Rebalancing Indeks Global Picu Aliran Keluar Dana Asing Rp45 Triliun

Smallest Font
Largest Font

Aksi penyesuaian portofolio oleh penyedia indeks global MSCI dan FTSE Russell memicu aliran keluar dana asing dari pasar modal Indonesia menjelang akhir Mei 2026. Berdasarkan data pasar hingga Selasa (26/5/2026), akumulasi penjualan bersih oleh investor asing telah menembus angka Rp45,45 triliun secara year to date.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada penurunan Indeks Harga Saham Gabungan sebesar 29,11 persen ke level 6.130,19. Selain itu, nilai kapitalisasi pasar bursa domestik ikut menyusut hingga menyentuh Rp10.617 triliun, dengan kapitalisasi saham free float berada di angka Rp2.734 triliun.

Penurunan ini juga dipengaruhi oleh pengurangan bobot Indonesia di indeks emerging markets FTSE Russell dari 0,88 persen menjadi 0,86 persen setelah didepaknya PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA). Riset Ajaib Sekuritas memperkirakan potensi hengkangnya dana pasif dari Vanguard FTSE Emerging Market ETF mencapai 27,72 juta dolar AS atau sekitar Rp487,8 miliar, dengan total potensi outflow dana pasif global diproyeksikan menembus 297 juta dolar AS atau setara Rp5,2 triliun.

"Hari Jumat Tanggal 29 Mei 2026, pasar saham Indonesia mungkin akan menghadapi volatilitas tinggi, karena pada tanggal tersebut fund manager pasif mungkin akan melakukan rebalancing portofolio mengikuti pengumuman MSCI pada 12 Mei 2026," ujar Hans Kwee, Co Founder PasarDana dan Praktisi Pasar Modal melalui keterangan pers.

Penyesuaian portofolio ini melibatkan penghapusan enam saham Indonesia dari MSCI Global Standard Indexes serta 13 saham dari MSCI Small Cap Indexes yang berlaku setelah penutupan perdagangan Jumat (29/5/2026) dan efektif mulai Senin (1/6/2026). Di antara saham yang dikeluarkan terdapat nama-nama besar seperti PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), meski PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) dipindahkan ke indeks small cap.

"Yang menarik tidak terlihat kepanikan berarti di pasar, biarpun sebagian saham yang dikeluarkan MSCI tertekan turun. Masih ada potensi tekanan turun khususnya pada saham-saham yang di keluar oleh MSCI Global Standard Index dan MSCI Small Cap Index," papar Hans.

Kendati terjadi tekanan jual pada saham-saham yang didepak, Hans melihat penurunan ini lebih bersifat teknikal terkait metodologi pembobotan dan aspek likuiditas.

"Ini bukan mencerminkan perubahan atau penurunan fundamental pada perusahaan tersebut," pungkas Hans.

Setelah proses rebalancing ini selesai, pergerakan bursa domestik diharapkan dapat mencapai titik terendahnya dan berpeluang untuk kembali bangkit. Hal tersebut didukung oleh langkah Otoritas Jasa Keuangan bersama Self-Regulatory Organization dalam mereformasi transparansi pasar.

"Kondisi tersebut diharapkan dapat semakin meningkatkan kepercayaan investor lokal maupun asing terhadap pasar modal Indonesia," lanjut Hans.

Di sisi lain, hengkangnya sejumlah emiten dari indeks global diprediksi akan mengubah peta pembobotan saham di dalam negeri. Kondisi ini berpotensi mengalihkan perhatian investor asing ke saham-saham dengan tata kelola yang lebih baik.

"Keluarnya sejumlah emiten justru menjadi katalis bagi investor global untuk mereposisi portofolio mereka ke saham-saham fundamental kuat. Fenomena ini berpotensi mengarahkan rotasi likuiditas asing ke saham dengan free float dan governance lebih sehat seperti BBCA, BMRI, BBNI, dan TLKM," jelas Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia.

Tekanan jual di pasar saham akibat rebalancing indeks FTSE Russell sendiri diperkirakan oleh Ajaib Sekuritas masih akan berlangsung hingga tanggal efektif perombakan pada 22 Juni 2026.

"Tekanan jual diperkirakan berlangsung hingga tanggal efektif rebalancing pada 22 Juni 2026," kata Ajaib Sekuritas.

Hingga periode akhir Mei 2026, peta kapitalisasi pasar di bursa Indonesia masih dipimpin oleh PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan nilai Rp729 triliun, disusul oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) senilai Rp461 triliun, dan PT DCI Indonesia Tbk (DCII) sebesar Rp460 triliun.

Daftar 10 Saham dengan Kapitalisasi Pasar Terbesar di Bursa Indonesia per 26 Mei 2026
PeringkatKode SahamNama EmitenKapitalisasi Pasar (Market Cap)Kontribusi terhadap Total Market Cap
1BBCAPT Bank Central Asia TbkRp729 triliun6,87%
2BBRIPT Bank Rakyat Indonesia (Persero) TbkRp461 triliun4,34%
3DCIIPT DCI Indonesia TbkRp460 triliun4,33%
4BMRIPT Bank Mandiri (Persero) TbkRp382 triliun3,59%
5BRENPT Barito Renewables Energy TbkRp353 triliun3,33%
6BYANPT Bayan Resources TbkRp331 triliun3,12%
7MORAPT Mora Telematika Indonesia TbkRp320 triliun3,01%
8TLKMPT Telkom Indonesia (Persero) TbkRp306 triliun2,88%
9AMMNPT Amman Mineral Internasional TbkRp226 triliun2,12%
10ASIIPT Astra International TbkRp207 triliun1,95%

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed