Restorasi Rumah Raden Saleh Cikini Butuh Dana Rp37 Miliar

Smallest Font
Largest Font

Proses pemugaran bangunan bersejarah Rumah Raden Saleh yang terletak di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, terus berjalan. Pemugaran yang ditargetkan selesai pada November 2026 ini mengembalikan desain arsitektur ke bentuk aslinya seperti saat pertama kali dibangun pada 1852.

Seperti dilansir dari Detikcom, langkah restorasi terpaksa diambil lantaran kondisi fisik bangunan berusia 170 tahun tersebut telah mengalami kerusakan parah. Struktur utama rumah tercatat makin miring dan rapuh sehingga memicu ancaman kelapukan total jika tidak segera diperbaiki.

COO PT Oikohugis Fortuna Properti, Gomar Gultom, mengonfirmasi bahwa pengerjaan fisik terpaksa dilakukan karena struktur awal sudah membahayakan. Anak usaha Yayasan Kesehatan PGI Cikini ini mencatat perancah besi bahkan telah dipasang di area depan pintu utama demi menopang beban bangunan.

"Tidak ada pilihan memang. Bukan karena kita sudah siap dari segi dana. Soalnya pada waktu itu sudah terancam roboh. Jadi ada beberapa lokasi yang sudah makin miring," kata Gomar Gultom saat ditemui di lokasi restorasi pada Selasa (4/8/2026).

Pelaksanaan pemugaran menghadapi hambatan besar akibat ketiadaan cetak biru maupun dokumen rancangan awal. Tim pengelola bersama konsultan Pusat Dokumentasi Arsitektur serta pihak kontraktor dari Decorient harus meneliti foto-foto era kolonial demi melacak denah orisinal.

Selain pencarian data sejarah, penyediaan material pengganti menjadi tantangan teknis tersendiri. Tim restorasi sepakat hanya mengganti elemen kayu jati atau batuan yang lapuk, sementara komponen yang masih kokoh dipertahankan sesuai wujud aslinya.

Penggantian ubin sempat memicu perdebatan di internal tim konservasi. Opsi penggunaan material marmer akhirnya dibatalkan karena dinilai terlalu mewah dan tidak selaras dengan karakter hunian era 1852. Tim akhirnya memesan ubin khusus yang diproduksi ulang agar mirip dengan spesifikasi lama.

Elemen detail lain seperti engsel kuningan pada pintu juga diproduksi baru mengikuti bentuk asli. Langkah ini diambil karena engsel lama sudah tidak berfungsi dan permukaannya tertutup tumpukan cat bekas pemugaran terdahulu.

Skema Pendanaan dan Penemuan Patung Misterius

Hingga pertengahan 2026, total dana mandiri yang dialokasikan Yayasan Kesehatan PGI untuk proyek ini telah mencapai sekitar Rp37 miliar. Nilai investasi tersebut belum mencakup kebutuhan instalasi listrik, pendingin ruangan, serta perabotan interior.

Gomar Gultom mengungkapkan bahwa seluruh pembiayaan ditanggung oleh pihak yayasan tanpa bantuan dana dari pemerintah. Meski tujuh area di dalam kompleks telah ditetapkan sebagai cagar budaya, kendala birokrasi dan persyaratan administratif menjadi alasan belum mengalirnya bantuan resmi.

"Pemerintah menuntut terlalu banyak, kita harus lakukan ini, tapi tidak diimbangi dengan sedikit pun bantuan. Bahkan mempermudah prosedur pun tidak. Jadi ini kita kadang-kadang bingung juga dari negara ini, jadi kita dituntut terlalu banyak, tapi tidak ada usaha untuk menolong," tutur Gomar Gultom.

Di tengah pengerjaan proyek, tim lapangan menemukan sebuah patung misterius di area lantai satu ruangan sebelah kiri pintu masuk. Patung berbahan dasar belum teridentifikasi tersebut menggambarkan sosok ibu yang membungkuk sembari menuntun bayinya.

Asal-usul, pembuat, serta pemaknaan dari patung tersebut belum diketahui secara pasti oleh tim peneliti hingga saat ini. Keberadaan karya seni tersebut menambah deretan sejarah dari rumah yang terinspirasi dari Istana Callenberg di Jerman itu.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed