Umat Islam Peringati Maulid Nabi Muhammad pada 25 Agustus 2026

Smallest Font
Largest Font

Umat Islam akan memperingati hari kelahiran atau Maulid Nabi Muhammad SAW pada Selasa, 25 Agustus 2026, yang bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1448 Hijriah. Peringatan ini menjadi momen bagi umat Muslim untuk meningkatkan ibadah sekaligus memahami akar sejarah perayaannya.

Peringatan Maulid Nabi diisi dengan berbagai amalan mulia, seperti memperbanyak sholat, membaca Al-Quran, dan bersholawat. Selain itu, umat Islam dianjurkan menjalankan puasa sunnah hari Senin, menghadiri majelis ilmu, serta memperbanyak sedekah dan kegiatan sosial.

Di tengah perayaan tersebut, penolakan terhadap tradisi ini sempat dilontarkan oleh ulama asal Arab Saudi.

"Para sahabat tidak melakukannya (maulid) bersama Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, atau lainnya, bahkan pada generasi terbaik: generasi pertama, kedua, dan ketiga," ucap mendiang Grand Mufti Arab Saudi, Abdulaziz ibn Abdullah Al Baz (Ibnu Baz).

Ibnu Baz menilai perayaan tersebut baru muncul pada masa belakangan melalui kelompok tertentu sebelum meluas ke masyarakat umum.

"Sebaliknya, hal itu terjadi pada generasi keempat melalui Dinasti Fatimiyah Syiah, kemudian berlanjut pada beberapa raja setelahnya, lalu menyebar di kalangan manusia, dan sebagian dari mereka saling meniru. Dan itu adalah sebuah bid'ah," tambahnya.

Mengenai sejarah perayaannya, studi Abd. Hadi dkk. (2024) mencatat narasi populer yang mengaitkan Maulid dengan Sultan Salahuddin Al-Ayyubi kurang akurat. Buku karya N.J.G. Kaptein mencatat sumber tertulis tertua mengenai perayaan ini justru berasal dari tulisan Ibnu al-Ma'mun pada masa Dinasti Fatimiyah (973–1171 M), yang kemudian dikutip sejarawan al-Maqrizi.

"Selanjutnya ia (Ibn al-Ma’mun, pada tahun 517 H/1123 M) menulis: bulan Rabiul Awal telah tiba, dan kita akan memulai dengan hal yang membuat bulan tersebut termasyhur, yaitu merujuk pada hari kelahiran Junjungan Orang-Orang Pertama dan Terakhir, Muhammad, pada hari ke-13 (Rabiul Awal)" tulis al-Maqrizi dalam Khitat halaman 432–433.

Di sisi lain, Marion Holmes Katz dalam bukunya menyatakan akar tradisi Maulid sudah ada sebelum masa Fatimiyah, yakni dalam lingkaran Syiah Dua Belas Imam sebagaimana dicatat ulama al-Shaykh al-Mufid.

"Tanggal tujuh belas Rabiul Awal adalah hari kelahiran (mawlid) junjungan kita, Rasulullah, pada terbit fajar hari Jumat di Tahun Gajah. Ini adalah hari mulia yang penuh keberkahan; sejak masa-masa awal, kaum Syiah selalu memuliakannya, mengakui haknya, dan menghormati kesuciannya dengan berpuasa secara sukarela pada hari tersebut," tulis al-Mufid dalam bukunya Hada’iq al-riyad wa-zahrat al-murtad wa-nur al-mustarshid.

Tradisi perayaan Maulid kemudian diadopsi oleh kalangan Sunni, yang dicatat mulai dilakukan oleh penguasa Suriah Nur al-Din Zangi serta Syekh 'Umar al-Malla' di Mosul. Penjelajah Ibnu Jubair juga merekam praktik perayaan ini saat berkunjung ke Mekkah pada 1183 M.

"Tempat penuh berkah ini dibuka, dan seluruh orang memasukinya untuk mengambil keberkahan dengannya (mutabarrakina bihi) pada setiap hari Senin di bulan Rabiul Awal. Sebab pada hari dan bulan itulah Nabi, semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepadanya, dilahirkan. Semua tempat yang disebutkan dibuka pada hari itu, yang senantiasa tersohor di Mekkah," tulis Ibn Jubayr.

Perayaan besar yang digagas para penguasa Muslim saat itu menjadi pendorong utama meluasnya tradisi Maulid Nabi ke seluruh dunia hingga saat ini.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed