Restoran Gunakan Gambar AI di Menu, Pelanggan Banyak Mengeluh di San Francisco

Smallest Font
Largest Font

Sebuah tren baru muncul di kalangan restoran dengan penggunaan gambar hasil kecerdasan buatan (AI) pada menu dan materi promosi mereka, yang justru memicu kekecewaan pelanggan di San Francisco, kata dilansir dari Detik Food.

Gambar makanan buatan AI ini sering kali menampilkan visual yang buruk seperti saus meleleh tidak wajar dan tekstur roti yang aneh, sehingga tidak menggugah selera. Pelanggan yang melihat papan menu di sebuah kedai kopi dan toko roti di San Francisco bulan lalu pun memberikan reaksi negatif, terutama melalui unggahan di Reddit yang mendapat lebih dari 720 upvote.

Reaksi keras tidak hanya berhenti di dunia maya. Pada 2 Juni, pemilik toko mendapati kanopi tokonya dicoret dengan cat merah membentuk kata "seriously" sebagai tanda ketidakpuasan warga sekitar, lapor HuffPost mengutip SF Gate.

Alexander Avila, pembuat esai video, menyindir bahwa foto makanan yang diambil dengan kamera biasa sekalipun lebih menggugah selera dibandingkan hasil AI, dan menilai praktik ini menunjukkan kurangnya rasa percaya diri restoran.

"Foto makanan seburam apa pun dari kamera sungguhan tetap jauh lebih menggugah selera dibanding hasil AI," ujar Alexander Avila.

Jurnalis Katie Rife memberikan contoh visual berupa papan iklan AI yang mempromosikan nugget ayam, namun hasilnya justru menyerupai potongan anjing goldendoodle, menambah kritik terhadap penggunaan gambar AI.

Brad A. Johnson, mantan kritikus restoran dan fotografer industri perhotelan, memahami alasan penggunaan gambar AI karena biaya fotografer profesional mahal dan keterbatasan waktu pelaku usaha kecil.

"Langkah ini rawan jadi bumerang karena pelanggan bisa kehilangan kepercayaan begitu melihat hidangan asli yang jauh berbeda dari fotonya," kata Brad A. Johnson.

Lindsay Kreighbaum, fotografer konten makanan, menyebut praktik ini sebagai iklan palsu yang merusak kepercayaan pelanggan karena gambar tidak menampilkan produk asli restoran.

"Tampilan makanan hasil AI saat ini masih terasa janggal, teksturnya seperti karet, dan saus atau cairannya seperti melawan gravitasi," ujar Lindsay Kreighbaum.

Berbeda dengan San Francisco, Michael Russell, kepala kritikus restoran The Oregonian, mengatakan penggunaan AI pada menu restoran di Portland belum banyak ditemukan dan lebih sering menjumpai menu tulisan tangan dengan ilustrasi teman koki yang seniman.

Di kawasan food cart yang padat, para pelaku usaha kecil, termasuk imigran baru, mulai memanfaatkan teknologi gratis untuk mempercantik menu, walaupun hasilnya terkadang terlihat janggal secara visual atau "uncanny valley".

Fotografer makanan Andrea D'Agosto mengingatkan bahwa fotografi makanan komersial harus mematuhi aturan kejujuran dalam periklanan, seperti tidak menampilkan porsi berlebihan yang berisiko digugat.

"Restoran lokal mungkin tidak kena denda karena menggunakan AI, tapi risikonya kehilangan kepercayaan pelanggan secara perlahan," ujar Andrea D'Agosto.

Penulis kuliner dan perjalanan Jenn Tanaka menilai penolakan terhadap gambar makanan AI merupakan bagian dari penolakan lebih luas terhadap kecerdasan buatan secara umum.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed