Rupiah Melemah ke Rp17.660 per Dolar AS pada Senin Pagi
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat merosot tajam hingga menyentuh level Rp17.660 di pasar spot pada Senin, 18 Mei 2026 pagi akibat lonjakan harga minyak mentah dunia dan kenaikan imbal hasil obligasi AS.
Berdasarkan data Refinitiv pukul 10.20 WIB, pelemahan mata uang Indonesia mencapai 1,15 persen dari posisi pembukaan di level Rp17.630 per dolar AS. Kondisi ini berbanding terbalik dibandingkan penutupan perdagangan pada Rabu, 13 Mei 2026 sebelum libur panjang yang sempat menguat ke Rp17.460 atau Rp17.475 per dolar AS menurut data Bloomberg.
Situasi anjloknya kurs rupiah memicu reaksi cepat dari parlemen dengan memanggil jajaran petinggi bank sentral ke Gedung Parlemen Jakarta pada hari yang sama. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo beserta para deputi gubernur menghadiri rapat kerja bersama Komisi XI DPR yang secara resmi mengagendakan pembahasan Laporan Kinerja Bank Indonesia Tahun 2025.
Tekanan mata uang tidak hanya melanda Indonesia, melainkan dialami oleh sejumlah negara lain di kawasan Asia yang terdampak oleh penguatan indeks dolar AS ke level 99,34 hingga 99,353.
"Pelemahan ini terutama terjadi pada negara pengimpor minyak seperti rupee India (INR) dan peso Filipina (PHP), yang kini menghadapi tekanan ganda dari kenaikan harga minyak dan meningkatnya imbal hasil obligasi AS," ujar Michael Wan, analis senior mata uang MUFG Bank dalam laporan risetnya seperti dilansir investor.id.
Michael Wan melanjutkan bahwa komoditas mata uang Asia lain juga mengalami tekanan serupa akibat faktor kerentanan internal.
"tekanan domestik dan sensitif terhadap kenaikan yield AS seperti rupiah Indonesia (IDR)," kata Michael Wan.
Merespons situasi ekonomi makro tersebut, pengamat pasar komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan tren penurunan nilai tukar rupiah masih akan terus berlanjut sepanjang pekan ini.
"Ya bisa saja di Rp 17.800-an, bisa saja di Rp 17.850," ungkap Ibrahim dalam keterangannya.
Ibrahim bahkan memprediksi pelemahan mata uang nasional berpotensi menembus batasan psikologis baru dalam waktu dekat jika sentimen negatif global tidak kunjung mereda.
"Dalam perdagangan di bulan Mei ini kemungkinan besar Rp 18.000 akan tembus," kata Ibrahim.
Di sisi lain, Presiden Prabowo Subianto memberikan pandangan mengenai dampak depresiasi mata uang ini terhadap masyarakat yang berada di wilayah perdesaan.
"RAKYAT di desa enggak pakai dollar kok," ujar Presiden Prabowo Subianto saat meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur yang ditayangkan YouTube Setpres dilansir Kompas.com.
Meskipun demikian, data Kementerian Perdagangan tahun 2026 menunjukkan surplus neraca perdagangan Kuartal I-2026 mengalami kontraksi sebesar 49,16 persen menjadi 5.548,6 juta dolar AS dari sebelumnya 10.914,8 juta dolar AS pada Kuartal I-2025. Penurunan surplus yang dipicu oleh pembengkakan impor migas di tengah penurunan ekspor non-migas ini berisiko memicu inflasi barang impor yang berdampak pada penurunan daya beli masyarakat kota hingga desa.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow