BNPB Meluruskan Video Wawancara Bencana Gempa NTT di Rumah Makan
Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan memberikan klarifikasi atas beredarnya video wawancara siaran langsung penanganan gempa Nusa Tenggara Timur dari sebuah rumah makan dekat Bandara Labuan Bajo pada Kamis, 20 Agustus 2026 pukul 20.00 WIB.
Video berdurasi pendek yang tersebar di media sosial tersebut memicu spekulasi warganet yang menganggap posisi pejabat Badan Nasional Penanggulangan Bencana tidak berada di lokasi bencana serta dinilai kurang selaras dengan suasana operasi darurat.
Berton mengonfirmasi bahwa pejabat dalam rekaman tersebut adalah dirinya yang tengah menjalankan fungsi komunikasi publik secara langsung dengan stasiun televisi swasta nasional di luar jam kerja kantor.
"Kami memahami adanya video yang beredar dan persepsi yang kemudian muncul di media sosial. Namun perlu kami luruskan konteksnya. Pada saat video tersebut dilakukan, pejabat BNPB yang bersangkutan sedang menjalankan tugas komunikasi publik, yaitu memberikan wawancara secara langsung kepada salah satu televisi swasta nasional mengenai perkembangan penanganan gempa NTT. Kegiatan tersebut dilakukan pada malam hari, di luar jam kerja kantor," kata Plt Kapusdatin BNPB Berton SP Panjaitan.
Ia menerangkan bahwa posisi rumah makan tempatnya mengambil siaran berjarak sangat dekat dari Bandara Labuan Bajo, lokasi yang menjadi pusat penting penampungan serta pemindahan bantuan logistik untuk daerah Flores bagian barat.
"Kita perlu melihat konteks lokasi tersebut. Labuan Bajo pada saat itu bukan sekadar tempat persinggahan, tetapi merupakan salah satu simpul penting operasi BNPB, termasuk penerimaan dan distribusi logistik untuk wilayah Flores bagian barat," ujar Berton SP Panjaitan.
Penjelasan tersebut disampaikan untuk mengikis anggapan publik bahwa keberadaannya di rumah makan mencerminkan tindakan bersantai di tengah penanganan darurat bencana.
"Jadi, keberadaan seseorang di tempat tersebut tidak dapat langsung diartikan bahwa yang bersangkutan sedang tidak bekerja atau tidak berada dalam rangkaian operasi penanganan bencana," sambung Berton SP Panjaitan.
Pihak BNPB juga menguraikan bahwa pola penanganan bencana darurat menuntut respons komunikasi, evaluasi data, serta koordinasi teknis yang berlangsung intensif sepanjang hari tanpa terikat jam kerja resmi.
"Kami juga perlu membedakan antara personel yang memiliki tugas lapangan secara langsung dengan pejabat yang menjalankan fungsi koordinasi dan komunikasi. Keduanya merupakan bagian dari satu sistem penanganan bencana," tutur Berton SP Panjaitan.
Area rumah makan di sekitar bandara dipilih sebagai lokasi siaran langsung guna mengantisipasi gangguan audio, mengingat area posko utama dipadati berbagai kegiatan operasional pendistribusian logistik.
"Kebetulan saya berada di sekitar Labuan Bajo, dan rumah makan tersebut lokasinya dekat dengan bandara yang menjadi salah satu titik Pos Pendukung Logistik BNPB," kata Berton SP Panjaitan.
Sebelum sesi wawancara dimulai, Berton memanfaatkan waktu untuk bersantap malam sembari melakukan pemantauan data serta koordinasi internal di luar jam kerja kantor.
"Jadi, bukan dalam konteks sedang bersantai atau meninggalkan tugas. Justru pada saat itu saya tetap menjalankan tugas komunikasi publik, dan wawancara tersebut dilakukan di luar jam kerja, sudah sekitar pukul delapan malam lewat," ungkap Berton SP Panjaitan.
Kondisi tempat wawancara di posko dianggap kurang kondusif untuk siaran langsung televisi karena dinamika pergerakan tim di lapangan.
"Kenapa tidak dari posko saja? Pada saat itu kami membutuhkan tempat yang cukup tenang untuk melakukan live report agar komunikasi dengan televisi berjalan baik," ujar Berton SP Panjaitan.
Aktivitas logistik serta alur koordinasi di posko utama terus berjalan tanpa henti sehingga siaran dilakukan dari lokasi terdekat yang memadai.
"Posko juga merupakan tempat kerja yang dinamis dengan aktivitas logistik dan koordinasi yang berlangsung terus-menerus. Karena itu kami memilih lokasi terdekat yang memungkinkan wawancara berlangsung dengan baik," sambung Berton SP Panjaitan.
BNPB mengimbau masyarakat agar tidak langsung mengambil kesimpulan dari potongan video pendek di media sosial tanpa memahami konteks kejadian yang sebenarnya.
"Yang paling penting, pada saat itu yang bersangkutan sedang menyampaikan informasi kepada masyarakat mengenai penanganan gempa NTT. Kami tidak ingin masyarakat mendapatkan informasi yang keliru hanya karena melihat potongan video tanpa konteks," pungkas Berton SP Panjaitan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow