SEAMEO RECFON Sampaikan Temuan Defisiensi Gizi Anak ke BGN
SEAMEO Regional Centre for Food and Nutrition (RECFON) merencanakan penyampaian hasil riset mendalam mengenai kekurangan zat gizi mikro pada anak usia sekolah kepada Badan Gizi Nasional (BGN) pada Rabu (9/9/2026) di Jakarta Pusat.
Riset yang berada di bawah koordinasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah ini mencatat bahwa anak-anak di Indonesia masih mengalami defisiensi mikronutrisi, sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Direktur Pusat SEAMEO RECFON Prof Rini Sekartini menjelaskan bahwa rencana tersebut merupakan bagian dari program kerja lembaga untuk jangka panjang.
"Dari pertemuan wali amanat ini, kita punya salah satunya adalah rencana lima tahun ke depan. Nah, ini adalah salah satu yang akan kami sampaikan kepada Badan Gizi Nasional," kata Centre Director SEAMEO RECFON Prof Rini Sekartini.
Penelitian ini melibatkan 4.292 siswa di 12 kabupaten dan kota melalui kombinasi wawancara asupan makanan 24 jam serta pemeriksaan laboratorium. Hasil studi menunjukkan kekurangan folat menjadi masalah utama pada siswa sekolah dasar, sementara siswa SMP dan SMA juga mengalami kekurangan kalsium, vitamin C, serta seng.
Pihak lembaga menegaskan bahwa kondisi kekurangan gizi mikro pada anak-anak tidak dapat disamaratakan di seluruh kawasan Indonesia. Deputi Direktur Program SEAMEO RECFON Dr dr Brian Sri Prahastuti menyampaikan penjelasannya terkait posisi studi tersebut terhadap kebijakan pemerintah.
"Studi yang dilakukan oleh SEAMEO RECFON ini memang dilakukan beberapa tahun yang lalu sebelum Program Makan Bergizi Gratis itu dijalankan oleh Pemerintah Indonesia," kata Deputi Direktur Program SEAMEO RECFON Dr dr Brian Sri Prahastuti.
Brian menekankan bahwa riset ini berfokus menyajikan pemetaan kondisi gizi anak secara nasional dan bukan ditujukan sebagai bentuk evaluasi terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Poin kami di sini adalah kami tidak dalam rangka mengevaluasi pelaksanaan program MBG dari pemerintah," ucap Brian.
Data lapangan membuktikan bahwa masalah mikronutrisi merupakan fakta konkret yang bervariasi di tiap wilayah, sehingga membutuhkan pendekatan yang disesuaikan dengan kebutuhan lokal.
"Hasil penelitian kami yang menemukan poinnya adalah bahwa kekurangan gizi mikro itu adalah fakta yang ditemukan di lapangan dan tidak bisa disamaratakan," sambung Brian.
Penyebaran hasil riset ini direncanakan menjangkau tingkat kabupaten hingga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar laporan dapat diakses secara penuh oleh para pelaksana di lapangan.
"Hasil penelitian ini perlu dikomunikasikan sampai ke tingkat kabupaten, bahkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pun penting untuk bisa mengetahui isi dari hasil penelitian ini dan mengakses laporan lengkapnya," kata Brian.
Selain diserahkan kepada BGN, Kementerian Kesehatan, dan Kemendikdasmen, temuan riset ini dipaparkan kepada 11 negara anggota SEAMEO di Asia Tenggara sebagai bagian dari rencana strategis lima tahun lembaga.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow