Saham TPIA Turun ke Rp1.790 Per Lembar di Tengah Isu Rebalancing MSCI
Harga saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) merosot 10,50 persen ke posisi Rp1.790 per lembar pada perdagangan Senin, 25 Mei 2026, yang dipicu oleh sentimen negatif rebalancing indeks MSCI global standard.
Pelemahan ini membawa saham emiten petrokimia milik konglomerat Prajogo Pangestu tersebut menyentuh level terendah sejak Januari 2022, dengan akumulasi penurunan mencapai 74 persen sepanjang tahun berjalan (year to date).
Dilansir dari Cetro Trading Insight, nilai transaksi saham TPIA pada perdagangan hari itu mencapai Rp138,9 miar dengan volume perdagangan sebanyak 74,34 juta saham.
Tekanan jual masif dari investor global diperkirakan terus berlanjut hingga periode efektif rebalancing pada 1 Juni 2026 karena TPIA resmi dihapus dari MSCI Global Standard Indexes.
BRI Danareksa Sekuritas mencatat pergerakan saham TPIA telah menembus batas bawah psikologis di angka 4.000 dan berpotensi menuju area support baru di kisaran 2.340 hingga 1.305 akibat aksi net foreign sell senilai Rp458 miliar sebulan terakhir.
Meskipun harga saham mengalami tekanan, TPIA tetap menjadwalkan cum date dividen senilai US$ 30 juta atau setara Rp6,07 per saham di pasar reguler dan negosiasi pada Senin, 25 Mei 2026, seperti dilaporkan Investor Daily.
Penurunan harga ini dimanfaatkan oleh investor domestik melalui broker Mirae Asset Sekuritas untuk melakukan aksi beli bersih (net buy) senilai Rp81,6 miliar pada periode 16-22 Mei 2026 dengan harga rata-rata Rp2.496 per saham.
Selain faktor indeks global, pasar juga diresahkan oleh rumor di media sosial mengenai penjaminan saham (repo) oleh PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dan Prajogo Pangestu yang diisukan memicu margin call.
Manajemen BRPT langsung membantah rumor tersebut dan menegaskan bahwa fasilitas pembiayaan serta agunan saham dikelola secara prudent dengan mitigasi risiko yang ketat serta menjaga posisi likuiditas secara disiplin.
Direktur Utama Barito Pacific, Agus Pangestu, memberikan tanggapan mengenai gejolak pasar eksternal serta perkembangan proyek strategis nasional yang sedang dijalankan oleh grup perusahaan.
“Saat ini memang kita mengalami gejolak eksternal, namun kami rasa ini bersifat sementara dan kami optimistis situasi akan membaik. Pabrik Chandra Asri Chlor Alkali ini dibangun bersama Danantara untuk hilirisasi dan kami bersyukur mampu membuka lapangan perkerjaan kurang lebih sampai 3.000 orang," lanjut Agus Pangestu, Direktur Utama Barito Pacific.
Proyek Chlor Alkali-Ethylene Dichloride (CA-EDC) milik TPIA tersebut saat ini pembangunannya telah mencapai 70 persen sebagai bagian dari komitmen mendukung hilirisasi industri dalam negeri.
“Keputusan terkait indeks sebenarnya berada di luar kendali perusahaan karena sepenuhnya mengikuti metodologi dari masing-masing penyedia indeks. Saat ini fokus kami ya tetap pada penguatan fundamental bisnis, kinerja operasional, dan strategi pertumbuhan jangka panjang perusahaan.” kata Agus Pangestu, Direktur Utama Barito Pacific.
Agus menambahkan bahwa fluktuasi jangka pendek ini merupakan hal yang wajar demi mendapatkan keuntungan jangka panjang yang solid di masa depan.
“Seperti kata Ibu Kiki Ketua OJK, ini adalah short-term pain for long-term gain,” tambah Agus Pangestu, Direktur Utama Barito Pacific.
Terkait kebijakan pembentukan Badan Ekspor oleh pemerintah, manajemen menjelaskan bahwa industri Grup Barito berfokus pada substitusi impor, meski tetap memiliki konsumen yang melakukan kegiatan ekspor.
“Mari kita berpikir positif, menurut saya maksud dari kebijakan ini adalah untuk menjadikan kita lebih baik sehingga perlu kita beri waktu, menunggu informasi pelaksanaan yang lebih detil,” ujar Agus Pangestu, Direktur Utama Barito Pacific.
Ia juga meluruskan spekulasi pasar mengenai utang perusahaan dengan menegaskan bahwa posisi kas dan likuiditas di level holding maupun anak usaha berada dalam kondisi sehat.
"Saya rasa informasi ini cukup transparan dalam disclosure keuangan kami, likuiditas kami baik di holding maupun anak usaha ada pada posisi yang cukup baik dan sehat.” kata Agus Pangestu, Direktur Utama Barito Pacific.
Manajemen meyakinkan para pelaku pasar modal bahwa porsi saham yang dijaminkan untuk keperluan pendanaan korporasi berada dalam batas yang sangat aman.
“Kalaupun ada kolateral saham yang dijaminkan atas keperluan perusahaan, saya yakin tidak lebih dari 10%,” tambah Agus Pangestu, Direktur Utama Barito Pacific.
Mikirduit melaporkan bahwa secara fundamental kinerja keuangan TPIA pada kuartal I/2026 tercatat gemilang dengan membukukan pendapatan US$ 2,40 miliar, melonjak 285,80 persen secara tahunan, yang ditopang oleh segmen energi luar negeri.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow