BMKG Catat 12 Ribu Gempa Susulan Flores Pengungsi Capai 166 Ribu
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 12.064 gempa susulan mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, hingga Jumat (4/9/2026) pukul 05.00 WIB. Rangkaian guncangan terjadi usai gempa utama bermagnitudo 7,7 melanda kawasan tersebut pada 15 Agustus 2026.
Data BMKG menunjukkan sebanyak 36 gempa susulan berkekuatan di atas magnitudo 5 dan 172 getaran dirasakan langsung oleh masyarakat. Gempa susulan terbesar mencapai M6,2, sementara guncangan terkecil berada di skala M0,9. Aktivitas seismik ini berpusat di wilayah utara Flores yang masuk dalam kawasan sumber gempa aktif Flores Back Arc Thrust.
Dampak bencana yang dihimpun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Kamis (3/9/2026) mencatat 127 korban jiwa, 1.712 warga luka-luka, serta 166.829 jiwa masih mengungsi. Kabupaten Manggarai mencatat angka kematian tertinggi yakni 51 orang, diikuti Manggarai Timur 40 orang, Nagekeo 20 orang, Sikka dan Ngada masing-masing 6 orang, Ende 3 orang, serta Manggarai Barat 1 orang.
Kerusakan infrastruktur secara keseluruhan mencapai 95.567 unit rumah, terdiri atas 46.161 rusak ringan, 21.992 rusak sedang, dan 27.414 rusak berat. Berdasarkan pemetaan peta isoseismal BMKG, tingkat intensitas guncangan gempa berada pada kisaran III hingga VII MMI, dengan intensitas terkuat berdampak di Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, dan Sikka.
Hampir tiga pekan pascabencana, ratusan warga masih memilih bertahan di tenda-tenda darurat. Salah satu pengungsi di Posko Golo Conggo, Erniwati, mengaku belum berani kembali ke tempat tinggalnya di Kelurahan Reo karena trauma serta rumahnya yang hancur.
"Mau ke kanan takut karena ada rumah tetangga yang roboh, mau ke kiri juga takut ada rumah tetangga yang roboh juga. Akhirnya kami duduk di depan rumah," kata Erniwati saat ditemui Kompas.com di Posko Golo Conggo, Rabu (2/9/2026).
Erniwati menceritakan bahwa bagian atas bangunan rumahnya runtuh tidak lama setelah ia dan keluarganya berhasil menyelamatkan diri ke halaman.
"Untungnya seng itu robohnya ke dalam. Seandainya keluar, kami lima orang itu meninggal," ujar Erniwati.
Kecemasan Erniwati kian bertambah setelah menyaksikan fenomena air laut di aliran sungai sekitar tempat tinggalnya yang sempat surut lalu meluap cepat setelah gempa.
"Kalau tidur selalu dibayang," kata Erniwati.
Selain menghadapi kondisi fisik tenda yang panas saat siang dan dingin pada malam hari, Erniwati harus membeli sendiri kebutuhan susu formula untuk anaknya yang berusia 22 bulan karena stok bantuan posko tidak cocok.
"Selama hampir tiga minggu ini susunya dibeli," ujar Erniwati.
Ia berharap penanganan bencana segera selesai agar masyarakat terdampak dapat memperoleh kepastian bantuan dan hidup normal kembali.
"Harapan kami semoga bencana ini usai, biar kami bisa kembali ke tempat kami sendiri," kata Erniwati.
Kekhawatiran serupa diutarakan pengungsi lainnya, Maria Nasarita, yang mengkhawatirkan keselamatan struktur bangunan rumah warga meskipun terlihat masih berdiri.
"Memang bagus juga di sini, tapi cuma sementara. Makan minum kita jamin, air jamin. Yang bagaimana kalau balik?
Itu yang kami sedih. Masih trauma," kata Maria Nasarita.
Maria menambahkan bahwa penanganan jangka panjang sangat dibutuhkan oleh masyarakat yang kehilangan tempat tinggal.
"Kami inginkan dari hati kami, contohnya rumah," ucap Maria Nasarita.
Koordinator Posko Golo Conggo dari Palang Merah Indonesia (PMI), Eduardus Elsonko Osko, mengonfirmasi fluktuasi jumlah penghuni tenda pengungsian. Pendataan per 28 Agustus mencatat sebanyak 815 pengungsi menempati 99 tenda, mencakup 69 lansia, 454 dewasa, 87 remaja, 136 anak-anak, serta 100 balita.
“Pada pembaruan data 28 Agustus, jumlah pengungsi tercatat 815 orang,” kata Eduardus Elsonko Osko.
Eduardus menyebutkan sejumlah warga mulai kembali ke rumah tanpa melapor sehingga beberapa tenda tampak kosong.
"Karena memang kami lihat selama ini ada beberapa tenda yang kosong. Kemungkinan tenda-tenda yang kosong ini mungkin pengungsinya sudah pulang tetapi tidak sempat melaporkan di posko," kata Eduardus Elsonko Osko.
Upaya penanganan pascabencana terus dilakukan pemerintah daerah dan instansi pusat. Bupati Manggarai Barat Edistasius Endi mengonfirmasi bahwa pemerintah bertanggung jawab atas rehabilitasi dan rekonstruksi rumah warga yang rusak.
"Kami pastikan bahwa rumah warga kami bertanggung jawab penuh atas bangunan-bangunan yang rusak karena gempa. Pemerintah daerah yang dibantu Pemerintah Pusat bertanggung jawab penuh atas rumah warga yang terdampak," kata Edistasius Endi saat menerima kunjungan pimpinan PT Freeport Indonesia di Mbeliling, Selasa (1/9/2026).
Ia menambahkan, dua lokasi yakni Kampung Wae Dangka dan Kampung Robo sedang dipertimbangkan untuk opsi relokasi permukiman akibat potensi kerentanan tanah.
"Harus dipindahkan ke wilayah baru yang aman dari dampak bencana kemudian hari," kata Edistasius Endi.
Edistasius juga memaparkan kebutuhan mendesak yang masih diperlukan di lapangan.
"Namun, kami memang masih memerlukan dukungan tambahan berupa terpal dari total kebutuhan 10.757 unit serta pasokan selimut untuk menghadapi penurunan suhu cuaca," kata Edistasius Endi.
Dukungan logistik disalurkan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) bernilai Rp1,8 miliar berupa 20 ton beras, 2.000 selimut, 1.000 liter minyak goreng, 1.000 kg gula, 1.000 rak telur, 1.000 dus mi instan, serta obat-obatan ke Rutan Kelas IIB Ruteng, Kamis (3/9/2026).
"Mohon maaf Bapak Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan belum dapat hadir secara langsung, meskipun sejatinya beliau berkeinginan hadir. Mewakili Bapak Menteri, kami menegaskan kehadiran jajaran Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan sebagai bentuk kehadiran negara bagi masyarakat terdampak bencana, khususnya jajaran dan Warga Binaan Rutan Kelas IIB Ruteng serta masyarakat sekitar," kata Direktur Jenderal Pemasyarakatan Kemenimipas Mashudi.
Mashudi meninjau fisik rutan yang mengalami tembok keliling roboh dan kerusakan kamar hunian, yang mengakibatkan 132 warga binaan harus dievakuasi sementara ke Bajawa dan Ende.
"Kami telah menurunkan tim untuk melakukan asistensi dan penilaian terhadap bangunan Rutan Kelas IIB Ruteng yang rusak akibat bencana. Hasil penilaian akan segera ditindaklanjuti, termasuk kebutuhan pembangunan kembali dan penyusunan RAB," ucap Mashudi.
Ia menilai tingkat kerusakan struktur rutan tergolong berat.
"Kurang memungkinkan hanya ditata ulang," ujar Mashudi.
Dalam kunjungannya, Mashudi mengapresiasi keikutsertaan warga binaan yang membatu perbaikan darurat sarana rutan.
“Ini salah satu bentuk kepedulian dari Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan untuk hadir. Meskipun sedikit, tetapi ada rasa kepedulian kami sebagai keluarga besar Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan,” ujar Mashudi.
Ia juga memuji ketenangan para tahanan selama masa tanggap darurat.
“Warga binaan di sini luar biasa. Mereka tetap membantu bersama pegawai kami dan tukang untuk membangun kembali tembok yang roboh,” kata Mashudi.
Wakil Bupati Manggarai Fabianus Abu menyampaikan apresiasinya atas bantuan logistik dan penanganan infrastruktur pemasyarakatan tersebut.
“Atas nama Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai, Bapak Bupati dan seluruh masyarakat Manggarai, tentunya kami bersyukur dan berterima kasih atas kepedulian dan rasa persaudaraan yang diberikan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan kepada masyarakat kami yang terdampak gempa Flores,” ujar Fabianus Abu.
Fabianus menegaskan bahwa kehadiran bantuan tersebut memperkuat dukungan psikologis bagi warga terdampak.
“Dengan kehadiran Bapak, hati dan jiwa kami yang ada di Kabupaten Manggarai semakin dikuatkan. Kehadiran hari ini sungguh memberikan semangat baru bagi kami semua,” katanya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow