Timnas Swiss Siapkan Taktik Redam Argentina di Perempat Final

Smallest Font
Largest Font

Tim nasional Swiss bersiap menghadapi juara bertahan Argentina pada pertandingan babak perempat final Piala Dunia 2026 di Kansas City Stadium, Amerika Serikat, pada Minggu, 12 Juli 2026.

Skuad asuhan Murat Yakin tersebut melaju ke babak delapan besar setelah menyingkirkan Kolombia lewat adu penalti dengan skor 4-3 di Stadion BC Place, Vancouver, yang disaksikan sekitar 52 ribu penonton.

Swiss kini mendapati tantangan besar untuk menghentikan barisan penyerang Argentina yang tercatat selalu mencetak gol dalam lima laga terakhir, dengan Lionel Messi sebagai top skor turnamen lewat torehan delapan gol.

Pelatih Swiss, Murat Yakin menilai sang lawan yang sempat bersusah payah mengalahkan Cape Verde dan Mesir di fase gugur memiliki kelemahan di sektor sayap yang bisa dimanfaatkan.

"Kami akan menghadapi Argentina, tim juara dunia. Melawan mereka tentu tidak mudah, tetapi berdasarkan dua laga terakhirnya, mereka cukup rentan," ungkap Murat Yakin seperti dilansir dari Sky Sports.

Yakin menambahkan bahwa pertandingan ini akan menjadi pembuktian strategi bagi timnya untuk menciptakan kejutan besar menghadapi sang juara bertahan.

"Secara taktik, nanti akan jadi pertandingan menarik," kata Murat Yakin.

Arsitek tim Rossocrociati tersebut menegaskan bahwa momen menghadapi Argentina di fase krusial ini merupakan kesempatan luar biasa bagi negaranya.

"Bagi negara seperti Swiss, menghadapi Argentina di perempatfinal Piala Dunia adalah momen yang luar biasa. Kami akan jadi kejutan besar andai bisa mengguncang juara dunia," tutur Murat Yakin.

Kapten Swiss, Granit Xhaka menjelaskan bahwa keberhasilan mencapai babak ini mengubah tekanan yang ada menjadi dorongan motivasi tambahan bagi seluruh elemen tim.

"Ketika sudah sedekat ini, hasrat untuk menang semakin besar. Tekanan yang kami rasakan saat ini adalah jenis tekanan yang sangat positif—kami ingin terus melaju," kata Granit Xhaka seperti dikutip dari Nau.ch.

Mantan pemain Arsenal itu juga menyampaikan apresiasinya terhadap kesempatan menghadapi para pemain terbaik di dunia sebelum fokus pada analisis mendalam mengenai kekuatan lawan.

"Pasti merupakan suatu kehormatan besar bagi kami untuk bisa bermain di era Messi dan [Cristiano] Ronaldo. Kami belum bisa menganalisis Argentina secara mendalam, tetapi kami akan memulai analisis yang sangat teliti besok," tambah Granit Xhaka.

Penyerang Cedric Itten menilai kesempatan menghadapi kapten Argentina tersebut di atas lapangan hijau merupakan sebuah momen berharga di turnamen ini.

"Tidak ada yang lebih baik daripada bisa bermain melawan Messi. Dia sedang dalam performa terbaiknya, dan kami pasti harus siap untuk pertandingan berikutnya. Namun, Anda juga bisa melihat bahwa setiap pertandingan berlangsung ketat – kami menantikan pertandingan di Kansas," ujar Cedric Itten.

Gelandang Remo Freuler turut menambahkan bahwa skuad Swiss tidak akan cepat puas dengan pencapaian perempat final ini dan siap mengerahkan kemampuan terbaik mereka.

"Saya belum pernah bermain melawan Messi sepanjang karier saya, itu tentu saja sesuatu yang istimewa. Kami pantas lolos ke perempat final melawan Argentina. Namun satu hal yang jelas: Kami tidak akan puas dengan itu. Kami akan memberikan yang terbaik," ucap Remo Freuler.

Pemain muda Fabian Rieder mengaku tidak pernah menyangka akan berada di panggung yang sama dengan bintang utama Albiceleste tersebut sejak masa awal kariernya di tim junior.

"Saat masih di tim junior, saya tak pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti saya akan bermain melawan Messi. Jadi, ini terasa semakin luar biasa karena hal itu terjadi sekarang. Pasti ini akan menjadi pertandingan seru lainnya di stadion yang keren, meski mayoritas pemain di tim lawan adalah orang Argentina," ungkap Fabian Rieder.

Sementara itu, penyerang Breel Embolo mengingatkan rekan-rekannya tentang daya juang Argentina yang tangguh saat membalikkan kedudukan dari Mesir, meski Swiss tetap percaya diri bisa menumbangkan tim manapun.

"Mesir telah menunjukkan apa yang mungkin terjadi. Setelah menit ke-70, semua orang mungkin sudah bertaruh pada Mesir. Namun, Argentina tidak pernah menyerah, itulah yang membuat mereka istimewa.

Dan Argentina memiliki pemain terbaik sepanjang masa, yang membuat pertandingan ini sedikit lebih istimewa. Rasa hormat? Ya, kami memilikinya.

Namun, kami tahu kami bisa mengalahkan lawan mana pun. Termasuk mereka – kami sangat bersemangat," kata Breel Embolo.

Pemain sayap Ruben Vargas menutup dengan penegasan mengenai status sang lawan sebagai tim spesialis turnamen yang berstatus juara bertahan.

"Kita semua tahu apa yang mampu dilakukan Argentina. Mereka adalah tim turnamen. Mereka adalah juara dunia – tapi segalanya mungkin terjadi di turnamen ini," pungkas Ruben Vargas.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed