Polda Metro Jaya Siagakan Personel dan Amankan 21 Orang Jelang Demo BEM UI

Smallest Font
Largest Font

Polda Metro Jaya menerjunkan 9.242 personel gabungan untuk mengamankan aksi unjuk rasa yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, pada Selasa, 18 Agustus 2026.

Pengamanan skala besar ini disiapkan untuk mengawal 31 aksi demonstrasi dan 16 kegiatan masyarakat di wilayah hukum Polda Metro Jaya. Personel gabungan tersebut terdiri dari 5.670 personel Polda Metro Jaya, 222 personel Polres jajaran, 1.500 personel TNI, serta 1.850 personel BKO Mabes Polri.

Di tengah persiapan pengamanan, pihak kepolisian mengamankan 21 orang yang saat ini menjalani pemeriksaan di Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya. Penangkapan dilakukan karena mereka diduga membawa barang-barang berbahaya seperti petasan, flare, dan botol yang disiapkan sebagai bahan pembuatan bom molotov. Polisi mendalami dugaan bahwa kelompok tersebut tidak terafiliasi dengan mahasiswa peserta aksi.

"Kami jamin rekayasa lalu lintas sifatnya situasional. Apabila terjadi kepadatan arus, kita akan melakukan pengalihan ataupun rekayasa lalu lintas secara situasional," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto kepada wartawan, Selasa (18/8/2026).

Budi menambahkan bahwa keberadaan massa di kawasan pusat perekonomian dan transportasi seperti Bundaran HI, Patung Kuda, Semanggi, dan Sudirman berpotensi mengganggu aktivitas warga lain. Ia mengingatkan adanya kewajiban peserta aksi untuk menghormati hak masyarakat umum sesuai pasal 6 Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998.

"Kepada seluruh warga masyarakat untuk yang melaksanakan kegiatan di seputaran Jakarta Pusat, yaitu sekitar Bundaran HI, sekitar Merdeka Selatan, untuk Monas, termasuk dapat memperhatikan informasi dan petunjuk petugas di lapangan," ujarnya.

Aparat mengimbau agar massa aksi mempertimbangkan lokasi penyampaian pendapat ke titik lain agar kegiatan masyarakat tetap berjalan lancar.

"Apabila tempat-tempat ini dijadikan tempat penyampaian aspirasi, akan mengganggu kegiatan masyarakat lainnya. Kita harus membangun empati, kita harus berpikir bahwa kegiatan aktivitas masyarakatnya juga hal yang penting," tuturnya.

Pihak kepolisian menjamin proses pengamanan akan mengedepankan pendekatan profesional serta humanis tanpa menggunakan senjata api.

"Adapun personel yang sudah dipersiapkan 9.242 personel ini terdiri dari Polda Metro Jaya 5.670 personel, Polres jajaran 222 personel, TNI 1.500 personel, dan BKO Mabes Polri 1.850 personel" kata Budi usai apel kesiapan pengamanan di Lapangan Presisi Polda Metro Jaya, Jakarta Pusat Selasa (18/8).

Polda Metro Jaya menegaskan pentingnya menjaga suasana kondusif selama penyampaian pendapat berlangsung.

"Kehadiran petugas TNI-Polri dan pemerintah provinsi DKI memberikan rasa aman agar apa yang disampaikan tersampaikan dengan baik," ujarnya.

Penjagaan ketat dilakukan demi memastikan seluruh aktivitas warga di sekitar lokasi demo tetap aman.

"Ada Pasal 6 dalam Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998, di mana para peserta aksi juga harus memperhatikan masyarakat lainnya. Di sekitar kita masih banyak masyarakat yang melaksanakan aktivitas rutin, aktivitas kegiatan pendidikan, sekolah, kuliah, pendidikan perekonomian, pekerjaan rutin, dan kegiatan-kegiatan kesehatan ataupun kegiatan masyarakat lainnya.” kata Budi.

Petugas di lapangan diinstruksikan untuk bertindak terukur dan menghindari tindakan represif.

"Kita sama-sama menyampaikan secara profesional, humanis, karena yang menyampaikan aspirasi adalah saudara-saudara kita bersama, termasuk yang melaksanakan pengamanan ini adalah bagian dari keluarga besar kita," ujar Budi.

Langkah taktis disiapkan untuk mengantisipasi potensi kemacetan di sejumlah ruas jalan protokol.

“Apabila ada kepadatan arus lalu lintas, dan kami jamin rekayasa lalu lintas sifatnya situasional,” kata Budi.

Pusat keramaian Jakarta menjadi fokus utama pengawasan demi menjaga stabilitas keamanan.

"Kita sama-sama mengetahui bahwa Bundaran HI, Patung Kuda, Semanggi, Sudirman ini merupakan center of gravity yang ada di wilayah Jakarta. Pusat perekonomian, perhotelan internasional, pusat kegiatan aktivitas masyarakat di mana pusat perbelanjaan, moda transportasi. Apabila tempat-tempat ini dijadikan tempat penyampaian aspirasi, akan mengganggu kegiatan masyarakat lainnya,” ujar Budi.

Sementara itu, pimpinan pengamanan menekankan agar seluruh anggota tidak terpancing emosi selama bertugas.

"Pengamanan unjuk rasa harus berjalan aman, tertib dan tidak boleh menimbulkan kerusuhan maupun perusakan fasilitas umum. Kita semua yang bertugas jangan mudah terpancing emosi, kendalikan diri, laksanakan tugas dengan humanis, sabar, dan terukur, serta menjadikan tindakan hukum adalah langkah terakhir, ultimum remedium," kata Karo Ops Polda Metro Jaya Kombes Pol La Ode Aries El Fathar.

Seluruh personel diminta mematuhi komando tunggal dan mengedepankan ruang dialog.

"Semua tindakan di lapangan harus satu komando. Tidak boleh ada inisiatif sendiri tanpa instruksi," tegasnya.

Pemeriksaan ketat dilakukan terhadap kelengkapan anggota sebelum diterjunkan ke lapangan.

"Tidak ada penggunaan senjata api dalam bentuk apa pun, termasuk rekan-rekan yang berpakaian preman, baik pada Satgas Intel maupun Satgas Gakkum," ujar Aries.

Aksi unjuk rasa yang mengusung tema #MerebutKemerdekaan ini digelar sehari setelah peringatan HUT ke-81 RI. Massa mahasiswa berkumpul mulai pukul 10.00 WIB di FISIP UI sebelum bergerak menuju Bundaran HI pada pukul 13.00 WIB.

"Kepada warga Jakarta, kami mohon maaf atas kemacetan hari ini. Namun ingat: kemacetan lalu lintas ini hanya beberapa jam, sedangkan kemacetan struktural, kemacetan lapangan kerja, dan kemacetan keadilan yang dipaksakan sudah delapan puluh satu tahun dan terus memburuk," kata Ketua BEM UI, Yatalathof Imawan.

Dalam aksinya, BEM UI membawa delapan poin tuntutan, di antaranya menghentikan KKN, mewujudkan reforma agraria sejati, menurunkan harga BBM dan kebutuhan pokok, mengevaluasi PSN serta menghentikan MBG dan KDMP, mengembalikan otonomi daerah, menetapkan status bencana nasional untuk Sumatra dan Flores, serta menghentikan intervensi TNI-Polri dalam ruang sipil.

"Halo, UI dan Indonesia! Kemerdekaan bukan sekedar perayaan. Ketika seorang rakyat masih dibungkam, hak-hak masih direnggut, dan ruang hidup semakin dipersempit maka kemerdekaan tidak cukup hanya dikenang. Kemerdekaan harus diperjuangkan kemerdekaan harus direbut kembali," tulis BEM UI lewat akun @bemui_official.

Mahasiswa menilai kondisi kedaulatan negara saat ini sedang mengalami krisis akibat berbagai kebijakan yang merugikan rakyat.

"Hari ini, sehari setelah seremoni kenegaraan itu digelar, kami turun ke jalan bukan untuk merayakan, tapi untuk bertanya dengan lantang: kemerdekaan macam apa yang sedang kita rayakan? kemerdekaan yang diperjuangkan pendiri bangsa 81 tahun lalu?" tuturnya.

BEM UI menegaskan perjuangan kemerdekaan seharusnya diperuntukkan bagi seluruh rakyat Indonesia.

"Ini bukan sekadar krisis ekonomi. Ini krisis kedaulatan," ucapnya.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed