Rupiah Tembus Rp17.600 Picu Kenaikan Harga Pangan dan Ancaman PHK

Smallest Font
Largest Font

Nilai tukar rupiah melemah hingga menembus level psikologis di atas Rp17.600 per dolar AS pada perdagangan Jumat (15/5/2026) pagi, yang berdampak pada ancaman kenaikan harga kebutuhan pokok dan tekanan berat bagi sektor manufaktur nasional.

Data Bloomberg menunjukkan rupiah sempat menyentuh angka Rp17.606 per dolar AS pada pukul 09.35 WIB sebelum sedikit menguat ke posisi Rp17.596 pada sore hari. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap lonjakan harga komoditas pangan berbasis impor seperti gandum dan kedelai.

Guru Besar Universitas Airlangga, Rahma Gafmi menjelaskan bahwa kenaikan harga bahan baku impor sudah mulai dirasakan produsen sejak akhir April 2026 dan akan segera diteruskan kepada konsumen dalam waktu dekat.

"Pada komoditas berbasis impor seperti gandum dan kedelai, harga akan naik. Ini berarti harga mi instan, roti, tahu, dan tempe berpotensi merangkak naik," ujar Rahma kepada Kompas.com.

Rahma menambahkan bahwa kenaikan harga tahu dan tempe akan sangat membebani masyarakat kelas bawah karena statusnya sebagai sumber protein utama yang terjangkau. Selain pangan, ia juga menyoroti lonjakan harga BBM nonsubsidi seperti Dexlite yang mencapai Rp26.000 per liter.

"Kenaikan harga BBM nonsubsidi meningkatkan ongkos angkut barang dari pelabuhan ke pasar. Akibatnya harga sayur-mayur lokal pun bisa naik meski bukan barang impor," katanya.

Risiko ekonomi semakin besar bagi kelompok menengah yang tidak menerima bantuan sosial namun harus menanggung kenaikan biaya hidup secara mandiri. Rahma memproyeksikan inflasi tahun ini bisa mencapai level 4,5 persen hingga 4,8 persen.

"Kalau harga pangan dan energi tidak terkendali, risiko penurunan kelas ekonomi dari menengah ke bawah akan sangat besar," katanya.

Di sektor industri, Ketua Bidang Ketenagakerjaan Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Bob Azam menyatakan pelemahan rupiah memperparah gangguan rantai pasok global dan menaikkan biaya produksi hingga dua digit.

"Semua membuat rupiah terpuruk dan harga-harga naik, dan berdampak kepada sektor manufaktur," ujarnya kepada Kompas TV.

Meskipun tekanan semakin berat dan potensi PHK kembali dibicarakan, Bob mengeklaim bahwa pelaku usaha telah menyiapkan langkah mitigasi untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi ini.

"Potensi PHK itu sebenarnya sudah kita pikirkan dua sampai tiga tahun yang lalu," ujar Bob.

Fenomena pelemahan rupiah ini juga berdampak langsung pada aktivitas penukaran uang di Jakarta. Dian, seorang petugas money changer di Jakarta Pusat, menyebutkan adanya kenaikan transaksi penjualan dolar AS oleh masyarakat hingga 60 persen saat nilai tukar melonjak.

"Banyak yang jual, kan (kurs rupiah) naik sempat Rp 17.600. Ada kayaknya 50-60 persen," ungkapnya kepada kumparan.

Menurut Dian, perilaku konsumen sangat bergantung pada fluktuasi harga, di mana mereka cenderung menjual simpanan dolar saat nilai tukar sedang tinggi untuk mendapatkan keuntungan.

"Kalau dia lagi tinggi dia biasanya jual. Kalau lagi rendah, mereka dia beli biasanya," katanya.

Namun, tren berbeda terlihat di wilayah Jakarta Selatan. Bimo, seorang penjaga money changer lainnya, justru mencatat adanya peningkatan permintaan pembelian dolar AS hingga 50 persen karena adanya kekhawatiran rupiah akan terus merosot.

"Demand-nya memang lagi banyak yang nyari. Mungkin karena isunya kan bakalan naik ke Rp 20.000 (per dolar AS). Kita enggak tahu bakal bener atau enggak," jelas Bimo.

Bimo menjelaskan bahwa banyak nasabah yang memilih membeli dolar sekarang untuk keperluan investasi jangka panjang atau pembayaran operasional usaha karena memprediksi pelemahan kurs masih akan berlanjut secara signifikan.

"Secara rasio itu demand yang tinggi atau enggak sama aja menurut saya. Cuma kalau dibandingkan yang jual atau yang beli banyak yang mana, lebih banyak yang beli memang sekarang," jelas Bimo.

Selain untuk spekulasi nilai tukar, beberapa nasabah Bimo menggunakan valuta asing untuk keperluan membayar gaji karyawan serta transaksi bisnis yang membutuhkan jaminan dokumen tertentu jika nominalnya besar.

"Banyak yang tau sih, katanya mereka sih buat investasi. Katanya beberapa ada juga yang buat bayar karyawan," ungkap Bimo.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed