Singapore Airlines Menderita Kerugian Rp 13,95 Triliun dari Air India
Singapore Airlines membukukan kerugian investasi senilai S$ 1 miliar atau setara Rp 13,95 triliun dari Air India. Kerugian ini tercatat kurang dari dua tahun setelah maskapai asal Singapura tersebut menguasai 25 persen saham Air India pada November 2024. Kinerja keuangan Singapore Airlines tertekan akibat serangkaian masalah yang dihadapi Air India.
Masalah tersebut meliputi krisis bahan bakar jet, kecelakaan pesawat, penutupan wilayah udara Pakistan, pelemahan nilai tukar rupe, serta gangguan rantai pasok global. Keterlibatan Singapore Airlines berawal dari kerja sama dengan Tata Sons melalui pembentukan Vistara pada 2013. Saat Tata mengambil alih Air India dari pemerintah India pada 2021, Singapore Airlines turut memberikan masukan dalam proses privatisasi tersebut demi mengincar potensi pasar penerbangan India.
Dalam prosesnya, Vistara digabungkan ke dalam Air India. Singapore Airlines menyuntikkan dana modal tambahan S$ 822 juta atau Rp 11,47 triliun untuk mengamankan 25 persen saham, sementara sisa kepemilikan dipegang oleh Tata Sons.
Meskipun transaksi awal sempat memberikan pembukuan keuntungan akuntansi satu kali sebesar S$ 1,1 miliar atau Rp 15,35 triliun, pemulihan Air India terhambat oleh armada tua dan kendala keandalan operasional. Lima bulan kemudian, Singapore Airlines menyuntikkan lagi dana S$ 167 juta atau Rp 2,33 triliun, sehingga total modal tertanam mencapai S$ 989 juta atau Rp 13,80 triliun. Kondisi operasional makin memburuk ketika pesawat Air India penerbangan 171 jatuh setelah lepas landas dari Bandara Ahmedabad. Peristiwa tersebut menewaskan 260 jiwa, termasuk 241 dari total 242 penumpang di dalam pesawat.
Pasca-insiden, Air India memangkas jadwal penerbangan guna melakukan inspeksi armada Boeing 787 dan memperketat pemeriksaan pra-penerbangan. Di saat bersamaan, konflik regional menyebabkan penutupan wilayah udara Pakistan bagi maskapai India yang memicu kerugian hingga US$ 600 juta atau Rp 10,5 triliun. Kombinasi konflik Timur Tengah yang memicu kenaikan harga avtur serta pelemahan rupe terhadap dolar AS kian memperberat beban operasional Air India. Gangguan rantai pasok global juga menunda rencana pembaruan interior kabin dan peremajaan armada.
Ketua Tata Sons N Chandrasekaran mengungkapkan bahwa jajaran krisis yang melanda maskapai merupakan kondisi yang sangat berat. "Rangkaian persoalan tersebut sebagai perfect storm," kata N Chandrasekaran, Ketua Tata Sons. Ia memperkirakan proses pemulihan dan transformasi penuh Air India membutuhkan waktu hingga satu dekade. Guna memimpin langkah penyehatan, Tata Sons menunjuk mantan CEO Ethiopian Airlines Tewolde Gebremariam sebagai CEO Air India.
Secara kumulatif, Singapore Airlines menanggung kerugian sebesar S$ 945 juta atau Rp 13,19 triliun dari Air India dalam kurun 12 bulan hingga akhir Maret 2026. Pada kuartal berikutnya, angka kerugian tersebut kembali membengkak sebesar S$ 41 juta atau Rp 572 miliar dibandingkan periode sebelumnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow