Warung Mi dan Babi di Sukoharjo Dibakar Orang Tak Dikenal

Smallest Font
Largest Font

Warung Mi dan Babi Tepi Sawah di Desa Parangjoro, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, dibakar oleh empat orang tidak dikenal pada Sabtu dini hari, 12 September 2026, sekitar pukul 03.30 WIB, saat warung masih tutup, dilansir dari Detik Food.

Menurut pemilik warung, Jodi Sutanto, salah seorang karyawan sempat diancam menggunakan senjata tajam sebelum bagian gudang dan kamar karyawan dibakar. Kebakaran ini segera ditangani petugas pemadam kebakaran yang mengerahkan dua unit mobil dan enam personel.

"Satu orang menodongkan senjata tajam dan menyuruh keluar (Ali), disuruh jongkok di depan, dan mengatakan diam, lalu disuruh berhitung satu sampai seribu. Satu orang merusak barang, yang satu orang membakar gudang dan tempat tidur," ujar Jodi berdasarkan keterangan karyawannya, Ali.

Bagian yang terbakar adalah gudang dan tempat tidur karyawan, bukan penyimpanan bahan makanan atau produk yang dijual.

"Yang terbakar itu satu gudang, dan satu tempat tidur, dan atap. Gudang penyimpanan rongsok lah ya, barang-barang bekas, bukan barang penyimpanan produk," kata Jodi.

Sebelumnya, keberadaan warung ini sudah menjadi polemik sejak Maret 2026 karena menjual makanan nonhalal di lingkungan yang mayoritas Muslim. Beberapa warga memasang spanduk penolakan, dan pemilik warung pernah didatangi ketua RT, RW, serta tim gabungan Pemerintah Kabupaten Sukoharjo.

Pemerintah daerah sempat menggelar mediasi pada 21 April 2026 antara pemilik warung dan perwakilan warga, menawarkan perubahan menu menjadi halal sebagai solusi. Ketua RW 10, Bondowi, menyatakan bahwa warga tidak keberatan selama makanan yang dijual halal.

"Prinsipnya warga (sekitar) kan orang Muslim, kita tidak mau mengganggu orang. Prinsipnya sederhana, silakan berusaha, yang penting yang halal saja," ujar Bondowi.

Kuasa hukum warung, Cucuk Kustiawan, mengatakan bahwa perubahan konsep usaha memerlukan pertimbangan matang karena usaha tersebut sudah turun-temurun.

Selain itu, pada April 2026 akses menuju warung pernah tertutup tumpukan tanah yang tidak diketahui pelakunya. Kepala Desa Parangjoro, Hardiman, menjelaskan tanah tersebut digunakan untuk meninggikan jalan dan menegaskan persoalan awal terkait komunikasi dengan warga.

Meski menu warung menjual berbagai olahan babi bergaya Bangka, konsep dapurnya terbuka sehingga pelanggan dapat melihat proses memasak. Harga makanan berkisar antara Rp25.000 hingga Rp40.000-an.

Polemik yang terjadi sebelumnya justru membuat warung semakin dikenal dan ramai dikunjungi pelanggan, dengan peningkatan pengikut di media sosial. Salah satu pengunjung, Yopie Riski, menyatakan bahwa rasa makanan warung ini enak dan pelanggan cenderung kembali lagi.

"Beberapa customer yang aku tanyain di sini rata-rata pada bilang rasanya enak dan pasti kembali lagi. Jadi silakan coba dan buktikan sendiri ya," ujar Yopie.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed