Ajax Amankan Keunggulan atas FC Utrecht Lewat Gol Davy Klaassen
Pertandingan final play-off kualifikasi Conference League di Volendam pada Minggu, 24 Mei 2026, mencatat keunggulan sementara Ajax Amsterdam dengan skor 1-0 atas FC Utrecht melalui gol Davy Klaassen pada babak perpanjangan waktu.
Dilansir dari NOS, hasil imbang tanpa gol selama 90 menit waktu reguler memaksa laga berlanjut ke babak tambahan setelah dominasi penguasaan bola Ajax gagal menembus pertahanan rapat FC Utrecht.
Kebuntuan pecah pada menit ke-96 ketika Klaassen menyambar bola liar hasil situasi tendangan bebas dengan sepakan kaki kiri yang mengarah tepat ke sudut jauh gawang lawan.
Sebelum sepak mula dilakukan, pelatih Ajax Óscar García melakukan rotasi dengan memasang Youri Regeer sejak awal menyusul masalah kebugaran yang dialami Sean Steur pascalaga kontra FC Groningen.
"We speelden drie dagen geleden een wedstrijd, dus sommige spelers hadden wat klachten. We hebben besloten dat dit de beste opstelling is om mee te beginnen. Steur had de vorige wedstrijd problemen in de tweede helft, dus we kunnen niet riskeren dat hij vandaag problemen oploopt in de eerste helft. Maar alle spelers zijn klaar om minuten te maken." kata García kepada ESPN.
Langkah antisipasi terhadap kelebihan postur tubuh pemain lawan dalam situasi bola mati juga diambil oleh García dengan tetap memercayakan lini belakang kepada bek muda Aaron Bouwman.
"Hij is een hele goede en jonge speler. Hij heeft veel punten die noch beter kunnen, maar hij doet het momenteel erg goed en verdient zijn kans." ujar García mengenai performa Bouwman.
Juru taktik asal Spanyol tersebut menilai bahwa penguatan di sektor pertahanan menjadi evaluasi penting berkaca dari rekam jejak pertemuan terdahulu dengan FC Utrecht.
"Net als alle andere spelers kent hij genoeg verbeterpunten. Als hij verdedigend nog wat sterker wordt, kan hij een fantastische speler worden." lanjut García menjelaskan perkembangan sang pemain.
García menegaskan bahwa kelengahan di menit-menit akhir tidak boleh terulang kembali demi mengamankan tiket menuju kompetisi sepak bola Eropa musim depan.
"Ze scoorden dit seizoen bijna al hun goals tegen ons uit standaardsituaties. We zullen daar op moeten letten. Soms is het lastig te verdedigen, bijvoorbeeld wanneer je geblokt wordt. In de laatste wedstrijd tegen hen waren we in de slotfase niet genoeg gefocust tegen hen. Daar moeten we van leren en zorgen dat het niet opnieuw gebeurt." ucap García mengevaluasi kelemahan timnya.
Pertandingan penentu ini dipandang oleh sang pelatih sebagai momentum krusial untuk menyelamatkan wajah tim di kancah internasional setelah melewati periode musim yang fluktuatif.
"Voor mij is het een tweede kans om alsnog in een Europese competitie te spelen" tutur García mengakhiri penjelasannya.
Di studio ESPN, analis sepak bola Kenneth Perez memberikan kritik keras terkait rendahnya intensitas pergerakan tanpa bola dari para pemain kedua kubu selama babak pertama berlangsung.
"Ze zeggen wel eens dat finales nooit echt goede wedstrijden zijn" buka Perez saat jeda pertandingan di saluran ESPN.
Perez menilai minimnya tusukan ke area pertahanan lawan membuat alur permainan menjadi sangat monoton dan menjemukan bagi penonton.
"Nou, dat klopt. Weet je wat voetbal wel eens leuk kan maken? Als mensen zonder bal wat doen." sambung Perez mengenai kualitas laga.
Ketiadaan kreativitas di lapangan membuat aliran bola tertahan di lini tengah tanpa adanya upaya membuka ruang yang agresif.
"Er is helemaal niemand die zonder bal iets doet! Niemand die diepgaat. Allemaal komen ze in de bal. Ga lopen, alsjeblieft" desak Perez.
Perez juga mempertanyakan kesesuaian bola resmi yang digunakan di stadion karena menilai pantulan bola yang tidak ideal turut memperburuk akurasi operan para pemain.
"Ajax is de bovenliggende partij, qua schoten en het voor de goal komen." tambah Perez menilai statistik babak eerste.
Pertanyaan tersebut langsung direspons oleh pembawa acara Milan van Dongen yang menegaskan status keabsahan bola pertandingan.
"Dit is de bal waarmee Ajax de thuiswedstrijden speelt" jawab Van Dongen.
Van Dongen kemudian melontarkan pertanyaan lanjutan mengenai analisis Perez terhadap penurunan performa olahraga Ajax di akhir musim.
"Maar jij bent er in de laatste wedstrijd van het seizoen achter waar de sportieve neergang van Ajax door komt?" tanya Van Dongen.
Perez menanggapi pertanyaan tersebut dengan nada berkelakar mengenai pengaruh eksternal karakteristik fisik bola.
"Maar het is een stuiterbal!" respons Perez.
Ia berseloroh bahwa kegagalan kontrol bola yang dialami kedua tim sepanjang paruh pertama lebih disebabkan oleh faktor teknis kualitas bola.
"Het is een dramatische bal om mee te voetballen. Hij stuitert, je ziet het ook. Ze kunnen toch niet allemaal zo" bad traptechniek hebben. Dus het ligt aan de bal. Dat moet haast wel" kelakar Perez.
Selain menyoroti masalah teknis bola, Perez mengecam regulasi penerapan jeda minum oleh wasit yang dianggapnya terlalu memanjakan pemain di tengah suhu udara 26 derajat Celsius.
"Heel zware omstandigheden" sindir Perez.
Perez menyatakan ketidaksetujuannya terhadap penghentian laga yang tidak mendesak karena dinilai dapat memperlemah pembentukan mentalitas ketangguhan fisik para pemain profesional.
"Het is toch helemaal niet warm?!" cetus Perez merasa heran.
Perez mendesak adanya perubahan regulasi interupsi pertandingan pada musim-musim mendatang guna membangun karakter kompetisi yang lebih kompetitif.
"Hoezo hebben we drinkpauzes nodig? Wat zijn we toch allemaal aan het betuttelen? Echt, jongen. Dit moet zó anders! Dit jaar heeft toch laten zien dat we het niet op deze manier verder moeten doen. Mannen! We moeten harde mannen creëren, die ergens tegen kunnen. Een drinkpauze! Echt, ik word er gek van." pungkas Perez.
Pemenang akhir dari laga final play-off ini dijadwalkan berhak melaju ke babak kualifikasi kedua turnamen Conference League yang akan dimulai pada 23 Juli mendatang.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow