Antoine Sibierski Evaluasi Jendela Transfer Musim Panas RSC Anderlecht

Smallest Font
Largest Font

Antoine Sibierski, Direktur Olahraga RSC Anderlecht, mengevaluasi jendela transfer musim panas klub yang berlangsung sibuk dengan kedatangan sebelas pemain baru dan kepergian lima belas pemain. Proses tersebut terjadi di markas Anderlecht, Neerpede, saat klub juga memperkenalkan pelatih baru dan staf teknis yang diperbarui pada musim 2026/2027.

Selama musim panas 2026, Anderlecht melakukan perubahan signifikan untuk memperkuat skuadnya. Kedatangan pemain baru bertujuan membangun tim yang solid dan seimbang antara pemain muda dan berpengalaman. Sementara itu, perombakan pemain keluar menjadi bagian dari strategi klub untuk menyelaraskan komposisi tim.

"Jendela transfer selalu sangat intens. Kali ini bahkan lebih karena banyak perubahan yang harus dilakukan. Ini bukan soal sekadar mengganti pemain, tapi membangun skuad," ujar Antoine Sibierski, Direktur Olahraga RSC Anderlecht.

"Pemain yang datang harus saling melengkapi dan juga melengkapi pemain yang sudah ada di klub. Jendela transfer adalah usaha kolektif bersama departemen pencarian bakat dan Kenneth Bornauw," tambahnya.

Selain aktivitas transfer, Anderlecht juga meningkatkan pendekatan pencarian pemain dengan memodernisasi sistem scouting dan analisis data. Di bawah arahan David Verwilghen dan Hugo Rios-Neto, klub menggabungkan hasil observasi pencari bakat tetap dan freelance dengan data statistik, mengikuti praktik klub-klub Belgia lain yang lebih dulu mengadopsi metode ini.

"Kami telah memperjelas pembagian kerja berdasarkan pasar. Erik Zetterberg bertanggung jawab untuk Skandinavia, dan Abdou Cissokho untuk Afrika. Ketika kami butuh tipe pemain tertentu, dibuat daftar pendek sepuluh kandidat untuk efisiensi dan mengurangi risiko," kata sumber internal Anderlecht.

Dalam perkembangan terkait, Kais Barry, pemain belakang muda berusia 20 tahun di Anderlecht, telah memutuskan untuk mewakili tim nasional Maroko dalam karier internasionalnya. Meski memiliki darah Ivorian dan Belgia, Barry memilih Maroko, mengabaikan peluang membela Pantai Gading, negara asal ayahnya yang juga mantan kiper internasional.

"Kais Barry memilih untuk mewakili Maroko di tingkat internasional," lapor Almountakhab. Pemain ini sebelumnya pernah membela Belgia di level muda hingga U19.

Keputusan Kais Barry menjadi sorotan karena ayahnya, Copa Barry, merupakan bagian dari tim Pantai Gading yang menjuarai Piala Afrika 2015. Pilihan ini menegaskan preferensi pemain muda tersebut terhadap identitasnya di kancah internasional.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed