Survei LinkedIn Catat Pekerjaan AI Banyak Diincar Pekerja Muda

Smallest Font
Largest Font

Survei terbaru platform LinkedIn pada pertengahan Agustus 2026 mengidentifikasi 12 posisi pekerjaan bidang kecerdasan buatan (AI) dengan pertumbuhan paling pesat yang kini didominasi oleh pekerja muda dari generasi Z dan milenial, sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Riset tersebut menganalisis data lapangan kerja berdasarkan kualifikasi usia, jenis kelamin, dan tingkat pendidikan. Para pekerja muda memanfaatkan tren kenaikan lowongan kerja AI yang tercatat meningkat 14 persen pada periode 2023–2024, lalu melonjak hingga 156 persen pada 2024–2025.

"Melihat mereka memanfaatkan pasar tenaga kerja AI dengan cara yang begitu kuat sungguh mengejutkan," kata Kory Kantenga, Kepala Ekonomi di LinkedIn.

Kondisi ini tergolong unik mengingat laporan beberapa tahun terakhir menunjukkan tren sulitnya tenaga kerja muda dalam mendapatkan pekerjaan di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat dan Indonesia, akibat perubahan pasar kerja serta penetrasi AI pada posisi pemula.

Dua posisi pekerjaan yang paling diminati mencakup insinyur lapangan dan insinyur AI. Insinyur lapangan menawarkan gaji rata-rata tahunan sebesar 199.000 dolar AS atau sekitar Rp3,5 miliar (kurs Rp17.720), sedangkan insinyur AI mencatatkan rata-rata gaji 166.000 dolar AS atau Rp2,9 miliar.

Selain itu, generasi milenial mendominasi 60 persen perekrutan baru untuk posisi kepala AI yang menawarkan pendapatan tahunan rata-rata mencapai 236.000 dolar AS atau setara Rp4,1 miliar.

Perusahaan berani menginvestasikan gaji besar di bidang AI demi mendorong kemajuan bisnis secara cepat. Tingginya standar kompensasi di sektor ini juga dipicu oleh persyaratan kualifikasi pendidikan yang tinggi.

Data LinkedIn menunjukkan 91 persen tenaga kerja di sektor AI memiliki gelar sarjana atau lebih tinggi. Pada posisi tingkat kepala AI, hampir separuh pekerja mengantongi gelar pascasarjana dan 20 persen lainnya memegang gelar doktor.

"Hampir setengah dari pekerja yang dipekerjakan untuk posisi kepala AI memiliki gelar pascasarjana, dan 20% memiliki gelar doktor," ungkap Kory Kantenga.

Tingginya pendapatan di sektor teknologi kecerdasan buatan berpotensi memperlebar ketimpangan pendapatan dengan pekerja di sektor non-teknologi yang menerima upah lebih rendah.

"Hal itu akan memperlebar kesenjangan upah," imbuhnya.

Para mahasiswa dan pencari kerja muda dianjurkan menguasai ilmu komputer serta pengalaman mengolah data secara praktis untuk menembus industri ini.

"Memiliki latar belakang teoretis dalam rekayasa data saja tidak cukup - peran AI ini akan mengharuskan Anda untuk mengetahui cara mempersiapkan dan menggunakan data secara efektif," paparnya.

Pekerja muda dengan pengalaman terbatas dapat mulai membangun portofolio keterampilan dengan mengerjakan proyek-proyek sampingan di bidang AI.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed