Utang Luar Negeri Indonesia Naik Menjadi US$444 Miliar Mei 2026
Bank Indonesia melaporkan posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia tumbuh mencapai US$444,40 miliar atau sekitar Rp8.000 triliun pada Mei 2026. Nilai pinjaman ini mencetak rekor tertinggi dalam rangkaian data statistik sejak 2007 setelah mengalami kenaikan bulanan baik pada sektor pemerintah maupun swasta. Berdasarkan data Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) yang dirilis Bank Indonesia, jumlah utang tersebut melonjak sebesar US$4,15 miliar jika dibandingkan dengan posisi April 2026 yang tercatat senilai US$440,25 miliar.
Secara tahunan, ULN Indonesia mengalami pertumbuhan sebesar 2,1 persen (yoy) dibandingkan posisi Mei 2025 yang berada di angka US$435,34 milar. Peningkatan utang didorong oleh sektor publik, di mana ULN pemerintah merangkak naik dari US$216,42 miliar pada April menjadi US$217,33 miliar pada Mei 2026. Angka pinjaman pemerintah tersebut memperlihatkan kenaikan sekitar 3,7 persen jika disandingkan dengan posisi Mei 2025 yang sebesar US$209,63 miliar.
Kenaikan serupa juga terjadi pada sektor privat, dengan nilai ULN swasta yang meningkat dari US$193,72 miliar menjadi US$195,93 miliar secara bulanan. Kendati demikian, posisi utang swasta tersebut sebenarnya masih terkontraksi tipis sekitar 0,1 persen dibandingkan capaian Mei 2025 yang menyentuh US$196,17 miliar.
Di sisi lain, catatan pinjaman Indonesia terhadap dua negara kekuatan ekonomi dunia, yakni Amerika Serikat (AS) dan China, justru kompak menyusut secara bulanan. Utang dari AS terkikis sebesar US$13,6 juta menjadi US$27,99 miliar, sedangkan utang dari China berkurang lebih dalam hingga US$108,8 juta menjadi senilai US$25,52 miliar. Penurunan bulanan yang lebih tajam dari China membuat jurang selisih posisi utang Indonesia di antara kedua negara tersebut kembali melebar menjadi US$2,47 miliar dari sebelumnya US$2,37 miliar pada April 2026. Namun secara tahunan, utang kepada AS tetap naik 5,4 persen dan utang kepada China naik 7,5 persen.
Hingga saat ini, Singapura masih kokoh menempati posisi pertama sebagai negara pemberi pinjaman terbesar bagi Indonesia dengan nilai utang mencapai US$52,51 miliar pada Mei 2026. Sementara itu, Hong Kong membukukan lonjakan nominal terbesar sepanjang tahun 2026 dengan pertumbuhan menyentuh US$20,35 miliar pada Mei 2026.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
1
Sad -
0
Wow