BCA Cetak Laba Rp20,8 Triliun dan Alihkan Dana ke Surat Berharga
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) membukukan laba bersih individual sebesar Rp20,81 triliun hingga April 2026, tumbuh 3,00 persen secara tahunan ditengah kebijakan manajemen menahan laju ekspansi penyaluran kredit sepanjang tahun ini.
Dilansir dari Investor Daily, pertumbuhan profitabilitas bank swasta terbesar di Indonesia tersebut tetap terjaga berkat langkah mitigasi risiko melalui pengalihan dana ke instrumen yang lebih aman.
Penyaluran kredit BCA tercatat melambat selama empat bulan berturut-turut pada tahun 2026 dengan hanya tumbuh 4,54 persen secara tahunan atau 0,30 persen secara bulanan menjadi Rp965,01 triliun.
Realisasi pencapaian penyaluran kredit tersebut semakin menjauhi target pertumbuhan tahunan yang telah dipatok oleh pihak manajemen perusahaan sebesar 8 hingga 10 persen secara tahunan.
Sikap kehati-hatian manajemen diwujudkan dengan mengalihkan dana ke penempatan surat berharga yang tumbuh 17,55 persen secara tahunan menjadi Rp425,41 triliun serta penempatan di bank lain yang naik 40,40 persen menjadi Rp24,61 triliun.
Kebijakan konservatif ini berdampak pada penurunan beban provisi sebesar minus 16,22 persen secara tahunan menjadi Rp1,06 triliun, sehingga menekan rasio biaya kredit atau cost of credit ke level sangat rendah yaitu 0,33 persen atau 23 bps.
Berdasarkan riset Ciptadana Sekuritas Asia, pencapaian laba bersih emiten berkode saham BBCA ini dinilai sejalan dengan estimasi analis di level 34 persen dari target tahun 2026, sedikit lebih tinggi dari rata-rata historis sebesar 32 persen.
Meskipun penyaluran kredit melambat, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) BCA masih tumbuh agresif sebesar 8,56 persen secara tahunan menjadi Rp1.246,05 triliun pada empat bulan pertama 2026.
Total penghimpunan dana pihak ketiga tersebut didominasi oleh perolehan giro sebesar Rp432,68 triliun dan tabungan senilai Rp626,14 triliun, sementara pos deposito mengalami penurunan menjadi Rp187,22 triliun.
Kombinasi antara penahanan ekspansi kredit dan penghimpunan dana yang kuat menjaga rasio dana murah (CASA) tetap solid di angka 84,97 persen, dengan loan to deposit ratio (LDR) stabil sebesar 77,45 persen.
Di sisi lain, analisis fundamental menunjukkan tingkat return on equity (ROE) tetap terjaga di atas 20 persen dengan valuasi saham BBCA saat ini diperdagangkan pada 2,4x PBV dan 11,7x PE estimasi 2026.
Ciptadana Sekuritas Asia memberikan rekomendasi Buy untuk saham BBCA dengan patokan target harga sebesar Rp9.200 per lembar saham.
Pada penutupan perdagangan pasar saham hari Senin, harga saham BBCA terpantau mengalami penguatan tipis sebesar 0,41 persen ke posisi 6.125 dengan nilai transaksi harian mencapai Rp1,25 triliun.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow