IBL dan I League Dorong Ekonomi Melalui Kompetisi Olahraga Nasional

Smallest Font
Largest Font

IBL dan I League menyoroti pentingnya kompetisi olahraga sebagai penggerak ekonomi pada Talk Show Ekosistem Kompetisi Olahraga Nasional di Indonesia Sports Summit (ISS) 2026, yang digelar di Cendrawasih Hall, JICC Senayan, Jakarta, Minggu (13/9/2026).

Diskusi menghadirkan Teddy Tjahjono (CEO Indonesia Women's League), Asep Saputra (Direktur Kompetisi I League), Junas Miradiarsyah (Direktur Utama IBL), dan Andri Paranoan (CEO Indonesian Padel League).

Asep Saputra menilai Indonesia memiliki modal besar melalui jumlah penduduk dan minat masyarakat yang tinggi terhadap olahraga. "Big passion, tapi juga ada bigger opportunity. Ada hal-hal yang ingin kita gali dan itu membutuhkan kolaborasi semua pihak," ujar Asep.

Berdasarkan data Kemenpora, estimasi belanja olahraga di Indonesia mencapai Rp39 triliun, namun kontribusinya terhadap perekonomian nasional baru sekitar 0,19 persen pada 2024. Asep menilai efek ekonomi pertandingan meluas ke sektor transportasi, perjalanan, akomodasi, kuliner, dan aktivitas ekonomi masyarakat di daerah. "Ekonomi impact yang baik itu tidak bisa tercipta otomatis, kita harus desain," tambahnya.

I League mendorong transformasi operator liga menjadi pembangun ekosistem olahraga dengan prinsip "Better competition, bigger audience, greater value," kata Asep.

Junas Miradiarsyah menjelaskan perubahan format kompetisi IBL dari sistem series ke sistem home and away pada 2023 yang membawa peningkatan jumlah penonton hingga 400 persen. "Penonton naik 400 persen dari format series ke format home and away. Ini merupakan indikator bahwa insyaallah kita sudah mengarah ke yang lebih tepat," ujar Junas pada acara yang sama.

Skala kompetisi IBL juga meningkat signifikan, dari 28 pertandingan selama tujuh hari menjadi sekitar 150 pertandingan dalam periode lebih dari 150 hari.

Junas menegaskan pembangunan industri olahraga membutuhkan orkestrasinya sebagai ekosistem yang melibatkan klub, penonton, sponsor, komunitas, mitra bisnis, hingga produk turunan. IBL juga mengembangkan kolaborasi dan produk pendukung seperti IBL TV serta program untuk generasi muda.

Minat terhadap basket di kalangan anak muda Indonesia mencapai lebih dari 80 persen, menurut Junas. "Ini adalah potensi yang sangat luar biasa untuk kita kembangkan bersama-sama," katanya.

Junas menekankan pengembangan industri basket harus menyeluruh, mulai dari klub, kompetisi, komunitas, sponsor, media, hingga intellectual property olahraga untuk menciptakan nilai berkelanjutan.

IBL menargetkan Indonesia menjadi kekuatan basket di Asia Tenggara dengan memperkuat prestasi dan menciptakan nilai ekonomi lebih besar melalui pengembangan liga dan elemen pendukungnya.

Kolaborasi lintas pemangku kepentingan menjadi kunci penguatan ekosistem olahraga nasional, menurut Asep dan Junas. Asep menyatakan, "Pemerintah, sektor swasta, klub, komunitas, dan UMKM harus berjalan bersama agar manfaatnya dirasakan lebih luas." Ia menambahkan, dengan basis penonton kuat dan jaringan pelaku terlibat, efek domino ekonomi dapat dipercepat.

Indonesia memiliki peluang menjadikan olahraga sebagai industri bernilai tinggi dengan basis penggemar besar dan kompetisi profesional yang berkembang. Tantangannya adalah merancang ekosistem berkelanjutan agar dampak ekonomi tidak hanya sesaat.

Melalui kompetisi berkualitas, jangkauan audiens yang lebih besar, dan keterlibatan sektor ekonomi luas, pertandingan olahraga diharapkan menghasilkan pertumbuhan ekonomi signifikan di luar lapangan.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed