Yen Menguat Tajam Picu Risiko Besar Carry Trade Sebesar Rp41.000 T
Penguatan tajam yen Jepang mendorong investor mulai meninggalkan transaksi carry trade menjelang pertemuan Bank of Japan (BOJ) pada 17-18 September 2026. Yen menguat ke posisi JPY 152,89 per dolar AS pada 8 September 2026, level terkuat sejak Februari, setelah pekan sebelumnya diperdagangkan di sekitar JPY 160 per dolar AS. Nilai transaksi carry trade yen diperkirakan mencapai sekitar Rp41.431 triliun berdasarkan data pinjaman lintas negara hingga Maret 2026, menciptakan risiko gejolak pasar jika posisi ditutup mendadak.
Kepala Strategi Investasi Saxo Charu Chanana mengatakan, "Carry trade berada dalam posisi yang rentan karena pasar mulai menutup posisi, sebelum BOJ menyampaikan kenaikan suku bunga yang diperkirakan."
Menurutnya, meski sebagian posisi jual yen sudah ditutup, jumlah yang tersisa masih besar dan penguatan yen berpotensi memaksa penutupan posisi secara cepat. "Jika yen terus menguat, investor dapat beralih dari mengurangi posisi secara bertahap menjadi menutupnya secara cepat dan serentak," ujar Chanana.
Kepala Strategi Pasar Aozora Bank Akira Moroga menambahkan bahwa pelaku carry trade mengambil posisi terlalu besar dan kini mempercepat penutupan posisi akibat perubahan ekspektasi kebijakan BOJ. "Pelaku yen carry trade telah mengambil posisi terlalu besar dan kini semakin cepat menutup posisi tersebut," kata Moroga.
Bank of Japan telah meningkatkan suku bunga dari level sangat rendah sejak Maret 2024 dan diperkirakan menaikkan lagi menjadi 1,25% pada pertemuan September 2026. Kenaikan suku bunga ini memperketat biaya pinjaman yen dan menyempitkan selisih imbal hasil dengan negara lain, sehingga transaksi carry trade menjadi kurang menarik. Penguatan yen juga mendapat dukungan dari intervensi Jepang dan Amerika Serikat untuk menjaga nilai tukar yen, yang menyebabkan penurunan cadangan devisa Jepang hingga 6,18% pada Agustus 2026, laju tercepat sejak data dicatat pada 2000.
Masahiko Loo, ahli strategi pendapatan tetap State Street Investment Management, mengatakan, "Penurunan ini terutama merupakan akibat dari intervensi valuta asing yang dilakukan Jepang baru-baru ini, yaitu menjual dolar dan membeli yen."
Jumlah total intervensi mencapai rekor 27,1 triliun yen pada 2026, lebih tinggi dari rekor 20,4 triliun yen pada 2003. Dengan kondisi ini, posisi jual yen yang masih besar dan peningkatan suku bunga BOJ diperkirakan dapat memicu penutupan posisi carry trade secara masif dalam waktu dekat. Penutupan posisi tersebut juga berpotensi menekan pasar saham, obligasi, dan mata uang negara berkembang karena investor menarik dana yang sebelumnya dipinjam dalam yen.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow