Bandara Komodo Batasi Area Operasional Pasca Gempa Nagekeo

Smallest Font
Largest Font

Operasional Bandara Internasional Komodo di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur diberlakukan secara terbatas usai guncangan gempa bumi magnitudo 7,7 yang berpusat di Nagekeo pada Sabtu, 15 Agustus 2026, sebagaimana dilansir dari Detik Travel. Pembatasan tersebut diterapkan akibat ditemukannya retakan pada salah satu area landas hubung atau taxiway serta kerusakan pada sejumlah fasilitas bangunan terminal, meski area landasan pacu dan apron dipastikan tetap aman digunakan. Pemeriksaan menyeluruh terhadap personel, fasilitas, dan seluruh area bandara langsung dilakukan sesaat setelah guncangan untuk memastikan keselamatan penerbangan.

"Bandara Internasional Komodo, Labuan Bajo, tetap melaksanakan operasional penerbangan dengan pembatasan pada area tertentu pascakejadian gempa bumi magnitudo 7,7," kata Kepala Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Komodo, Ceppy Triono, Sabtu (15/8) malam.

Tim teknis bandara segera melakukan pengamanan serta identifikasi tingkat kerusakan pada area terdampak, termasuk Fire Station, gedung administrasi, dan terminal sisi darat. "Sebagai langkah antisipasi dan untuk menjamin keselamatan penerbangan, area tersebut untuk sementara dilakukan pembatasan dan pemeriksaan teknis lebih lanjut sebelum dapat digunakan kembali secara normal," kata Ceppy.

Upaya pemulihan terus dilakukan secara bertahap dengan memprioritaskan keselamatan pengguna jasa penerbangan. "Khusus pada area terminal, upaya percepatan pemulihan terus dilakukan agar pelayanan kepada masyarakat dan pengguna jasa penerbangan dapat tetap berlangsung," kata Cheppy.

Langkah koordinasi dan mobilisasi sumber daya juga dijalankan bersama pihak terkait demi mengoptimalkan area terminal yang masih aman. "Penataan area, pembersihan, pengamanan fasilitas, serta pemeriksaan teknis dilakukan secara bertahap dengan tetap memastikan setiap bagian yang digunakan telah memenuhi aspek keselamatan dan kelayakan," dia menambahkan. Pihak pengelola bandara memfokuskan seluruh penanganan pada standar kelayakan penerbangan.

"Keselamatan adalah prioritas utama kami. Setelah gempa terjadi, kami langsung bergerak melakukan pemeriksaan dan pengamanan terhadap seluruh fasilitas yang terdampak. Di sisi lain, kami juga terus melakukan percepatan pemulihan, khususnya pada area terminal, agar pelayanan kepada masyarakat tetap dapat berjalan sebaik mungkin," kata Cheppy.

Pengelola tetap mengedepankan ketelitian dalam proses penanganan fasilitas penerbangan. "Prinsip kami adalah cepat dalam menangani, tetapi tetap tepat dan tidak mengabaikan aspek keselamatan," dia menambahkan. Selain kerusakan fisik, sistem kelistrikan PLN sempat padam sehingga operasional bandara terpaksa menggunakan genset pasokan listrik cadangan, sementara fasilitas navigasi dan komunikasi dipastikan tetap berfungsi normal.

"Kami memahami bahwa kondisi seperti ini dapat menimbulkan kekhawatiran bagi masyarakat dan pengguna jasa. Karena itu, kami memastikan bahwa setiap keputusan operasional diambil berdasarkan hasil pemeriksaan dan pertimbangan keselamatan," kata Cheppy.

Informasi berkala mengenai kondisi operasional bandara akan terus disampaikan secara resmi kepada publik. "Kami juga akan terus memberikan informasi perkembangan kondisi bandar udara secara terbuka melalui kanal komunikasi resmi," kata dia.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat sejumlah gempa susulan masih mengguncang wilayah NTT, termasuk gempa magnitudo 5,2 dan magnitudo 3,3 di Ruteng, Manggarai, pada Minggu, 16 Agustus 2026 pagi yang tidak berpotensi tsunami.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed