Pixar Rilis Toy Story 5 yang Mengangkat Isu Ketergantungan Gawai Anak

Smallest Font
Largest Font

Pixar resmi merilis film animasi terbaru "Toy Story 5" di bioskop pada Jumat, 19 Juni 2026, yang mengangkat dinamika tantangan pola asuh modern terkait peningkatan waktu layar atau screen time pada anak-anak.

Film yang disutradarai oleh Andrew Stanton ini mengisahkan karakter mainan koboi Jessie dan Buzz Lightyear yang harus bersaing memperebutkan perhatian Bonnie, pemilik mereka yang berusia 8 tahun, setelah kehadiran sebuah komputer tablet bernama Lilypad.

Data dari aplikasi kontrol orang tua milik perusahaan keamanan online Aura terhadap hampir 30.000 perangkat menunjukkan bahwa durasi penggunaan gawai pada anak usia 7 hingga 12 tahun melonjak hingga 30 persen atau sekitar empat jam lebih banyak per minggu selama liburan musim panas dibandingkan saat masa sekolah.

Selain itu, survei Aura mengungkapkan bahwa 75 persen anak-anak usia 7 hingga 11 tahun lebih memilih menonton video daripada bermain dengan mainan konvensional mereka, sebuah realitas yang menjadi inti dari konflik alur cerita Toy Story 5.

Psikolog di Aura, Lauren Lee, menjelaskan bahwa ketiadaan rutinitas sekolah membuat anak-anak lebih mudah beralih ke perangkat digital untuk mengatasi rasa bosan.

"For kids, 7 to 12, they are using and spending more time on their screens, about 30% more, which is equivalent to about four more hours per week compared to school time," kata Lauren Lee, Psikolog di Aura.

Lee menambahkan bahwa aktivitas digital anak-anak meningkat drastis bahkan hingga tengah malam selama masa liburan.

"We are seeing nighttime messaging rates more than doubling across all age groups compared to the fall," ujar Lauren Lee, Psikolog di Aura.

Dampak negatif dari tingginya durasi penggunaan layar ini juga disorot oleh para ahli kesehatan karena dapat menggeser waktu istirahat dan aktivitas fisik anak.

"Time that is generally spent on screens is often displacing sleep, physical activity or outdoor time," tutur Dr. Jason Nagata, Dokter Anak di University of California, San Francisco.

Menurut Nagata, banyak anak sebenarnya tidak ingin terus-menerus terpaku pada ponsel mereka jika diberikan alternatif aktivitas lain yang menarik.

"Many children and teens themselves report that they actually don't want to be glued to their phones over the summer," kata Dr. Jason Nagata, Dokter Anak di University of California, San Francisco.

Ia juga menyarankan agar orang tua membatasi penggunaan gawai dengan menyediakan kegiatan pengganti yang menyenangkan.

"If you're just saying, 'Oh, you have to limit your screen use to 1 or 2 hours a day without providing fun alternatives, it can be really hard if the kid is still stuck at home and kind of bored," ucap Dr. Jason Nagata, Dokter Anak di University of California, San Francisco.

Di sisi lain, advokat kesehatan mental anak, Josephine Hunt, menekankan pentingnya komunikasi terbuka di dalam keluarga terkait penggunaan gawai karena anak-anak cenderung meniru perilaku orang tua mereka.

"We may be on a device answering emails or doing work, working on proposals or projects, but our children are seeing us on the screen and not really understanding that," kata Josephine Hunt, Advokat Kesehatan Mental Anak.

Sementara itu, spesialis perkembangan anak Dr. Siggie Cohen mengingatkan orang tua untuk tetap terlibat dan membangun koneksi emosional dengan anak-anak meskipun mereka sedang menggunakan perangkat digital.

"First and foremost, stay connected to your children, even when they’re on the devices," ujar Dr. Siggie Cohen, Spesialis Perkembangan Anak.

Cohen menambahkan bahwa pendekatan dengan rasa ingin tahu yang tulus terhadap dunia digital anak jauh lebih efektif daripada sekadar mengawasi dengan ketat.

"Know their world, understand it — not just because you're watching like a watchdog, but because you really are present," tutur Dr. Siggie Cohen, Spesialis Perkembangan Anak.

American Academy of Child and Adolescent Psychiatry pada tahun 2025 memperkirakan anak-anak usia 8 hingga 18 tahun di Amerika Serikat menghabiskan rata-rata 7,5 jam sehari di depan layar.

Melalui narasi persaingan antara teknologi dan mainan tradisional ini, Toy Story 5 berhasil meraih skor awal 93 persen di Rotten Tomatoes berdasarkan 178 ulasan kritikus film pada hari perilisannya.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed