Rupiah Tembus Rp17.529 Per Dolar AS Akibat Tekanan Global

Smallest Font
Largest Font

Nilai tukar rupiah mengalami tekanan berat hingga menyentuh level Rp17.529 per dolar AS pada Kamis (14/5/2026) akibat meningkatnya tensi geopolitik global dan ancaman inflasi Amerika Serikat. Kondisi ini menempatkan rupiah pada posisi terlemah sepanjang sejarah bersamaan dengan pelemahan mayoritas mata uang di kawasan Asia.

Data Bloomberg menunjukkan rupiah terkoreksi 0,3 persen secara harian, sementara yen Jepang turun 0,05 persen ke 157,96 dan dolar Singapura melemah 0,04 persen. Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi melalui Kontan menilai bahwa pergerakan ini sangat dipengaruhi oleh sentimen global yang rapuh dan tekanan inflasi dari Negeri Paman Sam.

Kondisi di perbankan nasional bahkan mencatat angka yang lebih rendah dengan nilai jual fisik rupiah menembus level Rp17.600 per dolar AS. Laporan Kompas TV menyebutkan kurs di Bank Rakyat Indonesia, Bank Mandiri, dan BNI sempat menyentuh angka jual Rp17.630, sedangkan Bank Central Asia berada di posisi Rp17.590 per dolar AS.

Pergerakan Kurs Rupiah Mei 2026
TanggalKurs JISDOR (Rp)Pasar Spot (Rp)
7 Mei17.36217.333
8 Mei17.37517.382
11 Mei17.400-an17.414
12 Mei17.51417.529
13 Mei17.49617.461

Anggota Komisi XI DPR RI, Marwan Cik Asan, memberikan tanggapan terkait situasi ini dengan meminta pemerintah serta Bank Indonesia untuk menjaga kepercayaan pasar. Meskipun rupiah tertekan, ia menekankan bahwa fundamental ekonomi nasional masih cukup kuat jika dibandingkan dengan periode krisis masa lalu.

"Cadangan devisa Indonesia masih berada pada level aman, rasio utang pemerintah terhadap PDB masih terkendali, sistem perbankan relatif sehat, dan rezim nilai tukar mengambang memberikan ruang penyesuaian alami terhadap guncangan global," kata Marwan dalam keterangan tertulis, Kamis (14/5).

Marwan mengingatkan agar pemerintah tidak mengabaikan volatilitas yang tinggi karena berisiko memicu inflasi barang impor dan menekan daya beli masyarakat. Ia menyarankan Bank Indonesia untuk konsisten melakukan intervensi pasar secara terukur.

"Dalam situasi tekanan pasar, persepsi sering kali lebih menentukan dibandingkan data fundamental itu sendiri. Karena itu, forward guidance yang jelas menjadi sangat penting untuk meredam spekulasi," ujarnya.

Selain strategi moneter, Marwan juga menyoroti pentingnya pengawasan terhadap repatriasi devisa hasil ekspor (DHE) sumber daya alam agar tetap berada di dalam negeri. Kepastian hukum dinilai menjadi kunci utama agar pelaku usaha tetap menaruh kepercayaan pada sistem domestik.

"Kebijakan DHE harus konsisten, tidak berubah-ubah, dan memberikan kepastian hukum agar pelaku usaha tetap percaya," tuturnya.

Dalam upaya jangka panjang, DPR mendorong percepatan penggunaan skema Local Currency Settlement (LCS) dengan mitra dagang utama seperti China dan Jepang untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS. Marwan menegaskan bahwa stabilisasi rupiah memerlukan kerja sama lintas lembaga termasuk Kementerian Keuangan.

"Tantangan terbesar Indonesia saat ini bukan hanya tekanan global, tetapi bagaimana menjaga konsistensi kebijakan dan membangun kepercayaan pasar," katanya.

Terkait langkah penyesuaian suku bunga, Marwan berpendapat bahwa kebijakan tersebut harus dilakukan secara hati-hati agar tidak mematikan sektor investasi dan konsumsi domestik. Penentuan kebijakan harus tetap berlandaskan pada data terkini demi menjaga keseimbangan pertumbuhan.

"Karena itu, pendekatan gradual dan data dependent menjadi pilihan paling rasional agar keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga," ujar Marwan.

Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin kepada Kompas TV turut menyoroti bahwa pasar saat ini juga memperhatikan kondisi fiskal dan likuiditas dalam negeri. Pemerintah berencana mengaktifkan dana stabilisasi obligasi sebagai langkah tambahan untuk meredam gejolak di pasar surat utang negara.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed