Argentina Melaju ke Final Piala Dunia 2026 Tantang Spanyol

Smallest Font
Largest Font

Tim nasional Argentina berhasil mengamankan tiket ke babak final Piala Dunia 2026 setelah menumbangkan Inggris dengan skor tipis 2-1 pada laga semifinal di Stadion Mercedes-Benz, Atlanta, Amerika Serikat, Kamis, 16 Juli 2026 dini hari WIB.

Kemenangan dramatis Albiceleste tersebut dipastikan lewat dua assist Lionel Messi yang sukses dikonversi menjadi gol oleh Enzo Fernandez dan Lisandro Martinez pada menit-menit akhir pertandingan. Hasil ini mengantarkan Argentina menantang Spanyol di partai puncak sekaligus menjaga asa mempertahankan gelar juara dunia berturut-turut.

Pertandingan semifinal tersebut juga diwarnai ketegangan setelah gelandang Argentina, Leandro Paredes, menyikut kepala Elliot Anderson pada awal laga namun hanya berujung pelanggaran biasa tanpa kartu dari wasit Ismail Elfath.

"Pertandingan yang baru dimulai dan Paredes sudah melakukan pelanggaran berat tanpa alasan. Memalukan. Lalu Inggris juga, ya...

Bukan sepakbola. Hanya pelanggaran!" kata Tardelli, mantan pemain Juventus dan Inter Milan kepada Rai 1.

Tardelli juga mempertanyakan keputusan penugasan wasit asal Amerika Serikat tersebut yang dinilainya tidak berkompeten memimpin pertandingan krusial.

"Wasit itu tidak melakukan apa pun. Sungguh luar biasa, saya ingin tahu siapa yang menempatkannya di sana. Apa hubungannya wasit Amerika dengan pertandingan ini? Dia tidak becus," sambung Tardelli.

Kekecewaan serupa diungkapkan oleh legenda AS Roma, Paulo Roberto Falcao, yang menilai tindakan Paredes merupakan sebuah bentuk kekerasan yang seharusnya diganjar kartu merah langsung.

"Pada satu titik seseorang melayangkan pukulan dan wasit bahkan tidak memberikan kartu merah. Sungguh mengejutkan!" kata Falcao.

Ia menambahkan bahwa insiden tersebut sangat kasar dan tidak sepantasnya terjadi dalam pertandingan sepak bola profesional.

"Ini adalah penyerangan, bukan pelanggaran biasa. Pukulan itu pantas mendapatkan kartu merah, pukulan yang sangat keras. Saya belum pernah melihat hal seperti ini di sepakbola. Jika terus seperti ini, pasti tidak akan berakhir sebelas lawan sebelas," tegas Falcao.

Di kubu Inggris, penyerang Anthony Gordon mengekspresikan kekagumannya terhadap performa luar biasa Lionel Messi yang menjadi inspirator kemenangan Argentina meskipun dirinya merasa sangat kecewa atas kegagalan negaranya.

"Aku sudah bertahun-tahun menonton Leo Messi membuat perbedaan untuk Barcelona. Hari ini, aku akhirnya menyadari bahwa dia bahkan lebih baik dari yang kubayangkan," kata Gordon.

Pemain berusia 25 tahun itu mendoakan agar Messi bisa kembali mengangkat trofi juara dunia bersama Argentina sebagai penghormatan terhadap dedikasinya.

"Aku sangat hancur karena Inggris tersingkir. Namun, setidaknya jika Messi juara Piala Dunia, trofi itu akan dimiliki oleh seseorang yang mencintai Barcelona sepenuh hati," Anthony Gordon menambahkan dikutip Truescorenet.

Pertemuan Argentina dan Spanyol di babak final juga menyajikan kisah reuni emosional antara pelatih Lionel Scaloni dan mentornya, Luis de la Fuente, yang pernah membimbing Scaloni saat mengikuti kursus kepelatihan di Las Rozas pada tahun 2017.

"Luis telah sangat membantu kami yang mengikuti kursus kepelatihan di Las Rozas. Saya telah mengobrol dengannya dan saya mendoakan yang terbaik untuknya," kata Scaloni mengenang bantuan De la Fuente.

Scaloni mengekspresikan kekagumannya terhadap filosofi kepelatihan serta metode pendekatan personal yang diterapkan De la Fuente pada skuad Spanyol saat ini.

"Saya ingin Spanyol berprestasi (di Euro) dan dia banyak membantu kami yang mengikuti kursus (kepelatihan) di Las Rozas."

Ia juga menambahkan bahwa para pemain Spanyol menunjukkan komitmen tertinggi di bawah kepemimpinan pelatih berusia 65 tahun tersebut.

"Saya suka cara dia mengelola berbagai hal dan bagaimana para pemain memberikan yang terbaik fornya," imbuh Scaloni.

Hubungan dekat Scaloni dengan Spanyol didukung faktor personal karena istri dan anak-anaknya menetap di Mallorca, serta sejarah kariernya yang lama di La Liga.

"Sebagian keluarga saya adalah orang Spanyol dan, tentu saja, saya mendukung Spanyol (di Euro)," kata Scaloni pada 2024.

Setelah memastikan tempat di final, Scaloni langsung mengirimkan pesan selamat kepada De la Fuente dan melontarkan candaan mengenai komunikasi mereka sebelum laga penentu juara.

"Jika keadaan tidak berjalan baik bagi kami, saya akan menghubunginya. Jika kami bermain melawannya di final ... tidak. Semoga tidak ada panggilan telepon sampai setelah final ..." kata Scaloni.

Laga final ini juga mempertemukan Lionel Messi dengan bintang muda Spanyol Lamine Yamal yang memiliki sejarah unik sejak Yamal masih bayi berusia lima bulan.

"Ini adalah sebuah keajaiban takdir yang nyata," ungkap Monfort kepada BBC Sport.

FotograferJoan Monfort menceritakan bahwa sesi foto ikonik pada 2007 di Camp Nou tersebut terjadi secara kebetulan melalui program undian amal Unicef dan surat kabar Sport.

"Saya sama sekali tidak tahu kalau bayi di foto itu adalah Lamine, sampai salah seorang teman menelepon saya pada tahun 2024 dan memberi tahu bahwa ayahnya telah mengunggah foto tersebut di Instagram," jelas Monfort.

Monfort mengenang bagaimana canggungnya Messi yang saat itu masih berusia 20 tahun ketika harus berhadapan dengan bayi kecil di ruang ganti.

"Messi adalah orang yang sangat introver, sangat pemalu dan canggung. Dia masuk ke ruang ganti dan tiba-tiba harus berfoto dengan seorang bayi mungil—bukan anak-anak ya, benar-benar bayi yang masih sangat kecil—dan ekspresi wajahnya langsung berubah seolah dia bingung harus berbuat apa! Memang sulit bagi seorang pemuda seusianya saat itu, tetapi Lamine adalah bayi kecil yang sangat ceria dan murah senyum.

Ibunya, Sheila, banyak membantu kami. Dia masih sangat muda dan mereka adalah keluarga yang sangat miskin, tetapi mereka sangat menyenangkan diajak bekerja sama. Messi sendiri selalu profesional dalam hal-hal seperti ini, dan dia bisa beradaptasi dengan situasi tersebut dengan sangat cepat," urai Monfort.

Lamine Yamal tumbuh besar di pemukiman kelas pekerja Rocafonda dan selalu mendedikasikan pencapaian kariernya untuk perjuangan berat kedua orang tuanya.

"Apa yang telah dilakukan ibu dan ayah saya, saya rasa saya tidak akan sanggup melakukan pengorbanan sebesar itu untuk siapa pun yang bukan anak kandung saya sendiri," ungkap Yamal kepada El Pais.

Yamal menyadari sepenuhnya bahwa tanpa pengorbanan finansial dari keluarganya, ia tidak akan pernah bisa mencapai level tertinggi di dunia sepak bola seperti saat ini.

"Jika Anda tidak memiliki uang, sangat sulit untuk mendukung anak Anda bermain sepak bola. Namun, orang tua saya berhasil mewujudkan semua itu. Ini adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa saya balas seumur hidup," tegas Yamal.

Pertandingan final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina dijadwalkan menjadi panggung pertemuan perdana kedua generasi emas Barcelona tersebut di lapangan hijau.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed