Suhu Global Agustus 2026 Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah
Fenomena suhu panas ekstrem yang melanda berbagai belahan dunia pada musim panas tahun ini mencatatkan rekor baru. Seperti dikutip dari Detik Travel, suhu global pada Agustus 2026 tercatat menyamai level tertinggi sepanjang sejarah pengamatan iklim.
Layanan Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa mengonfirmasi bahwa rata-rata suhu global pada Agustus 2026 berada di angka 1,65 derajat Celsius melebihi suhu rata-rata era praindustri. Capaian ini sejajar dengan rekor tertinggi sebelumnya yang terjadi pada Juli 2023.
Lonjakan suhu tersebut bertepatan dengan penguatan fenomena El Nino yang berpotensi memicu lonjakan panas atmosfer secara masif hingga akhir tahun. Fenomena iklim ini berisiko memperparah cuaca ekstrem, mulai dari bencana kekeringan, kekeringan lahan, hingga banjir di berbagai wilayah.
Meski demikian, para pakar iklim menekankan bahwa pemanasan global tidak dipicu oleh fenomena alamiah semata. Kenaikan suhu secara berkelanjutan sebagian besar tetap didorong oleh emisi akibat pemakaian bahan bakar fosil.
"Meski El Nino mulai menambah panas, penyebab utama tingginya suhu tahun ini tetap pembakaran bahan bakar fosil yang terus berlangsung. Perubahan iklim membuat setiap El Nino menjadi lebih panas. Selama kita masih membakar batu bara, minyak, dan gas, rekor suhu seperti ini akan terus terjadi," ujar Profesor Ilmu Iklim Imperial College London, Friederike Otto.
Dampak dari suhu panas ini mengganggu berbagai sektor kehidupan masyarakat secara langsung. Selain merusak tanaman pangan dan memicu kebakaran hutan, gelombang panas ini mengganggu jalur transportasi serta menaikkan potensi biaya perjalanan wisatawan.
Kepala Iklim PBB Simon Stiell menyoroti besarnya dampak kerugian ekonomi dan sosial yang ditimbulkan dari peristiwa ini.
"Panas ekstrem telah menewaskan jutaan orang dan menimbulkan kerugian hingga triliunan dolar. Kondisi ini mengganggu sistem transportasi dan kesehatan serta mendorong kenaikan harga kebutuhan rumah tangga seperti makanan," ujarnya.
Meskipun angka 1,65 derajat Celsius melampaui ambang batas 1,5 derajat Celsius yang disepakati dalam Perjanjian Paris, para ilmuwan menjelaskan bahwa target iklim tersebut dinilai berdasarkan tren jangka panjang, bukan sekadar lonjakan bulanan.
Strategic Lead for Climate di European Centre for Medium-Range Weather Forecasts, Samantha Burgess, memaparkan signifikansi dari fenomena iklim yang baru terjadi ini.
"Agustus 2026 merupakan bulan yang luar biasa dalam catatan iklim global. Bulan ini menjadi Agustus terpanas sekaligus bulan terpanas yang pernah tercatat, dengan suhu global mencapai 1,65 derajat Celsius di atas tingkat praindustri," kata Burgess.
Rekor suhu permukaan laut dan cuaca panas meluas ini menegaskan bahwa dampak perubahan iklim kini telah nyata memengaruhi perekonomian serta aktivitas perjalanan di berbagai negara.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow