Dua Wisata Satwa Liar Indonesia Masuk 10 Besar Terbaik Dunia
Dua destinasi konservasi Indonesia berhasil menembus jajaran sepuluh besar wisata satwa liar terbaik di dunia versi Wildlife Experience Index 2026 yang dirilis oleh perusahaan perjalanan Bailey Robinson pada Selasa (1/9/2026).
Eksplorasi penelusuran badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten, meraih peringkat kelima dengan skor 85 dari 100. Sementara itu, pengamatan orang utan di hutan Kalimantan mengamankan posisi kedelapan dengan raihan skor 84 dari 100.
Pemeringkatan 30 pengalaman interaksi satwa liar terbaik dunia ini didasarkan pada enam indikator penilaian, yakni kelangkaan satwa, keterpencilan lokasi, nilai konservasi, eksklusivitas, aksesibilitas, serta peluang perjumpaan dengan satwa. Masing-masing indikator memiliki bobot nilai maksimal 10.
Trekking Gorila Gunung di Rwanda atau Uganda menempati posisi teratas indeks ini dengan skor 90. Ekspedisi Penguin Kaisar di Antarktika menyusul di peringkat kedua dengan skor 88,5, diikuti pengamatan Antelop Saiga di Kazakhstan pada urutan ketiga dengan skor 87, serta pelacakan macan tutul salju di Himalaya di peringkat keempat dengan skor 85,5.
Direktur Penjualan Bailey Robinson, Sarah Parker, menggarisbawahi bahwa nilai jual utama dari wisata satwa liar terletak pada korelasi antara kelangkaan spesies dan keterpencilan habitatnya.
"Apa yang paling menonjol bagi kami adalah hubungan antara kelangkaan dan keterpencilan," kata Sarah Parker.
Ia menambahkan bahwa perjalanan yang membawa wisatawan masuk lebih dalam ke alam liar memberikan nilai pengalaman yang lebih berharga.
"Bagi kami, kemewahan yang sebenarnya adalah kesempatan untuk mengalami sesuatu yang langka dan bermakna, sambil bepergian secara bertanggung jawab serta mendukung kawasan dan proyek konservasi yang membuat perjumpaan ini bisa terjadi," ujar Parker.
Pengalaman pelacakan badak Jawa di Ujung Kulon berfokus pada pemantauan dan konservasi. Balai Taman Nasional Ujung Kulon bersama Rhino Monitoring Unit (RMU) rutin memasang sekitar 100 kamera jebak di kawasan seluas 30.000 hektare untuk memantau populasi badak Jawa yang terancam punah. Petugas dan pengunjung mendokumentasikan jejak kaki, kotoran, hingga aktivitas makan satwa tersebut.
Di sisi lain, pengamatan orang utan Kalimantan mengombinasikan jelajah hutan hujan tropis dan edukasi ekosistem. Wisatawan di Taman Nasional Tanjung Puting dapat menyusuri sungai menggunakan perahu kayu tradisional klotok menuju Camp Leakey atau Pondok Tanguy. Selain di Tanjung Puting, aktivitas pengamatan orang utan dan edukasi ekosistem juga tersedia di Taman Nasional Gunung Palung.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow