Swedia Menang Telak 5-1 atas Tunisia dalam Piala Dunia 2026
Tim nasional Swedia berhasil mengalahkan Tunisia dengan skor telak 5-1 pada pertandingan penyisihan Grup F Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Stadion BBVA, Monterrey, Meksiko, pada Minggu waktu setempat.
Kemenangan besar tim asuhan Graham Potter ini dipimpin oleh performa gemilang gelandang muda Yasin Ayari yang mencetak dua gol, sementara tiga gol lainnya masing-masing disumbangkan oleh Alexander Isak, Viktor Gyokeres, dan Mattias Svanberg. Berdasarkan catatan resmi FIFA yang dilansir ANTARA, Tunisia hanya mampu membalas satu gol melalui aksi Omar Rekik sebelum babak pertama usai.
Keberhasilan Ayari mencetak dua gol spektakuler dari luar kotak penalti pada menit ke-7 dan menit ke-90+6 langsung memicu rumor transfer, di mana Liverpool dan Chelsea kini bersaing ketat untuk merekrut pemain Brighton & Hove Albion tersebut. Dilansir dari TEAMtalk, nilai pasar pemain berusia 22 tahun itu kini diperkirakan melonjak hingga 35 juta euro setelah sebelumnya Brighton menolak tawaran senilai 20 juta poundsterling dari Nottingham Forest.
Pertandingan ini juga menjadi momen emosional bagi Ayari karena ia memilih membela Swedia, negara kelahirannya, ketimbang Tunisia yang merupakan tanah kelahiran sang ayah setelah sempat mendapatkan tawaran dari federasi Tunisia pada tahun 2021.
"As everyone knows, my father is from there, I've spent many summers there, I have a lot of family there, but now I'm playing for Sweden and I have to do my best for Sweden," kata Yasin Ayari kepada para reporter setelah pertandingan di Monterrey sebagaimana dilansir dari The New York Times.
Ayari menambahkan bahwa pertandingan melawan negara asal usul keluarganya terasa sangat emosional meski ia tetap merasa gembira atas kemenangan Swedia.
"As everyone knows, I have roots there. It was a special match for me. I have a lot of feelings for Tunisia, but I am happy that we won," ujar Yasin Ayari.
Ketika ditanya mengenai selebrasinya yang lebih ekspresif pada gol kedua di menit akhir pertandingan, gelandang Brighton tersebut memberikan penjelasannya.
"That was the nail in the coffin, then I could let loose a little. It is not every day that you score two goals in a World Cup," ucap Yasin Ayari.
Di sisi lain, ayah sang pemain tetap memberikan dukungan penuh terhadap keputusan putranya untuk mengenakan seragam tim nasional Swedia.
"My children were born in Sweden. I want him to play for Sweden, he should feel like he is giving back to the country that really took care of him," tutur Azzouz Ayari saat diwawancarai surat kabar Swedia, Aftonbladet.
Sebelum turnamen dimulai, Ayari juga sempat mengomentari hasil undian yang mempertemukan Swedia dengan Tunisia di fase grup.
"It was crazy that we got them in the group," ujar Yasin Ayari dalam wawancaranya di Aftonbladet.
Pemain muda itu merasa bahwa pertemuan ini menjadi hal yang sangat tidak terduga bagi keluarganya.
"What a coincidence. But I think it's mostly special for him and the family there. For me, it'll just be fun," kata Yasin Ayari menambahkan.
Keputusan Ayari untuk membela Swedia mendatangkan rasa hormat dari pelatih Tunisia, Sabri Lamouchi, yang juga mengenal sang pemain beserta adiknya.
"I know him and his brother," ucap Sabri Lamouchi.
Lamouchi menegaskan bahwa keputusan tersebut sepenuhnya merupakan pilihan pribadi sang pemain yang harus dihargai.
"He made a choice, I have a lot of respect, and he's a very good player. We wish him, after the game, best of luck, but that is after the game," tutur Sabri Lamouchi.
Di sisi lain, mantan pemain tim nasional Tunisia, Houssem Haj Ali, menyampaikan penyesalan mendalam atas kegagalan negaranya mengamankan talenta berbakat seperti Ayari.
"Of course, it is a great bitterness... The situation could have been the opposite if Yasin had worn the Tunisia jersey," cetus Houssem Haj Ali kepada AFP.
Haj Ali mendesak agar sistem persepakbolaan di Tunisia segera melakukan pembenahan agar tidak lagi kehilangan pemain keturunan di masa depan.
"We must create the conditions that allow players of Tunisian origin to represent their country," kata Houssem Haj Ali menegaskan.
Ia juga menambahkan bahwa federasi tidak boleh mengulangi kesalahan yang sama seperti pada kasus-kasus sebelumnya.
"I am not speaking only about the Tunisian federation, but about the system in general," ujar Houssem Haj Ali.
Haj Ali memberikan contoh beberapa nama pemain muda berbakat lainnya yang juga gagal berseragam Tunisia.
"In the same way that we lost Louey Ben Farhat... who declined a national team call-up despite playing two friendly matches against Haiti and Canada, we also lost Ayari," sesal Houssem Haj Ali.
Menurutnya, Tunisia tidak memiliki banyak bintang sepak bola di panggung internasional sehingga setiap talenta yang muncul harus dipertahankan dengan serius.
"We do not have many global stars of Tunisian origin, which is why we must hold on to every player who emerges on the international stage," pungkas Houssem Haj Ali.
Setelah pertandingan debutnya yang gemilang di Piala Dunia, Ayari mengaku merasakan kebahagiaan yang sangat luar biasa.
"I'm used to scoring beautiful goals, but scoring two goals in the same match, especially in my first World Cup appearance against Tunisia, was exceptional for me," ungkap Yasin Ayari kepada stasiun penyiaran Swedia, SVT.
Sementara itu, fenomena emosional mencetak gol ke gawang negara asal juga pernah dirasakan oleh penyerang Swiss, Breel Embolo, pada Piala Dunia 2022 saat menghadapi Kamerun.
"I've been saying for a while now that the Cameroon match was important for me on an emotional level," kata Breel Embolo setelah laga tersebut.
Embolo menyatakan bahwa ia menolak berselebrasi demi menunjukkan rasa hormat kepada negara tempat lahirnya.
"I've also said how happy and proud I am to represent Switzerland. I knew that if I scored I wouldn't celebrate the goal, out of respect. That didn't mean to say I wasn't happy about it, though," ujar Breel Embolo.
Sikap hormat Embolo tersebut mendapatkan apresiasi langsung dari penyerang Kamerun, Jean-Pierre Nsame, yang saat itu menjadi pemain cadangan.
"I'd have acted in the same way if I'd got a goal against Switzerland," respons Jean-Pierre Nsame.
Nsame memuji kepribadian Embolo yang tetap rendah hati di atas lapangan pertandingan.
"I know him (Embolo) and he's kind and very humble. I said 'respect' because he didn't have to do that and stop himself celebrating scoring against Cameroon in the World Cup. But I think we're pretty similar because I'd have done the same thing," kata Jean-Pierre Nsame.
Situasi serupa terkait loyalitas ganda juga sempat dialami oleh Declan Rice saat membela Inggris melawan Republik Irlandia pada laga UEFA Nations League di bulan September 2024.
"A lot of the Irish fans have an opinion and a feeling towards me, which is absolutely fine because I made that decision to switch as a kid," ucap Declan Rice kepada BBC Radio 5 Live.
Berdasarkan statistik pertandingan, Swedia mendominasi dengan melepaskan 13 tembakan tepat sasaran, berbanding enam milik Tunisia. Atas performa ini, media Swedia SVT Nyheter memberikan nilai sempurna 5/5 untuk Ayari, mengungguli Isak dan Gyokeres yang mendapatkan nilai 4/5. Swedia dijadwalkan akan menghadapi Belanda pada pertandingan kedua Grup F hari Sabtu mendatang.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow