WMO Prediksi El Nino Kuat Hingga Februari 2027, Ketahanan Pangan RI Terjaga
Badan Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan fenomena El Nino yang sangat kuat akan berlangsung hingga Februari 2027, meningkatkan risiko kekeringan, banjir, dan gelombang panas ekstrem secara global. WMO menyatakan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik tropis yang menjadi pusat El Nino sudah jauh di atas rata-rata dan terus meningkat, dengan suhu bawah laut di beberapa wilayah mencapai lebih dari 8 derajat Celsius di atas normal pada Juli dan Agustus 2026. Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo mengatakan, "Ada kemungkinan hampir 100 persen El Nino akan bertahan hingga Februari 2027," dan "Ini mungkin lebih kuat dari apa pun sejak pengamatan dimulai empat dekade lalu."
Saulo menambahkan dampak El Nino sudah menyebabkan gangguan berupa kekeringan dan banjir yang luas dan akan semakin parah seiring intensitasnya meningkat.
"El Nino yang luar biasa ini membutuhkan persiapan dan respons yang luar biasa," ujar Saulo, sembari menyebut WMO sedang berkoordinasi dengan badan meteorologi dan hidrologi nasional untuk memperkuat kesiapsiagaan dan sistem peringatan dini. Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan Indonesia, Zulkifli Hasan, memastikan ketahanan pangan nasional tetap terjaga meskipun ada potensi dampak El Nino pada produksi dan pasokan.
Hasan menyebut ketersediaan beras, ikan, telur, dan ayam masih melimpah sebagai indikator utama ketahanan pangan nasional. Data pemerintah menunjukkan cadangan beras nasional sekitar 5,25 juta ton per Agustus 2026, dengan produksi beras tahun ini diperkirakan antara 34,77 juta hingga 38,6 juta ton, sementara kebutuhan domestik sekitar 31,1 juta ton. Hal ini memungkinkan surplus beras antara 3,67 juta hingga 7,5 juta ton.
Pemerintah juga telah menyalurkan hampir 1,9 juta ton Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sepanjang 2026 untuk menjaga ketersediaan dan kestabilan harga pangan, serta melanjutkan program Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dengan distribusi beras antara 731.000 hingga 952.000 ton. Hasan menyatakan pemerintah mengambil langkah antisipasi terhadap risiko ketahanan pangan akibat perubahan cuaca dan kondisi geopolitik global, serta berkomitmen melindungi pasokan dan distribusi pangan demi memenuhi kebutuhan domestik. WMO menjelaskan El Nino adalah fenomena alami siklus iklim yang terjadi setiap dua hingga tujuh tahun dan bukan disebabkan oleh perubahan iklim, meskipun dapat memperburuk dampak pemanasan global.
Fenomena ini biasanya dimulai antara Maret dan Juni, mencapai puncaknya di akhir tahun, dan berdampak selama 9 hingga 12 bulan, dengan pola cuaca yang menyebabkan kekeringan di Australia, Indonesia, dan Amazon, serta hujan lebat di Afrika Timur dan Amerika Serikat bagian selatan.
Saulo mengingatkan bahwa suhu global sering mencapai puncak tertinggi pada tahun setelah El Nino, seperti yang terjadi pada periode 2023-2024, dan "kita tidak boleh terkejut jika rekor tersebut kembali pecah."
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow