Senat AS Perkenalkan RUU Regulasi Olahraga Kampus Protect College Sports

Smallest Font
Largest Font

Dua senator Amerika Serikat memperkenalkan rancangan undang-undang bipartisan bernama Protect College Sports Act di Washington pada Rabu, 27 Mei 2026, guna mengatasi kekacauan dalam sistem olahraga kampus.

Regulasi setebal 111 halaman ini dirancang untuk mengatur pembayaran atlet, membatasi transfer pemain, menetapkan standar nasional hak nama, citra, dan kemiripan (NIL), serta melarang kepindahan pelatih di tengah musim berjalan.

RUU yang diinisiasi oleh Senator Ted Cruz dari Partai Republik dan Senator Maria Cantwell dari Partai Demokrat ini membutuhkan 60 suara untuk dapat meloloskan diri dari hambatan pemungutan suara di Senat AS.

Perubahan besar ini memicu perdebatan sengit di kalangan petinggi konferensi olahraga kampus, terutama Konferensi Tenggara (SEC) dan Big Ten, yang sedang menggelar pertemuan tahunan mereka secara terpisah.

Senator Ted Cruz dan Maria Cantwell memaparkan landasan filosofis di balik penyusunan regulasi komprehensif yang menargetkan stabilitas jangka panjang sistem kompetisi ini.

"This is a stability bill, not just an NIL bill," kata Cruz, Senator AS dari Texas.

Ia menambahkan bahwa perpindahan pelatih di tengah kompetisi yang sedang berjalan merupakan tindakan yang tidak adil bagi tim yang sedang bertanding.

"It’s not fair or right to poach a coach in the middle of the season while the team is still competing," tutur Cruz.

Pihaknya menyamakan aturan ini dengan kebijakan yang sudah lama diterapkan dalam kompetisi sepak bola profesional Amerika Serikat.

"There’s a reason the NFL has a rule that you can’t do that. Obviously, NFL teams hire coaches away from each other but they don’t do so in the middle of the season," tegas Cruz.

Sementara itu, Senator Maria Cantwell menekankan adanya risiko besar terhadap infrastruktur olahraga jika perlindungan dan kepastian regulasi tidak segera diberikan.

"They didn't like it when I introduced it with (Sen. Cory) Booker and they didn't like it when I introduced it with (Sen. Eric) Schmitt," ungkap Cantwell mengenai penolakan dari SEC dan Big Ten terkait klausul penyiaran.

Ia menduga kedua konferensi raksasa tersebut masih memegang sikap penolakan yang sama terhadap draf terbaru ini.

"And my guess is they still don't like it," lanjut Cantwell.

Cantwell menyatakan kerja sama lintas partai ini krusial mengingat ribuan atlet dan ratusan program olahraga terancam akibat ketiadaan aturan yang seragam.

"Why did we do it? Because when you’ve got thousands of athletes being cut, hundreds of programs being cut, the risk to the whole infrastructure was too high to not try to get better predictability," jelas Cantwell.

Selain para politisi, perwakilan advokasi atlet dan otoritas penegak aturan transfer juga memberikan pandangan mengenai dampak operasional dari regulasi baru ini.

"I think this has lots of great protections and gives the ability for us to stablize the field that is so, so unstable right now," puji Meredith Page, Ketua Komite Advokasi Atlet Pelajar Divisi I NCAA.

Kekhawatiran operasional justru muncul dari internal kampus mengenai membanjirnya kesepakatan NIL menjelang dibukanya bursa transfer sepak bola kampus pada Januari mendatang.

"There's so much over-the-cap money being dedicated or contracted," papar Josh Brooks, Direktur Atletik Georgia.

Ia menyoroti besarnya dana basket yang masuk ke sistem sehingga menuntut adanya rencana eksekusi yang jelas sebelum bursa transfer sepak bola dibuka.

"There's so much money that's already just been put into the system for basketball that if we don't have some relief or an execution plan on how we're going to get there by football, by the portal…" keluh Brooks tanpa menyelesaikan kalimatnya.

Brooks juga mengusulkan ide penerapan sistem batas pajak barang mewah internal di level konferensi guna menyiasati batasan bagi hasil pemain sebesar 21,3 juta dolar AS.

"Maybe we develop our own luxury tax or something that gives us room so we can grow our rev share number, because otherwise the storm hasn't hit yet," saran Brooks.

Ia memprediksi jumlah dokumen kerja sama yang masuk ke Komisi Olahraga Kampus (CSC) akan melonjak drastis dalam waktu dekat.

"The amount of deals that are going to be submitted to CSC in the next three months is going to be astronomical," ucap Brooks.

Pihaknya memastikan konferensi akan patuh, namun mempertanyakan kewenangan dalam menetapkan sanksi hukum.

"That's what we've got to figure out," sebut Brooks.

Ia menambahkan bahwa pembahasan internal mengenai isu ini terus berjalan secara berkala di tingkat konferensi.

"We'll abide, but the penalties, can we set the penalties?" tanya Brooks.

Brooks menegaskan bahwa kepatuhan sekolah di luar konferensi terhadap aturan CSC menjadi fokus utama dibandingkan perdebatan tata kelola internal.

"That's like me and you arguing over filing taxes," analogi Brooks.

Ia memandang pelanggaran dari pihak luar yang tidak mendaftarkan kesepakatan mereka sebagai ancaman yang jauh lebih serius.

"I have a much bigger problem with those that aren't even filing taxes. Let's stop that first. If we can't even get to that base" tandas Brooks.

Kepala Eksekutif CSC Bryan Seeley membenarkan adanya kecemasan sistemik dari sekolah-sekolah terkait komitmen NIL yang telah mereka buat kepada para atlet.

"A lot of schools, it appears, made a lot of NIL guarantees coming out of the football transfer portal and basketball transfer portal that they're not allowed to do under the rules," beber Seeley.

Kondisi ini menciptakan tekanan besar bagi sekolah untuk meloloskan kerja sama yang berpotensi melanggar regulasi dasar.

"And now there is increasing pressure on them to get those NIL deals cleared. A lot of those NIL deals will not go cleared because they don't comply with the rules," tutur Seeley.

Respons dari jajaran manajemen kepelatihan dan otoritas tertinggi konferensi menunjukkan sikap berhati-hati dalam merespons intervensi hukum dari Washington ini.

"We are constantly changing," keluh Eliah Drinkwitz, Pelatih Missouri, mengenai ketidakpastian regulasi.

Ia menilai industri sepak bola kampus tidak pernah diberi kesempatan untuk menetap atau menemukan ritme kerja yang stabil.

"We are not allowing anything to stick or get into a rhythm in college football. It feels like we’re always chasing the next," sebut Drinkwitz.

Komisioner SEC Greg Sankey memilih bersikap skeptis terhadap klausul Amandemen Undang-Undang Penyiaran Olahraga 1961 yang memaksa penggabungan hak siar media.

"I've made my position on the notion that we need the SBA clear, which I don't think we do," cetus Sankey.

Saat dikonfirmasi mengenai aktor utama di balik draf aturan hak siar tersebut, Sankey mengindikasikan adanya pengaruh dari kelompok luar.

"I think that bill speaks to some of the voices of influence other than ours," sindir Sankey.

Sankey mengonfirmasi bahwa usulan pajak barang mewah yang dilontarkan oleh anggotanya masih sebatas wacana dalam diskusi internal.

"I'm assuming some other people talked about it, and I would define it as that," kilah Sankey.

Meskipun demikian, ia tetap memandang keterlibatan lintas partai di Washington sebagai langkah yang sangat krusial bagi masa depan kompetisi.

"bipartisan engagement in Washington on these issues is critical," pungkas Sankey.

RUU Protect College Sports Act juga memuat klausul ketat yang melarang SEC dan Big Ten melakukan merger untuk membentuk 'Super League' yang monopolistik, sebuah langkah antisipasi jika proses legislasi ini gagal bergulir di parlemen.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed