Badan Geologi Identifikasi Potensi Likuefaksi Gempa NTT
Badan Geologi Kementerian ESDM mengidentifikasi potensi bahaya ikutan berupa gerakan tanah hingga likuefaksi pascadampak guncangan gempa bumi bermagnitudo 7,7 berkedalaman 15 kilometer di Nusa Tenggara Timur pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Indikasi ancaman bencana susulan tersebut ditemukan berdasarkan bukti dokumentasi foto di lapangan yang menampilkan keruntuhan sebagian struktur bangunan, retakan dinding, hingga kemunculan semburan air dari dalam tanah. "Selain dampak langsung berupa guncangan, kami juga mengidentifikasi adanya beberapa bahaya ikutan, di antaranya adalah tsunami, gerakan tanah, retakan tanah, serta indikasi likuefaksi," kata Lana Saria, Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM di Bandung.
Laporan dari kawasan Waekokak–Mbay mencatat kemunculan air keluar dari permukaan tanah usai guncangan terjadi, sedangkan pengamatan di Bonea, Selayar, mengonfirmasi kemunculan tsunami berskala kecil.
"Perlu saya tekankan bahwa analisis ini merupakan analisis cepat dan menjadi dasar untuk menentukan lokasi yang perlu diprioritaskan dalam verifikasi lapangan," kata Lana. Badan Geologi menjelaskan fenomena keluarnya air di Waekokak–Mbay diduga kuat berhubungan dengan kemunculan semburan air berpasir atau sand boil sebagai indikator awal likuefaksi.
"Namun demikian, kesimpulan final tetap membutuhkan identifikasi dan pemeriksaan langsung di lapangan," ucap Lana. Pengaruh guncangan terhadap tanah pondasi bangunan diperkirakan berada pada skala rendah hingga sedang serta tidak memperlihatkan karakteristik likuefaksi masif bergerak jauh seperti yang pernah melanda Palu.
"Hasil penyelidikan ini selanjutnya akan kami sampaikan kepada pemerintah daerah dan para pemangku kebijakan sebagai dasar dalam penanganan darurat maupun langkah mitigasi selanjutnya," ucap Lana. Guna memverifikasi temuan tersebut secara langsung, Badan Geologi menjadwalkan pengiriman Tim Penyelidikan Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi ke lokasi terdampak untuk melakukan kaji cepat. "Ke depan, penerapan kaidah bangunan tahan gempa harus menjadi bagian penting dari upaya mitigasi di wilayah rawan," tutur Lana.
Masyarakat mengimbau warga agar tetap tenang, menghindari lereng tebing rawan longsor saat hujan, memeriksa keutuhan struktur bangunan, serta selalu mengikuti instruksi resmi dari BPBD setempat.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow