Simon Jordan Kritik Aturan Finansial Premier League Tidak Adil

Smallest Font
Largest Font

Aturan regulasi keuangan Premier League dinilai menciptakan ketimpangan persaingan yang makin tajam antarpeserta kompetisi. Kebijakan tersebut dinilai membatasi ruang gerak klub di luar kelompok elite untuk menembus persaingan papan atas.

Mantan pemilik Crystal Palace yang kini menjadi pengamat sepak bola, Simon Jordan, menyoroti fenomena tersebut seperti dilansir dari Bola. Menurutnya, aturan yang berlaku saat ini secara tidak langsung mengunci dominasi tim-tim besar.

Dampak regulasi finansial ini terlihat nyata pada pergerakan bursa transfer musim panas. Aston Villa dan Newcastle United harus melepaskan sejumlah pilar utama mereka demi mematuhi batasan aturan yang ada.

Aston Villa harus kehilangan Morgan Rogers yang dilepas ke Chelsea senilai 117 juta paun. Selain itu, Youri Tielemans pindah ke Manchester United, Lucas Digne dilepas ke Paris Saint-Germain, dan Ezri Konsa berpeluang menyusul ke Arsenal.

Kondisi serupa dialami Newcastle United yang terpaksa merombak skuadnya. Bruno Guimaraes telah berlabuh ke Arsenal, Anthony Gordon pindah ke Barcelona, serta Sandro Tonali merapat ke Tottenham Hotspur.

Sebaliknya, klub-klub papan atas seperti Chelsea dan Tottenham justru tetap leluasa membelanjakan dana besar di bursa transfer. Hal ini terjadi meski kedua tim tersebut sempat mencatatkan performa mengecewakan pada musim sebelumnya.

Jordan menilai ketimpangan ini lahir dari kapasitas pendapatan yang berbeda jauh antara tim mapan dan tim semenjana. Tim papan atas memiliki pendapatan raksasa yang memberi mereka ruang belanja lebih fleksibel.

"Sangat tidak adil bahwa Liverpool, Arsenal, Manchester United, Manchester City, dan Tottenham bisa menghabiskan uang sebanyak yang mereka inginkan. Tidak ada klub lain yang bisa melakukan hal itu karena mereka bisa menghasilkan pendapatan sebesar itu, sebab mereka sudah berada di posisi yang mapan," kata Jordan.

Ia juga menuding dua klub besar sebagai pihak yang merancang gagasan pembatasan ini untuk mengamankan posisi mereka dari ancaman pesaing baru.

"Ini sepenuhnya kesalahan Manchester United dan Arsenal karena mereka membungkus gagasan financial fair play seolah-olah itu merupakan bentuk tata kelola untuk menjaga kewarasan sepak bola. Padahal, bukan itu yang terjadi," ujar Jordan.

"Ini tidak adil. Mereka seperti menutup akses dan berkata kepada semua orang, 'Kami sudah berada di dalam dan kalian tidak boleh ikut masuk'," lanjut Jordan.

Pandangan senada disampaikan pemilik Coventry City, Doug King. Ia menilai regulasi rasio biaya skuad membuat impian klub kecil untuk menjadi juara hampir mustahil diwujudkan.

Pernyataan CEO Premier League, Richard Masters, yang menyebut setiap klub harus berambisi menjadi juara dinilai King bertolak belakang dengan fakta di lapangan.

"Anda boleh memiliki ambisi, tetapi ini seperti kompetisi tertutup. Ini adalah soal rasio biaya skuad. Anda memiliki pendapatan 800 juta paun berbanding 200 juta paun. Anda bisa menghitungnya sendiri," tutur King.

"Kami tidak akan pernah mencapai angka-angka tersebut, tetapi kami ingin meningkatkan pendapatan menuju angka yang lebih berarti sehingga kami bisa bersaing," kata King.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed