Asing Jual Saham CPIN Rp681 Miliar Jelang Efektif Rebalancing MSCI
Aksi jual bersih oleh investor asing melanda PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dengan nilai mencapai Rp681,9 miliar pada penutupan perdagangan Senin (31/8/2026). Tekanan pelepasan saham tersebut dipicu oleh penyesuaian portofolio investor global menjelang berlakunya hasil evaluasi indeks MSCI Inc.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, penyesuaian Indeks MSCI Agustus 2026 menempatkan CPIN keluar dari Indeks Utama MSCI dan turun kelas ke MSCI Global Small Cap Index. Perubahan komposisi ini berlaku efektif pada perdagangan Selasa (1/9/2026).
Selain CPIN, aksi jual bersih asing juga menyasar sejumlah emiten papan atas lainnya. Saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) mencatatkan net sell sebesar Rp189,4 miliar, disusul PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) sebesar Rp129,4 miliar, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) Rp97 miliar, serta PT Astra International Tbk (ASII) sebesar Rp96,7 miliar.
Tekanan dari investor asing turut membayangi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Meski sempat melemah hingga menyentuh titik terendah 6.476,18, IHSG akhirnya ditutup menguat tipis 0,11 persen atau naik 7,36 poin ke level 6.525,48. Nilai transaksi harian di pasar reguler melonjak hingga Rp24,72 triliun dengan volume mencapai 48,93 miliar saham.
Secara keseluruhan, tercatat 10 emiten resmi dikeluarkan dari Indeks Utama MSCI maupun MSCI Global Small Cap. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT Bank Jago Tbk (ARTO) termasuk dalam daftar emiten yang terdepak dari papan utama. Pada perdagangan Senin, saham GOTO mencatatkan aksi jual bersih asing sebesar Rp83,2 miliar, sementara ARTO mencatatkan net sell Rp61 miliar.
Kendati tertekan penyesuaian MSCI yang memicu arus modal keluar jangka pendek, prospek CPIN dinilai masih memiliki daya tarik. Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M Nafan Aji Gusta, memberikan penilaian terhadap posisi fundamental perseroan.
"CPIN masih memiliki fundamental yang relatif kuat karena ditopang oleh bisnis poultry yang terintegrasi, posisi pasar yang kuat, potensi perbaikan margin apabila harga jual ayam dan DOC lebih sehat, efisiensi biaya pakan, serta potensi pemulihan daya domestik," ujar M Nafan Aji Gusta, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas.
Faktor penopang utama fundamental perseroan terlihat dari kinerja keuangan semester I 2026. CPIN membukukan laba bersih sebesar Rp3,70 triliun, melonjak 94,74 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,90 triliun. Pertumbuhan laba tersebut didorong kenaikan pendapatan bersih sebesar 19,21 persen menjadi Rp39,41 triliun.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow