktur dan industri hilirisasi nasional. Pemerintah memastikan bahwa seluruh komitmen kerja sama global yang telah ditandatangani akan terus dikawal implementasinya secara intensif demi menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed