BMKG Laporkan Kualitas Udara Usai Erupsi Gunung Anak Krakatau

Smallest Font
Largest Font

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan analisis kualitas udara setelah erupsi Gunung Anak Krakatau berdasarkan pengamatan periode 1-7 September 2026, yang menunjukkan peningkatan partikel berbahaya di udara.

Konsentrasi PM 2.5 di Lampung dan Jakarta naik pada 5 September 2026 melebihi hari-hari sebelumnya, walau di Jakarta tingkat PM 2.5 sudah tinggi karena polusi perkotaan. Intrusi debu vulkanik yang tinggi terdeteksi pada 6 September dan berangsur turun pada 7 September.

"Kurva melandai mendekati level terendah, menandakan terjadinya peluruhan aerosol di atmosfer," tulis BMKG pada akun media sosial resmi mereka.

BMKG mengingatkan warga Jakarta untuk tetap waspada karena debu vulkanik bercampur dengan polusi kota, apalagi saat ini masih musim kemarau kering tanpa hujan yang membuat partikel berbahaya tertahan di udara.

"Apalagi saat ini kita masih berada di puncak musim kemarau yang kering. Belum turunnya hujan membuat campuran partikel berbahaya ini tertahan dan melayang lebih lama di udara," kata BMKG.

Berdasarkan data terkini per 8 September 2026 pukul 07.00 WIB dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) Darwin, dan citra satelit Himawari-9, debu vulkanik berada pada ketinggian sekitar 1,8 kilometer dan menyebar ke arah selatan-barat daya, mencakup sebagian Banten barat laut dan Samudra Hindia barat laut Banten.

Follow pdiperjuanganbali.id Add to preferred sources on Google
Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow

Most viewed