AS Pertimbangkan Serangan Nuklir Terbatas ke Iran di Tengah Ketegangan

Smallest Font
Largest Font

Amerika Serikat kini mempertimbangkan kemungkinan menggunakan serangan nuklir terbatas terhadap Iran sebagai opsi terakhir setelah upaya konvensional gagal menggulingkan kepemimpinan Teheran, menurut mantan penasihat antiterorisme presiden AS Joe Kent, Senin (31/8/2026). Kent menyatakan bahwa Presiden Donald Trump telah gagal mencapai tujuannya dalam konflik dengan Iran, dan jika Washington ingin memaksa penyerahan total, hanya tersisa dua opsi: operasi darat skala penuh atau serangan nuklir. Menurut Kent, operasi darat tidak layak karena luas wilayah dan populasi Iran, sehingga opsi nuklir terbatas yang menarget fasilitas pengayaan uranium bawah tanah menjadi realistis.

Podcaster Tucker Carlson mengkritik keras Trump karena mempertimbangkan penggunaan senjata nuklir dan menyatakan bahwa hal itu harus menjadi batas merah yang menyebabkan pemecatan presiden.

"Begitu seorang presiden secara aktif mempertimbangkan penggunaan senjata nuklir untuk pertama kalinya, orang tersebut harus segera dicopot dari jabatannya," ujar Carlson. Carlson juga mempertanyakan mengapa tidak ada upaya pemecatan saat ini meski wacana nuklir sudah muncul di pemerintahan Trump, yang sebelumnya ia dukung.

Trump sendiri belum pernah secara terbuka mengonfirmasi rencana menggunakan senjata nuklir, namun Pentagon sedang menyiapkan opsi nuklir yang kredibel bagi presiden dan Menteri Pertahanan. Ketegangan meningkat dengan pengumuman operasi ekonomi agresif oleh Trump yang disebut "Hari-H Ekonomi" untuk menjatuhkan Iran, diikuti oleh sanksi baru terhadap hampir 60 entitas, termasuk yang beroperasi di China.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa sanksi ini bertujuan menjadikan Iran paria ekonomi dan menghukum entitas yang membantu pencucian uang bagi Iran. Sementara itu, di Iran, parlemen kembali membahas kemungkinan menarik diri dari Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) sebagai respons terhadap tekanan ekonomi AS yang meningkat. Anggota parlemen Ghasem Ravanbakhsh mengatakan usulan penarikan diri sedang dipertimbangkan, dan Ebrahim Rezaei menyebutnya sebagai respons terbaik terhadap sanksi AS.

Namun, analis seperti Behrooz Bayat menilai penarikan diri akan meningkatkan tekanan politik dan risiko militer, serta menghambat kerja sama nuklir sipil Iran.

Bayat menyatakan bahwa ancaman keluar dari NPT lebih berguna sebagai alat tawar-menawar diplomatik daripada kebijakan nyata. Militer Iran menegaskan kebutuhan senjata nuklir sebagai pencegah terhadap tindakan agresif Israel, dengan juru bicara Ebrahim Zolfaghari menyebut senjata itu diperlukan untuk melawan "kegilaan" Israel. "Dia (Netanyahu) telah menghancurkan Gaza, Palestina, dan Lebanon, dan sekarang dia mencoba menghancurkan Iran. Oleh karena itu, kita membutuhkan senjata nuklir untuk melawan kegilaannya," ujar Zolfaghari.

Washington tetap menegaskan pencegahan Iran memperoleh senjata nuklir sebagai prioritas utama, dengan Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan tujuan tersebut dan mengumumkan operasi militer dan ekonomi untuk menghancurkan kemampuan Iran.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed